Syukur Komuni Pertama….
Minggu ini, Paroki kita ada sebanyak 81 anak menerima Komuni pertama. Penerimaan Sakramen Komuni Pertama adalah suatu syukur, tetapi sekaligus mengundang berbagai PR (Pekerjaan Rumah) bagi setiap keluarga Kristiani. Anak-anak kita bisa menjadi baik atau tidak, tidak datang secara instan, maka perlu pendampingan dari keluarga. Anak-anak belumlah cukup kalau hanya dididik di sekolah saja. Maka keluarga mempunyai peranan penting dalam proses perkembangan anak. Saat ini dengan berbagai media, perlu kita sadari bersama bahwa ada ”Krisis Nilai” dalam diri anak-anak dan keluarga Kristiani. Hal ini tampak dalam celoteh anak yang mengatakan secara spontan: ”Aku malas berdoa soalnya papa-mama kalau di rumah tidak pernah keliatan berdoa, papa-mama jarang ke Gereja, papa-mama tidak adil, papa sering marahi mama, mama-papa selalu bertengkar, papa-mama tidak pernah pergi ke lingkungan, dsb..dsb.....”
Keluarga sebagai Tempat Pendidikan Nilai
Melihat kenyataan-kenyataan kontradiktif dan tidak rasional seperti itu, muncul pertanyaan: Apa yang dapat dibuat di waktu kini dan akan datang untuk membentuk anak-anak dan keluarga Kristiani yang lebih bermutu dan berbudaya. Kita yakin bahwa usaha-usaha seperti itu bukanlah suatu secara instan. Upaya ini harus berjalan melalui proses panjang, tahap demi tahap, karena menyangkut banyak tuntutan perubahan radikal dalam banyak hal, antara lain dalam mentalitas, cara berfikir, cara bersikap, cara bertingkah laku.
Salah satu cara konkret yang bisa dibuat oleh setiap keluarga Kristiani untuk ikut membentuk manusia Indonesia yang bermutu dan berbudaya, yang tidak hanya cerdas dan beriman saja, tetapi juga berhati, berperasaan serta bermoral, antara lain adalah mendidik anak-anak mereka dalam bidang nilai-nilai yang dimulai sejak dini oleh orangtua (bukan hanya oleh ibunya saja atau oleh ayahnya saja, tetapi oleh kedua-duanya) di dalam keluarga. Mengapa oleh orangtua? Karena orangtualah yang meneruskan kehidupan kepada anak-anaknya.Orangtua mengemban tugas maha berat untuk mendidik putra dan putri mereka. Merekalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak mereka, terutama pendidikan nilai-nilai manusiawi yang hakiki.
Nilai dapat dimengerti secara sederhana sebagai segala sesuatu yang positif, yang baik, indah, benar, menyenangkan, yang berguna bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan orang lain. Dan tidak dapat disangkal bahwa rumah adalah tempat dan lingkungan yang pas dan cocok, bahkan utama bagi anak-anak untuk belajar menemukan, mewujudkan atau menghayati serta memperkembangkan nilai-nilai, karena dalam kenyataannya anak, terutama yang masih kecil, lebih banyak berada di rumah daripada di tempat lain. Tugas pendidikan ini sebenarnya berakar dalam panggilan luhur suami-istri, yakni ikut berperan serta dalam karya penciptaan Tuhan sendiri. Menurunkan anak tidak hanya dalam arti kuantitatif tetapi juga dalam arti kualitatif melalui pendidikan.
Hak dan kewajiban orangtua untuk mendidik anak mempunyai beberapa ciri, yakni bersifat hakiki karena berhubungan dengan penerusan hidup, asali dan utama bila dibandingkan dengan peran orang lain dalam pendidikan terhadap anak-anaknya karena keistimewaan hubungannya yang khas dan alami dengan anak-anaknya, tidak tergantikan dan tidak dapat diambil alih oleh orang tua kepada anak-anaknya.
Meskipun orangtua mempunyai posisi yang sah dan memegang peranan penting yang sangat menentukan dalam penanam nilai-nilai itu pada anak-anak di dalam rumah, namun peranan instansi-instansi lain seperti sekolah tidak bisa diabaikan. Karena itu, dalam pendidikan nilai, kerjasama antara orangtua dan instansi-instansi penyelenggara pendidikan sangat perlu.
Nilai-Nilai Mendasar Kehidupan Manusiawi
Sebenarnya ada banyak nilai yang perlu ditanamkan pada diri anak-anak sejak dini, namun di sini saya hanya menawarkan beberapa hal yang dianggap perlu, yang hendaknya orang tua tanamkan sejak dini pada diri putra-putri di dalam keluarga.
Pertama, anak-anak hendaknya dibesarkan dengan sikap bebas yang tepat terhadap harta jasmani, dengan diajak menjalani corak hidup ugahari tanpa kemanjaan, dan dengan insyaf sepenuhnya, bahwa manusia lebih bernilai karena kenyataan dirinya sebagai manusia ciptaan Tuhan daripada apa yang dimilikinya.
Hal ini menjadi penting, karena dalam masyarakat modern yang semakin materialistis seperti sekarang ini seringkali manusia dilihat atau dinilai hanya dari apa yang ia miliki, yang dipakai, pendidikannya, pangkatnya, bahkan yang mengerikan sekarang ini, orang lain dinilai dari agamanya, dari asal-usulnya, dari golongan dan rasnya, dll. Orang lain bukan dilihat dari kenyataan bahwa ia adalah sesama manusia ciptaan Tuhan, sederajat, karena sama-sama diciptakan sebagai citra dan gambar Tuhan sendiri. Karena itu, yang kaya, yang berpangkat, berkuasa, pandai, berprestasi, dihormati atau dihargai di mana-mana. Sementara yang tidak mempunyai predikat apa-apa, yakni mereka yang miskin, bodoh, tidak berprestai, diperlakukan secara diskriminatif sebagai sampah.
Oleh karena itu, anak-anak perlu diajak untuk menghormati dan mencintai orang lain dengan tulus, baik kaya maupun miskin, baik sama agama atau tidak, baik sebangsa atau tidak, seperti ia mencintai dirinya sendiri.
Kedua, yang perlu ditanamkan dalam diri anak-anak adalah sikap adil (keadilan) yang meluap dari cinta kasih terhadap sesama.
Perpecahan dan konflik-konflik yang sering terjadi di dalam masyarakat sekarang ini, juga di Indonesia, lebih sering disebabkan oleh adanya ketidak adilan. Struktur masyarakat dan sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga di satu pihak yang kuat semakin kuat, yang yang berkuasa semakin berkuasa, yang kaya semakin diperkaya; di lain pihak, yang miskin semakin diperlemah, yang bodoh semakin diperbodoh.
Ini semua terjadi karena kebanyakan orang modern sekarang, semakin individualis dan egois, tidak peduli akan nasib orang lain. Sesamanya dianggap sebagai saingan, yang mengancam ketenangan dan kemapanan. Dalam situasi jaman yang ditandai ditandai oleh gejala-gejala seperti itu, orang tua hendaknya dengan penuh cinta kasih tidak hanya menanamkan dan menimbulkan kesadaran dalam diri anak akan rasa keadilan sejati – satu-satunya nilai yang membuahkan sikap hormat terhadap martabat pribadi setiap orang – melainkan juga sikap peka penuh cinta kasih, solider terhadap sesama dengan menumbuhkan minat perhatian yang tulus serta pengabdian yang tanpa pamrih terhadap sesamanya, khususnya mereka yang paling miskin dan terlantar.
Dalam hal ini keluarga atau rumah menjadi tempat yang cocok, menjadi lingkungan pembinaan pertama dan utama serta mendasar untuk kehidupan bermasyarakat. Cinta pemberian diri dari orangtua yang terungkap dan terwujud dalam kemauan saling membahagiakan, saling memperhatikan, saling menolong, saling bekerjasama, solider, saling menghormati, dll, menjadi pola dan kepada saudara-saudaranya, teman-temannya, tetanga-tetangganya dan akhirnya meluas ke masyarakat sekitarnya.
Kalau sejak dini dalam diri anak telah ditanamkan oleh orangtuanya rasa belaskasih, berlaku adil, dll, maka nanti anakpun kalau sudah dewasa akan mewujudkannya dalam tingkah lakunya nilai-nilai itu dalam hidupnya sehari-hari, karena semuanya telah menjadi miliknya dan menjadi bagian dari hidupnya sendiri.
Ketiga, yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah nilai seksualitas. Pendidikan seksualitas bagi anak-anak sangatlah penting, karena arti dan nilai seksualitas manusia sekarang ini, sering dipersempit lingkupnya, hanya dikaitkan dengan tubuh dan kenikmatan yang biasanya bersifat egoistis semata-mata. Padahal seksualitas menyangkut seluruh pribadi manusia seutuhnya, jiwa-badan, rohani-jasmani, emosi, perasaan, cara berfikir dan cara bertindak. Dengan kata lain, seksualitas menyangkut seluruh eksistensi manusia. Cara berada seseorang sangat ditentukan oleh seksualitasnya sebagai pria atau wanita, yang menampakkan maknanya yang terdalam dengan mengantar manusia kepada penyerahan atau pemberian diri dalam kasih.
Dalam pendidikan seksualitas ini orangtua tidak bertindak sebagai guru-guru seks, melainkan lebih-lebih sebagai pribadi yang kapasitasnya menciptakan suasana yang kondusif di dalam rumah sedemikian rupa sehingga anak-anak dapat bertindak dan berperilaku baik, sopan, memahami sebagai pria atau wanita, yang pada gilirannya mereka pun akan dapat menerima orang lain apa adanya. Dengan menerima dan mencntai mereka dengan tulus hati, mendorong dan memampukan anak-anak mencintai orang lain, termasuk mereka yang lain jenis kelaminnya.
Mengingat ada keterkaitan yang begitu erat antara dimensi seksual dengan norma-norma kesusilaan, orang tua juga harus memahami norma masyarakat, yang sangat perlu bagi perkembangan pribadi dan tanggung jawab di bidang seksualitas.
Keempat, yang perlu diajarkan oleh orangtua kepada anak-anak adalah agama atau iman. Tidak bisa dipungkiri jaman saat ini, situasi hidup keagamaan di Indonesia, sungguh amat memprihatinkan. Di satu pihak kegiatan-kegiatan yang bernafaskan keagamaan begitu bersemarak, namun di lain pihak kejahatan-kejahatan, bahkan yang berbau SARA terjadi di mana-mana. Banyak dari umat beragama di Indonesia mudah terbakar oleh emosi, mudah mengutuk, berbuat anarkhi, tidak bisa berpikir jernih dan rasional. Perasaan kasih terhadap sesama manusia yang menjadi inti ajaran setiap agama tidak tampak. Yang menonjol dan dominan adalah rasa benci dan curiga terhadap umat beragama lain. Dengan demikian toleransi serta kerukunan hidup beragama terancam. Ini sungguh menyedihkan. Jika tidak segera diatasi dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rupa-rupanya agama belum sepenuhnya dapat membantu setiap orang berperilaku baik. Banyak kejahatan di Indonesia justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku diri sebagai orang beragama. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa agama kadang-kadang digunakan untuk membenarkan kejahatan yang dilakukannya. Mengapa hal-hal tersebut bisa trjadi? Ada sementara orang berpendapat, mingkin arena agama dihayati hanya secara formal saja. Kalau sudah mengerti dan percaya akan kebenaran-kebenaran agamanya, serta sudah bisa berdoa menurut peraturan-peraturan yang telah ditetapkan agamanya, orang-orang sudah merasa beres. Padahal agama atau iman itu tidak hanya dimengerti dan diungkapkan dalam doa-doa formal saja, dan harus diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat dalam perbuatan-perbuatan dan perilaku yang baik dan benar, yang menyenangkan dan membahagiakan orang lain.
Oleh karena itu, orientasi pendidikan iman atau agama dalam keluarga, sesuai dengan perkembangan umur dan kedewasaan, rasional tentang ajaran agama. Tidak hanya agar anak-anak pandai dan rajin berdoa saja, tetapi terlebih agar anak-anak dapat mewujudkan iman dan agamanya dalam kehidupan sehari-hari dalam perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji, yang menyenangkan dan membahagiakan orang lain. Tekanan pendidikan iman di rumah adalah membentuk perilaku yang baik dalam kehidupan keagamaan anak-anak, sehingga mereka tidak hanya takwa kepada Tuhan, tetapi juga mempunyai perasaan belas kasih dan perhatian terhadap sesama manusia. Diharapkan semakin mereka beriman atau beragama, diharaokan semakin sopan, toleran, solider, adil, semakin menghormati orang lain tanpa pandang ras dan agamanya. Intinya, anak-anak menjadi semakin mencintai Tuhan dan orang lain. Kewajiban mencintai Tuhan tidak bisa dilepaskan dari kewajiban mencintai sesame.
Hal lain yang tidak boleh dilalaikan adalah pendidikan moral. Moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, adat-istiadat. Karena itu, “moral” secara sederhana dapat diartikan norma (yang biasanya dirumuskan dalam bentuk perintah atau larangan) yang menata sikap dan perilaku manusia. Perilaku disebut bermoral di samping sesuai dengan standar sosial, juga dilakukan dengan sukarela atau bebas. Maka pendidikan moral bertujuan agar anak bisa hidup menurut norma-norma yang ada dalam masyarakat (norma sosial, norma agama), serta dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah dan bisa bertindak sesuai dengan pilihan bebas suara hatinya.
Ada Kendala…pasti ada Usaha…
Semua orangtua menyadari bahwa mendidik anak dalam nilai-nilai manusiawi yang hakiki bagi kehidupan manusia adalah tidak mudah. Banyak kendalanya. Kendala bisa saja muncul dari orangtua, anak, maupun lingkungan sekitar serta media massa. Orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya, akan mengalami kesulitan dalam menanamkan nilai-nilai tertentu pada diri putra-putrinya, karena kurang waktu untuk hidup bersama dengan mereka. Untuk itu orangtua harus membuat prioritas, menciptakan “prime time” agar bisa bertemu, berdialog, rekreasi, melakukan suatu tugas bersama-sama. Jika frekuensi pertemuan menjadi berkurang, perlu ditingkatkan intensitas (kualitas) relasinya.
Keadaan ini akan bertambah parah, jika ternyata orangtuanya sendiri tidak mampu memberikan contoh hidup yang baik, sesuai dengan nilai-nilai yang akan ditanamkan dalam diri anak. Misalnya, orangtua yang sedang mengalami krisis dalam hidup perkawinannya, di mana sudah tidak mampu menghayati nilai kesetiaan perkawinan, bagaimana mungkin mereka bisa menanamkan nilai cinta kasih, seksualitas atau kemurnian hidup, dll, kepada anak-anaknya?
Hirarki nilai yang diwujudkan dalam hidup oleh orangtuanya akan memberi pengaruh juga terhadap hiraki nilai yang dipilih dan dihayati atau diwujudkan oleh anak-anaknya. Orangtua yang melihat uang atau harta sebagai nilai tertinggi dalam hidup, karena memberikan kesenangan dan untuk itu seluruh hidupnya terfokuskan untuk mencari uang saja, memberi motivasi kepada anak untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orangtuanya.
Tak dapat dipungkiri betapa besarnya pengaruh media massa, baik cetak maupun elektronik, bagi pendidikan nilai. Melalui media massa itu, masyarakat luas menawarkan nilai-nilai tertentu pada anak-anak yang kadang-kadang berbeda bahkan berlawanan dengan nilai-nilai yang diyakini sendiri sebagai benar dan baik, yang perlu bagi anak-anak. Kehebatan media massa dalam jaman informasi seperti sekarang ini adalah kapasitasnya dalam mengubah pola hidup seseorang. Anak-anak, terutama lebih dididik oleh televisi daripada oleh orangtuanya sendiri. Oleh karena itu, dalam konteks pendidikan nilai, kerjasama antara orangtua dengan lembaga-lembaga pendidikan nilai lainnya serta dengan media massa, mutlak perlu. Alangkah idealnya kalau semua unsur tadi mengadakan komitmen bersama, demi mutu generasi bangsa di masa kini dan mendatang. Tanpa komitmen bersama, maka segala usaha yang dilakukan oleh orangtua dengan susah payah serta penuh penderitaan untuk menanamkan nilai-nilai manusiawi yang hakiki pada diri anak mereka akan sia-sia.
KELUARGAKU ADALAH ISTANAKU. Semoga menjadi kenyataan.
Dominus Vobiscum
(Sumber: RD. @d@m Soen di Buletin Mingguan Paroki St. Albertus de Trapani, 25 Mei 2008)