Sunday, January 20, 2008

Teks Pidato Paus Benediktus

Teks Pidato Paus Benediktus untuk Universitas La Sapienza, Roma (Bagian 1)

Berikut adalah bagian pertama dari teks pidato yang seharusnya dibacakan oleh Bapa Suci Benediktus XVI dalam kunjungannya ke universitas La Sapienza, yang dijadwalkan hari Kamis, 17 Januari, dan kemudian dibatalkan sehari sebelumnya.

VATIKAN-ITALIA

Roma, 17 Januari 2008

Adalah sebuah kegembiraan besar bagi saya untuk bertemu komunitas "La Sapienza - Universitas kota Roma" dalam kesempatan inaugurasi tahun akademik. Selama berabad-abad, universitas ini telah menandakan kemajuan dan hidup dari kota Roma, dengan membawa ke depan kesempurnaan intelektual dalam setiap bidang studi. Baik selama periode saat, setelah didirikan oleh Paus Boniface VIII, institusi ini secara penuh bergantung kepada otoritas Gerejawi, dan setelah ini, saat "Studium Urbis" menjadi sebuah institusi dari negara Italia, komunitas akademik kalian tetap mempertahankan sebuah standard sekolah dan budaya yang sangat tinggi, yang menempatkannya diantara universitas- universitas yang paling prestisius di dunia. Gereja Roma telah selalu memandang dengan kasih dan kekaguman pada pusat universitas ini, mengakui usaha-usahanya yang kadangkala berat dan sulit dalam penelitian dan dalam formasi generasi-generasi baru. Dalam beberapa tahun belakangan, tidak pernah ada kekurangan
atas hal-hal signifikan dalam kolaborasi dan dialog. Saya ingin mengingat, khususnya, pertemuan sedunia dari rektor-rektor universitas dalam kesempatan Yubileum Universitas, yang melihat komunitas kalian mengambil tanggung jawab bukan hanya untuk menjadi tuan rumah dan mengatur pertemuan, namun lebih dari itu untuk membuat proposal yang kompleks dan profetik bagi pembangunan sebuah "humanisme baru untuk milenium ketiga".

Saya tergerak, pada kesempatan ini, untuk menyampaikan rasa syukur atas undangan yang ditujukan kepada saya untuk datang ke universitas kalian untuk membawakan pidato untuk kalian. Dalam pandangan ini, pertama-tama saya bertanya pada diri sendiri: Apa yang dapat seorang Paus katakan pada kesempatan seperti ini? Dalam ceramah saya di Regensburg, saya tentu saja berbicara sebagai paus, namun saya berbicara terutama dalam diri seorang mantan profesor dari universitas, mencoba menyatukan masa lalu dan masa kini. Namun di universitas "La Sapienza", universitas kuno kota Roma, saya telah diundang sebagai "Uskup kota Roma", sehingga saya harus berbicara dalam kapasitas ini. Tentu saja, "La Sapienza" pernah menjadi universitas para paus, namun kini dia menjadi sebuah universitas yang sekular dengan otonomi yang, berdasarkan atas prinsip-prinsip pendiriannya, telah selalu menjadi bagian dari sifat universitas, yang harus selalu secara eksklusif terikat pada otoritas dan kebenaran.
Dalam kebebasannya dari otoritas politik dan Gerejawi, universitas ini menemukan peranannya yang spesial, dan juga dalam masyarakat modern, yang membutuhkan lembaga-lembaga dari sifat mendasar ini.

Saya kembali pada pertanyaan saya yang pertama: Apa yang seorang paus dapat dan harus katakan dalam pertemuan dengan universitas kotanya? Merefleksikan pertanyaan ini, telah terlihat bagi saya bahwa hal itu menyangkut dua pertanyaan selanjutnya, klarifikasi yang mana harus dengan sendirinya memimpin kepada jawabannya. Adalah penting, sesungguhnya, untuk bertanya: Apakah sifat dasar dan misi dari kepausan? Dan lagi: Apakah sifat dasar dan misi dari universitas? Bukanlah maksud saya di sini untuk berulang-ulang mengajari baik kalian atau saya dengan penjelasan-penjelas an panjang tentang sifat dasar kepausan. Sebuah ringkasan seharusnya cukup. Paus, pertama-tama adalah uskup Roma, dan karena itu, dalam kebajikan sebagai penerus apostolik dari Rasul Petrus, ia memiliki otoritas Episkopal dalam keseluruhan Gereja Katolik. Kata "uskup" -episkopos-, yang berarti "pengawasan" , dalam Perjanjian Baru telah bersama menyatu dengan konsep Kitab Suci yaitu sang gembala: ia yang, dari
titik pengamatan yang lebih tinggi, mengawasi seluruh kawasan, meyakinkan untuk memelihara kesatuan jemaahnya dan di jalan yang benar. Penggambaran atas peranan uskup mengarahkan pandangan pertama-tama ke dalam komunitas jemaahnya. Uskup -sang gembala- adalah orang yang menjaga komunitasnya, yang mempersatukannya dengan cara memeliharanya pada jalan kepada Allah, yang ditunjukkan Yesus melalui iman Kristiani- dan Yesus tidak hanya menunjukkan hal ini: IA sendiri adalah jalan bagi kita. Namun komunitas ini yang dijaga oleh sang uskup baik yang besar ataupun yang kecil- hidup di dunia; kondisinya, perjalanannya, contoh hidupnya, dan kata-katanya dengan tak terelakkan memperngaruhi komunitas manusia lainnya dalam keseluruhannya. Semakin besar komunitas ini, semakin besar pula kondisinya yang baik atau kemerosotannya pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh umat manusia. Saat ini kita melihat dengan jelas bagaimana situasi berbagai agama dan situasi Gereja -krisis dan
pembaharuannya- bertindak terhadap keseluruhan umat manusia. Jadi, paus, tepatnya sebagai sang gembala dari komunitasnya, telah naik menjadi sebuah suara dari pemikiran umat manusia yang layak.

Namun di sini segera terjadi penolakkan menurut apa yang sebenarnya tidak dikatakan sungguh-sungguh oleh paus berdasarkan pemikiran yang layak, namun sebaliknya menarik penilaian-penilaian nya dari iman, dan oleh karena itu ia tidak dapat menuntut hal ini berlaku bagi mereka yang tidak berbagi iman ini. Kita harus kembali kepada argumen ini nanti, karena menampilkan pertanyaan yang sangat mendasar: Apakah pemikiran (akal budi)? Bagaimana sebuah pernyataan yang tegas, sebuah tuntutan dapat -dan terutama sebuah norma moral- menunjukkan sebuah "pemikiran". Pada titik ini, saya ingin mencatat sedikit bahwa John Rawls, sementara ia menyangkal bahwa doktrin-doktrin keagamaan seluruhnya memiliki karakter pemikiran "publik", namun ia juga melihat dalam pemikiran yang "bukan publik" sebagai paling tidak suatu pemikiran yang tidak dapat dihilangkan begitu saja oleh mereka yang mendukung sebuah rasionalitas sekular garis keras. Ia melihat sebuah kriteria dari pemikiran yang masuk
akal ini terutama dalam kenyataan bahwa doktrin-doktrin itu datang dari sebuah tradisi yang berdasar bagus dan yang bertanggungjawab. Sangat penting bagi saya bahwa pernyataan ini mengakui bahwa pengalaman dan penggambaran atas rangkaian generasi, kejatuhan sejarah kearifan manusia, adalah juga sebuah tanda dari kepemikiran mereka dan pangartian panjang mereka. Di hadapan sebuah bentuk sejarah dari pemikiran yang mencoba membangun dirinya sendiri dalam sebuah rasionalitas sejarah yang eksklusif, kearifan manusia seperti itu -kearifan dari tradisi-tradisi agama yang besar- harus dipandang sebagai sebuah realitas yang tidak dapat dihilangkan dengan kebabasan dari hukuman ke dalam kantong sampah dari sejarah ide-ide.

Marilah kembali kepada pertanyaan pembukaan. Paus berbicara sebagai wakil dari sebuah komunitas jemaahnya, di mana selama berabad-abad kehadirannya, sebuah kearifan hidup yang spesifik telah matang; ia berbicara sebagai wakil dari sebuah komunitas yang memelihara dalam dirinya sebuah harta akan pengertian dan pengalaman yang layak, yang penting bagi seluruh umat manusia. Dalam pemahaman ini, ia berbicara sebagai wakil dari sebuah bentuk pemikiran yang layak.


BERSAMBUNG


(Diterjemahkan oleh Shirley Hadisandjaja, dari sumber: ASIANEWS)


Shirley Hadisandjaja
Via dei Martiri, 1, 20020
Cesate, Milano
ITALY

Being an atheist is too expensive



After a score of months pondering over whether or not to become an atheist, I eventually decided against it. On that formative day, I realized that as a person who has grown up and lived in Indonesia, I could not afford to become an atheist.

The realization struck during a conversation with a friend about my future, possibly haunted, house.

I bought a house that had changed hands five times within 10 years. Why didn't the previous owners live there for longer than two years, I wondered.

The immediate thought that came to my mind was "the house must be haunted".

Instead of dismissing my thinking as irrational, I called an old university friend and asked him what to do in the event of a ghost encounter.

"Don't worry. Plenty of dukun (shamans) here. Some must be able to bust ghosts," he said.

"Cool!" I replied. I calmed down and forgot about the possibility of a ghost haunting my house.

After a while, I realized that my view of the problem and solution did not correspond with that of an atheist. If I were a true atheist, I wouldn't have thought about ghosts in the first place.

Nevertheless, it was the first thing that came to my mind. Worse, my friend's solution, which was far from a scientific and rational one, calmed me down.

I think, to be a true atheist, one has to find solutions to their problems through science.

On the other hand, albeit holding a masters degree in science, my faith in science is neither deeply entrenched nor blind.

I grew up surrounded by interesting and superstitious stories and beliefs related by family and friends. I have come to accept them in my life; I don't question them and I'm not critical.

Here are some examples.

Some national figures have employed supernatural measures to solve problems. It was reported that the vice president's office and the Jakarta Police hired a number of rainmakers to help disperse a massive labor demonstration in front of the presidential palace on May 1, 2006. I viewed this move as merely humorous, but not outrageous.

My parents say rain on Chinese New Year means a good year ahead. As a Chinese-Indonesian, I'm relieved every time it rains on the new year.

People have said on Cap Go Meh day, when Chinese people celebrate the day outdoor, rain won't come until the celebration is over. I once joined a Cap Go Meh celebration and it indeed did not rain until the festival was over.

I came home to tell my housemates about that interesting fact. My Australian housemate, a true atheist and my inspiration to become one, snickered at the story and even more at my gullible attitude.

"I don't understand you guys," he said to me and his other Indonesian friends. "You're educated but somehow you are superstitious. "

My atheist friend, on the other hand, excels in science and he can usually provide a scientific explanation for almost anything. Whenever I seek a scientific solution, I ask him and he is always ready with an explanation or scientific discussion to aid me in my search for answers. But if I ever want to have a chat about superstitions, I avoid him, and his snicker.

Once, he spoiled a good Mak Erot story. A friend of a friend claimed to have had his penis enlarged by Mak Erot, the genuine one, he said, not the fake one. He even showed his genitals to my friend, who told me: "Seriously, it was BIG".

I don't actually believe in Mak Erot; I would never advise my male friends to go to Mak Erot; genuine or fake. Nonetheless, I didn't really question the truth in that story. I only laughed about it over some bottles of tea with my friends.

My atheist friend, however, readily questioned whether that particular Mak Erot patient was lying or not and persisted with a number of skeptical questions. In the advent of science, at that time, the story ceased to be funny.

Aside from the cultural reasons for choosing to not become an atheist, I have an economic reason.

"Poor people, they often seek alternative medications for their illnesses because they cannot afford doctors and hospitals," my friend said.

"They have to believe in non-scientific methods to survive. There's no way they could be atheist. It's too expensive for them."

Hmm, true.

Well, medication is probably not a major issue in my attempt to become an atheist. I have health insurance.

However, the argument that science is often times too expensive for citizens in developing countries is a good one.

Lack of funding to build updated infrastructure for the sciences makes science less popular than religion here. I believe this lack of popularity affects the availability of scientific answers in our society.

If an Indonesian needs an answer for his or her problem, he or she would usually seek advice from friends, who would likely give a non-scientific answer, regardless of their education.

I spent a year in the Netherlands and I know that my chances of getting a scientific answer from my Dutch and international friends is far greater than from my Indonesian friends. And they, too, would spoil my Mak Erot story.

Tech-savvy Indonesians would probably seek their answers from Google. Still, you can't get everything from a search engine. Plenty of tech-savvy yet superstitious Indonesians write to online forums.

Recently, I opened the Geophysics and Meteorological Agency website (www.bmg.go. id) to find a forum where a person had submitted text about "a cleric who has received information from a genie that a massive earthquake measuring 11.5 on the Richter scale will occur".

You see? I cannot afford to be an atheist. It's no fun. And it's too expensive.


Evi Mariani, Jakarta
The writer is a journalist at The Jakarta Post.

(Sumber: kiriman teman)

Revitalisasi Semangat Kebangsaan, Keteladanan dari Pendahulu Bangsa ( I )

(Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat tanggal 18-01-2008)


"Seandainya saya seorang Belanda, saya tidak akan merayakan pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas kemerdekaannya” –
Soewardi Soerjaningrat, de Expres, 1913 1913:
Als ik eens Nederlander was...

Demikianlah penggal kalimat bernada protes pemuda Soewardi Soerjaningrat di surat kabar de Expres milik dr Douwes Dekker pada masa perjuangan kemerdekaan di tahun 1913. Aslinya dalam sebuah artikel berbahasa Belanda, "Als ik eens Nederlander was..." -- "Seandainya saya seorang Belanda...". Ia merasa, tak sepantasnya Belanda merayakan 100 tahun kemerdekaannya di Indonesia, yang justru dalam status jajahannya. Awalan kata-kata "... seandainya.. ." itulah, yang kemudian membawanya ke pengasingan di negeri Belanda bersama dua sahabatnya dalam "Tiga Serangkai", Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Pernyataan itu menggambarkan betapa tingginya semangat kebangsaan Ki Hadjar Dewantara muda dan kawan-kawan seperjuangannya, kendati saat ini masih berada dalam cengkeraman penjajah. 1940: ... ik de belangen van Land en Volk...1. Pada momentum berbeda, saat penobatannya pada 18 Maret 1940, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada akhir amanatnya mengatakan dengan semangat yang sama:
"... ik de belangen van Land en Volk...", atau terjemahan lengkapnya: "Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan Nusa dan Bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya". Pernyataan ini menggambarkan dengan jelas sikap nasionalisme budaya progresif, yang kala itu membuat Belanda sempat tercengang. Sejarah kemudian mencatat, ternyata pidato itu memiliki dimensi jauh ke depan, tidak hanya sekadar: "sebatas pengetahuan dan kemampuan". Akan tetapi lebih dari apa yang telah dijanjikan, dibuktikannya dengan tindakan nyata di saat-saat genting sekitar Proklamasi dan di masa Revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan. Melalui Maklumat 5 September 1945, Beliau menyatakan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia, yang dijawab Presiden Soekarno dengan Piagam Penetapan pada 6 September 1945, adalah bukti nyata yang menjadi catatan penting sejarah
perjuangan bangsa. 2008: Als ik eens Indonesier was...2 Meski dalam kurun waktu yang berbeda, lebih dari seperempat abad, artinya dalam generasi yang berbeda, kedua Pemimpin bangsa itu memiliki semangat kebangsaan yang sama. Padahal keduanya terlahir dan dibesarkan di lingkungan tradisi yang kuat, masing-masing dari Puro Pakualaman dan Kasultanan Yogyakarta, Beliau berdua bukan sekadar ber-retorika, tetapi membuktikannya dalam tindakan. Ki Hadjar bukan hanya sekadar "melepaskan" gelar kebangsawanannya dengan mengganti nama panggilan "Ki" yang lebih bersahaja dan egaliter, agar bisa lebih dekat dengan rakyat jelata, tetapi Beliau berdiri vis-a-vis melawan Belanda. Demikian juga Sri Sultan HB IX, Beliau telah "melepaskan" tahta untuk rakyat, di mana hal ini tidak perlu diulas panjang-lebar, karena sejarah telah membuktikan kebenarannya! Lalu, seandainya Beliau masih sugeng di zaman ini, ketika "Semangat Satu Bangsa" seperti berada di ufuk Barat nyaris tenggelam ini,
bagaimanakah wujud spirit kebangsaan itu jika Beliau berdua menempatkan diri sebagai orang Indonesia masa kini, dengan pertanyaan imajinatif: "seandainya aku seorang Indonesia" -- "Als ik eens Indonesier was...?"

Semangat Kebangsaan

Mengadaptasi konstatasi Federico Ruiz (1999)3, seorang teolog spiritualitas Spanyol, problema kebangsaan setidaknya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, globalitas (globalita), yaitu kompleksitas dari berbagai elemen dalam suatu situasi atau keadaan. Kedua, radikalitas (radicalita) , yaitu karakter ekstrem dari aneka kelompok masyarakat. Ketiga, kecepatan (rapidita), yaitu cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Krisis Semangat Kebangsaan

Kita tidak membutuhkan lagi bukti atau diskusi berbelit-belit guna menegaskan bahwa semangat kebangsaan kita sudah kian luntur. Setiap hari, media massa menyuguhkan aneka tragedi kerapuhan kebangsaan kita. Jika krisis itu tidak digarap, semangat kebangsaan kita akan semakin rapuh. Kini saatnya untuk merevitalisasi semangat kebangsaan itu sesuai sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia yang dipakai sebagai padanan nasionalisme, karena cita-cita persatuan sebenarnya telah tumbuh lama jauh sebelum masa kolonialisme. Problema kebangsaan yang kita hadapi sebenarnya krisis gaya hdiup. Di hadapan kita terbentang globalitas budaya, tata nilai, gaya politik, cara hidup, agama, dan sebagainya. Di satu pihak ada kelompok-kelompok masyarakat yang hanyut dalam globalitas itu. Mereka lebih suka ikut arus karena bebas memilih apa yang disukai, mereka seakan tak punya spiritualitas. Akibatnya, identitas dirinya menjadi tidak jelas, atau setidaknya ambigu. Di lain pihak sekelompok
orang mengambil sikap radikal, yang menganggap perubahan sebagai kemunduran spiritualitas. Mereka lebih suka menutup diri terhadap globalitas dan bertahan pada "keyakinan" dan cara hidup secara ketat. Muncullah kelompok-kelompok radikal (radicalita) di berbagai tempat. Di Indonesia jurang antara kedua kelompok itu cenderung kian melebar. Tambahan lagi, kita tidak bisa membendung kecepatan (rapidita) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempercepat masuknya globalitas (globalita) sampai ke dapur-dapur kita. Kecepatan kian memperparah krisis kebangsaan saat orang tidak punya "filter" yang kuat.

Nasionalisme Bangsa-Bangsa

Kenichi Ohmae dalam bukunya "The End of Nation State" (1995) menulis gejala global ini sebagai dunia tanpa batas (borderless world) dan menyatakan hapusnya negara-bangsa. Bahkan sebelumnya Daniel Bell dalam "The End of Ideology" (1962) telah menyatakan nasionalisme sebagai ideologi telah berakhir. Demikian juga tesis Francis Fukuyama dalam "The End of History and the Last Man" (1992), menegaskan nasionalisme tidak lagi menjadi kekuatan dalam sejarah dunia. Ia berasumsi, demokrasi liberal menjadi semacam titik akhir dari evolusi ideologi, atau bentuk final dari pemerintahan dan sekaligus sebuah 'akhir sejarah' ('the end of history') 4.

Jepang

Jepang meraih sukses karena mengambil jalan dengan cerdas mengadaptasi etika Protestan-nya Max Weber, sehingga mampu memberikan energi segar yang muncul dari kekuatan budayanya sendiri. Bellah (1957) menyatakan, agama Tokugawa telah memberikan inspirasi atas sistem nilai pokok yang diperlukan Jepang untuk bergerak menuju kapitalisme modern. Demikian pula Morishama (1982), mengemukakan keberhasilan Jepang terjadi sebagai akibat dari ciri-ciri konfusianisme yang mengajarkan umatnya loyal, nasionalis, dan kolektivitas sosial, tanpa harus mengadopsi nilai-nilai liberalisme, internasionalisme, dan individualisme Barat. Keberhasilan itu karena pendidikan tidak dipisahkan dari kebudayaan. Orang Jepang punya semangat yang tidak pernah luntur, tahan banting, dan tidak mau menyerah oleh keadaan, yang terkenal dengan semangat bushido (semangat kesatria) yang menjadi ruhnya semangat kebangsaan Jepang. Dengan karakteristik itu, Jepang mampu menjaga martabat dan kualitas hidup
bangsanya lewat pendidikan, karena pendidikan disadari mengandung misi kebajikan dan mencerdaskan. Faktanya Jepang berhasil sukses mengambil dalih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, industri dan teknologi Barat. Selanjutnya, inspirasi itu menjalar ke Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Malaysia yang menjadikan mereka "Macan Asia", yang kini diadopsi oleh India dan Cina yang sedang tumbuh menjadi raksasa ekonomi Asia. Kesemuanya itu mewujud sebagai bentuk nasionalisme ekonomi yang mengandalkan kekuatan sendiri berbasis budaya.5

Korea

Kemajuan Korea Selatan sudah diramalkan oleh Rabindranath Tagore, yang mengatakan: "Dalam zaman keemasan Asia, Korea adalah salah satu pembawa obor". Negara yang nyaris tanpa sumber daya alam itu telah mampu menjadi "Macan Asia". Dalam tempo yang relatif singkat, Korea muncul sebagai pembawa obor dengan pertumbuhan industri yang pesat. Aspek yang sangat penting dalam pembangunan ekonominya adalah faktor SDM, yang melalui sekolah sejak dini dididik secara spartan. Ajaran Konfusius yang dianut masyarakat telah menempatkan penghargaan terhadap pendidikan. Dalam kehidupan masyarakat, nasionalisme diperlihatkan melalui identitas kebudayaan Korea mulai dari Hanok -- tinggal di rumah bergaya Korea -- Hanbok -- berpakaian tradisional Korea -- Hansik -- makan dengan makanan Korea -- sampai dengan Han Geul -- "hanacaraka" -nya sistem alphabet Korea, menjadi kurikulum muatan lokal yang wajib diajarkan sejak dini. Revitalisasi terhadap budaya sendiri inilah, yang menjadi basis
ketahanan budaya bangsa Korea terhadap terpaan gelombang budaya global.

Singapura

Dengan pemahaman pendidikan tidak hanya sekadar proses schooling, tetapi juga proses memperadabkan generasi, maka Singapura menetapkan kredo pendidikannya: "Molding the Future of Our Nation" -- membentuk karakter masa depan bangsa. Kalau Bung Karno terutama mengaitkan pendidikan watak dengan pembentukan rasa berbangsa dan bernegara, di sana character building anak didik dilakukan secara berjenjang sesuai kemampuan penalaran dan tingkat usianya sejak dini dari primary school. Di tingkat akhir primary school, anak-anak diharapkan mampu membedakan yang salah dari yang benar, serta belajar mengetahui Singapura dan kemudian untuk mencintai bangsa dan negaranya. Di tingkat akhir secondary diharapkan memiliki moral integrity, dan melihat bagaimana pemerintahan dijalankan, serta tahu dan percaya terhadap bangsa dan negaranya. Sedang di tingkat junior college diharapkan mampu bangkit dari kegagalan dan memiliki determinasi untuk menentukan arah solusinya, serta memahami apa yang
harus dilakukan untuk memimpin negara. Transparansi dan keteladanan menjadi penting sekali dalam proses pendidikannya. Tidak ada figur yang menonjol, karena semua figur diharapkan menjadi teladan yang akan dipelajari oleh peserta didik. Mereka menyadari, bahwa dalam proses pendidikan, role model dari pemimpin mutlak diperlukan.

Amerika Serikat

Dari berbagai temuan empirik yang fenomenal itu, terbukti telah meruntuhkan teori para pemikir 'endist' tersebut. Bahkan di negara induknya demokrasi-liberal, di Amerika Serikat sendiri pun jiwa nasionalisme itu sudah ditanamkan sejak dini pada jenjang pendidikan pre-school. Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, anak-anak TK diwajibkan menghadap ke sebuah bendera AS, yang dipasang di atas papan tulis sambil menyanyikan lagu:
"Flag of America red, white and blue Flag of America a salute we give to you".
Ketika anak-anak itu mengucapkan kalimat "Flag of America, red, white and blue", mereka meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Sedangkan ketika mengucapkan "A salute we give to you" tangan kanannya memberi hormat bendera. Selain itu, lagu kebangsaan AS selalu dinyanyikan pada setiap pertandingan olahraga. Tidak dengan musik, tetapi oleh seorang penyanyi, yang dengan khidmad dan khusuk mengucapkan kata-kata yang termaktub dalam lagu kebangsaan.6 Padahal, kedua hal itu rasanya hanya sekali-kali saja kita dengar di Indonesia. Bahkan globalisasi pun, sesungguhnya adalah perluasan semangat nasionalisme- ekspansionisme negara-negara maju. Lewat soft-campaign yang terarah, mereka memperkenalkannya lewat jargon "desa global", "budaya global", "dunia tanpa batas", dan hilangnya "negara-bangsa" , agar penetrasi politik, ekonomi dan budaya Barat masuk ke negara-negara berkembang dengan aman dan malah nyaman dirasakan oleh penduduknya. Ternyata setiap negara maju pun tetap
membina jiwa nasionalisme bangsanya agar tidak luntur. Tampak jelas bahwa semangat kebangsaan bagi warga negara AS tetap dijaga dan dipelihara sebagai bagian dari nation building, bahkan menjadikannya basis ideologi globalisasi sebagai bentuk semangat nasionalisme global kaum kapitalis Amerika. q - g. (Bersambung) .



1 Mohammad Roem dkk., "Tahta Untuk Rakyat", disunting oleh Atmakusumah, PT Gramedia Jakarta, cet. 3, Nopember 1982.
2 Ekayastra Unmada, "Semangat Satu Bangsa", TOR Sarasehan Kebangsaan, Yogyakarta, 15 Januari 2008.
3 M Kristiyanto, "Merekonstruksi Keadaban Baru Indonesia", mirifica.net, 15 Maret 2005.
4 Adnan Husaini, MA, "The End of History atau The End of The West?", Pusat Kajian Islam, 12 Desember 2007.
5 HB X, "Dinamika Budaya, Bangsa dan Nasionalisme Indonesia", Diskusi Publik, PUSHAM-Jurusan Antropologi Universitas Airlangga, Surabaya, 18 Desember 2007.
6 Sulastomo, "Nation and Character Building", artikel lepas.

Friday, January 18, 2008

KACAMATA KUDA menjadi MILIK ANDA?


Tidak Sekedar Kacamata Kuda…..

Pernah Anda melihat kuda penarik dokar? Setiap kuda penarik dokar selalu memakai kacamata. Bentuknya persegi empat, menutup mata kanan dan kiri sehingga arah pandang ke kanan dan ke kiri tidak ada. Kuda tidak dapat memindahkan letaknya tanpa bantuan dari si kusir. Fungsi kaca mata kuda itu adalah untuk memudahkan kusir mengendalikan jalannya kuda. Kuda hanya dapat melihat ke satu arah saja. Si kuda tidak diberi kesempatan untuk melihat alternatif lain selain yang ditunjukkan oleh si kusir. Si kuda hidup dengan satu arah pandang saja.

Masalahnya, seringkali yang dipaksa untuk hidup dengan satu arah pandang bukan hanya kuda saja. Kita pun juga seringkali dipaksa untuk melihat ke satu arah saja. Secara halus film-film, sinetron, acara radio, acara TV, iklan mencoba masuk ke dalam alam kesadaran kita dan mencoba membentuk kerangka berpikir kita menurut apa yang mereka kehendaki. Bukan hanya itu saja seringkali para artis dan bintang film juga melakukan hal yang sama. Mereka menawarkan kesan. Kalau menonton video klip lagu baru dari MTV kita akan melihat artis-artis yang cantik dan tampan, atau saat menonton acara wawancara dengan mereka kita melihat kelihatan begitu bahagia, segar, dan mempesona. Padahal siapa tahu pada saat yang bersamaan ketika acaranya dipancarluaskan artis yang bersangkutan sedang kusut dengan rambut awut-awutan karena habis bertengkar dengan suaminya.


Realitas tidak cukup dilihat dengan Pancaindra....

Dalam hidup kita ada Realitas yang tidak cukup dilihat dengan pancaindra saja. Realitas itu mempunyai seribu wajah. Dalam tingkat sederhana kita mengenal keping atau lembar mata uang yang mempunyai dua sisi. Ternyata kesannya bermacam-macam, yang jelas orang mempunyai banyak pikiran dengan uang itu. Atau bahkan gayanya bermacam-macam dalam upaya melihat keseluruhan realitas uang itu karena keterbatasan pandangan.

Panca indra kita hanya mampu menangkap kesan sejauh yang dapat dicerna oleh akal sehat kita. Banyak sekali pesan-pesan yang hilang begitu saja karena kita memang bukan mesin pencatat. Kita hanya ingat bagian-bagian yang menarik saja. Sama seperti kita mudah menghapal nama orang yang cantik, yang tampan, atau yang paling unik dan lucu. Kita mudah ingat bagian film yang paling menyentuh sedangkan bagian film yang lain kita lupa.

Jadi, kita tidak boleh keras kepala terhadap keyakinan yang kita miliki. Siapa tahu orang lain mempunyai aspek yang lain. Ada pepatah” di atas langit, masih ada langit”

Bersyukur atas Anugerah Tuhan....

Tidak bisa dipungkiri dalam hidup kita ada saatnya ketika dipilihkan atau diarahkan memang enak. Tidak menantang kita untuk berpikir. Hanya sayangnya, kalau kita terus “disuapi” kita tidak akan pernah menjadi dewasa. Orang yang dewasa dapat mengerjakan sendiri apa dan berpikir sendiri mengenai apa yang perlu untuk kehidupannya.

Karena itu, pertama-tama kita perlu membuka mata lebar-lebar. Dengan cara ini kita tidak dibutakan oleh konsep kita sendiri. Kita tidak masuk ke dalam jerat menomorsatukan bahkan menuhankan pandangan yang searah itu. Kita terperangkap dan terpenjara dalam konsep-konsep kita sendiri yang sepihak; misalnya kita maunya hanya memakai pakaian merk tertentu, makanan jenis tertentu, teman model tertentu, dll..

Kedua, kita perlu meyakini adanya keterbatasan dalam diri kita. Jangan malu untuk mengakui keterbatasan dalam diri. Dengan adanya pengakuan itu kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk memberikan masukan yang baik kepada kita. Masukkan-masukkan itu perlu agar kita tidak terjebak dalam pola pikir kita sendiri dan seluk beluk kehidupan yang negatif. Kita harus menyadari bahwa ada banyak macam segi dalam kehidupan. Kita tidak boleh dibingungkan dengan adanya bermacam-macam alternatif pilihan. Pilihan yang kita lihat saat SMP berbeda ketika di SMU. Waktu di kota asal berbeda saat di Malang. Waktu di rumah orang tua berbeda saat di kos-kosan atau asrama, dsb.

Ketiga, kita perlu mempunyai arah hidup sendiri. Hidup kita pertama-tama adalah bertujuan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan. Kalau kita tidak mengisi hidup dengan ketiga hal tadi berarti kita telah kehilangan kendali untuk melihat realitas hidup dengan benar dan menyeluruh.

Segala sesuatu yang ada di sekitar kita membantu kita mencapai tujuan kearah menjadikan hidup lepas bebas. Kita tidak boleh terikat pada hal-hal yang bersifat sementara yang sekarang ada dan besok sudah lenyap. Segala sesuatu yang ada di dunia adalah sarana kita mencapai tujuan hidup kita. Yang ada bukan tujuan, tetapi sarana yang sifatnya hanya membantu.

Untuk mencapai tujuan itu Tuhan memberikan anugerah: kehendak bebas, nurani, kesadaran diri, imajinasi. Dalam hal ini pembina di sekolah, orang tua di rumah, orang-orang bijak di masyarakat berfungsi sebagai sosok yang terus menerus memunculkan kesadaran akan tujuan utama dalam hidup sehingga konsep memuji, menghormati, dan mengabdi Allah menjadi bagian integral dalam hidup kita. Semuanya itu dibutuhkan untuk mengubah diri, meskipun memerlukan waktu yang lama dan upaya terus menerus.


Belajar dari Surat Wasiat Tobit kepada Tobia (Tobit 4:1-21)

Bagaimana kita membentuk pandangan yang tepat bagi hidup kita, kita dapat belajar dari surat wasiat Tobit kepada Tobia, anaknya.

Wasiat Tobit kepada Tobia, anaknya:

“Hormatilah ibumu dan jangan kautinggalkan sepanjang hidupnya. Lakukanlah apa yang menyenangkan hatinya dan jangan hatinya kausedihkan dengan kelakukanmu…. Nak, ingatlah kepada Tuhan; sepanjang umur hidupmu jangan sampai berdosa dan melanggar perintah-perintah-Nya…. Berilah sedekah dari harta milikmu. Matamu jangan menyesal apabila engkau memberikan sedekah. Muka jangan kaupalingkan dari orang miskin, niscaya wajah Allah pun tidak akan dipalingkan dari padamu…. Nak, jauhilah percabulan…. Cintailah sanak-saudaramu dan jangan meninggikan hatimu terhadap mereka…. Janganlah upah orang manapun yang bekerja padamu sampai bermalam padamu. Sebaliknya bayarkanlah segera kepadanya…. Dari makananmu sendiri berikanlah kepada yang lapar dan dari pakaianmu sendiri kepada yang telanjang…. Mintalah nasehat dari setiap orang yang arif dan jangan kauhina nasehat yang bermanfaat. Pujilah Tuhan Allah setiap waktu dan mintalah kepada-Nya, supaya segala jalan hidupmu menjadi lurus dan supaya segala usaha serta rencanamu berhasil baik….”


Apa yang bisa kita renungkan?

Setiap pertimbangan sebelum kita bertindak perlu mempertimbangkan keberadaan Tuhan, orang yang lebih tua, orang yang sederajat, dan orang yang "dibawah" kita. Pertimbangan seseorang harus menjauhkan dirinya dari kata "Aku". Kata itu adalah kata yang boleh dipakai terakhir kali saja.

Apa yang kita kerjakan mempengaruhi hidup orang-orang di sekitar kita. Kita tidak boleh egois. Pertanyaan yang harus selalu muncul adalah: “Bagaimana ketulusan, persahabatan, rasa kemanusiaan, kejujuran, kesetiaan ada dalam diriku secara utuh sehingga aku dapat hadir sebagai pribadi yang matang bagi sesamaku? Hanya manusia yang setia pada dirinya yang bisa setia kepada sesamanya. Tingkat kedewasaan dan kematangan aktual seseorang tergantung dari: kemampuan seseorang akan persepsi terhadap realita; kemampuan kepekaan untuk merasakan, menghargai, bahkan berani berkorban untuk nilai-nilai yang ada; kemampuan untuk memilih nilai-nilai dan tetap setia pada nilai yang telah dipilih meski tergoda untuk mengubah pilihannya. Sudahkah Aku memiliki kedewasaan untuk ini semua?

Dominus Vobiscum!!!

@daM Soen, Pr.

(Sumber: Buletin Paroki Minggu, 20 Jan 2008)

Uji Kelayakan Lembaga Fatwa

Oleh: Mohamad Guntur Romli

Apa kriteria sebuah lembaga fatwa (dârul iftâ’) agar bisa dipercaya? Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibn Mandzur, fatwa memiliki beberapa makna. Yang terpenting: fatwa berarti penjelasan atas persoalan yang musykil dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Selanjutnya, ulama fikih membangun terminologi fatwa, yang saya sarikan dari pendapat Ibn Hamadan dalam kitab Al-Furuq, bahwa fatwa adalah penjelasan dan pemberitahuan tentang hukum syariat tanpa ikatan kemestian–tabyî n al-hukm al-syar’i wal ikhbar bihi duna ilzâm. Dari terminologi ini, fatwa adalah penjelasan dan pemahaman, maqam-nya bukan maqam syariat, dan perlu batas yang tegas antara fatwa dan hukum syariat.


Yang lebih penting lagi dari penjelasan tentang fatwa tersebut bahwa fatwa dari seseorang atau lembaga tidak mesti diikuti, tak ada keharusan untuk menjalankan sebuah fatwa. Kesimpulan yang bisa ditarik: sifat fatwa tidak mengikat, karena ia hanyalah penjelasan, kadarnya jauh di bawah hukum syariat. Hukum fatwa tidak mutlak sebagaimana hukum syariat.

Jarak antara syariat dan pendapat ini sangat disadari oleh para imam pendiri empat mazhab yang terkenal dalam fikih: Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali. Menurut Imam Hanafi, “Tak seorang pun boleh mengambil pendapat kami, tanpa mengetahui asal-usul pendapat kami.” Imam Maliki berujar, “Aku manusia biasa, bisa benar dan salah, maka telaahlah pendapatku.” Imam Syafi’i menegaskan, “Jika Anda menemukan dalam kitabku yang bertentangan dengan sunah, ikutilah sunah dan tanggalkan pendapatku.” Imam Hanbali menyimpulkan, “Jangan bertaklid padaku atau pada Maliki, Syafi’i, Awza’i, atau Tsauri, ambillah asal-usul pendapat mereka.”

Para “imam-mazhab” itu sangat menyadari keterbatasan ijtihad manusiawi dan adanya batas di antara dua wilayah: syariat dan pendapat, serta iktikad untuk menggerus kerak fanatisme yang acap kali menutupi akal sehat umat.

Fatwa juga tidak bisa menjadi hukum publik. Dikisahkan dalam kitab Siyar A’lâm Nubalâ’(Biografi Para Tokoh yang Mulia), ketika seorang khalifah Bani Abbasiyah meminta Imam Malik menjadikan kitabnya, Al-Muwaththa’ , menjadi hukum negara, dan menggantungkannya di Ka’bah, dengan tegas Imam Malik menolak.

Pun sebuah fatwa harus dikeluarkan dengan penuh hati-hati. Fatwa tak bisa dilontarkan secara amat mudah (al-tasâhul): tak semua pertanyaan dibutuhkan fatwa, tak harus menjawab seluruh pertanyaan gara-gara menjaga gengsi.

Menjawab semua pertanyaan adalah kegilaan. Dari hadis riwayat Al-Baihaqi, “Barang siapa yang menjawab seluruh pertanyaan dari manusia, berarti dia majnun. Singkatnya, mudah berfatwa hanya dilakukan oleh orang gila.”

Dengan demikian, para ulama fikih klasik yang memperbincangkan tema ini tidak memisahkan antara pentingnya fatwa sekaligus risiko dan dampak dari fatwa. Bagi mereka, ulama sebagai ahli waris para nabi (waratsatul anbiyâ’) memiliki posisi yang penting untuk melayani permintaan dan menjawab pertanyaan umat.

Namun, risikonya jauh lebih besar. Dari hadis yang diriwayatkan oleh Al-Darami, misalnya, “Orang yang paling berani berfatwa di antara kalian berarti ia paling berani masuk neraka.” Karena itulah, fatwa hanya berasal dari mereka yang memiliki bekal ilmu pengetahuan yang lebih. Bagi mereka yang berfatwa–dalam beberapa riwayat hadis disebutkan “tanpa ilmu”–diancam hukuman berlapis-lapis: “dilaknat malaikat langit dan bumi”, “didudukkan di atas api neraka”, dan “menanggung dosa dari manusia yang mengikuti fatwanya”.

Namun, yang terjadi saat ini bertolak belakang. Dalam konteks politik, fatwa kekinian yang sering dimunculkan hanyalah doktrin bahwa ulama ahli waris nabi, sedangkan kewajiban dan kriterianya dibenamkan dalam-dalam.

Padahal Nabi Muhammad diakui sebagai nabi karena memiliki kriteria kenabian, yang membedakan dia dengan mereka yang hanya mengaku-ngaku nabi. Secara otomatis, bagi mereka yang ingin dianggap sebagai ahli waris nabi, tentu saja harus memiliki kriteria. Bila tidak, mereka hanya mengaku-ngaku ahli waris nabi.

Percakapan tentang kriteria ulama yang mampu berfatwa inilah yang raib dari percakapan publik. Maka tak mengherankan bila fatwa malah menimbulkan kekacauan. Dalam kondisi ini, perlu ada pembenahan yang harus dilakukan dimulai dari pemerintah. Dalam sepanjang sejarah, sebuah majelis fatwa tak terpisah dari kekuasaan.

Dalam pengantar kitab Al-Majmû’ karya Imam Al-Nawawi, ditegaskan: pemerintah memiliki kewajiban menyeleksi para mufti, bila layak, ditetapkan, bila tidak, mesti diturunkan. Dalam istilah sekarang, seorang mufti harus melewati uji kelayakan. Sayangnya, hal ini tidak terjadi di negeri ini. Dalam kitab ini juga diceritakan bahwa Imam Malik tidak pernah berani berfatwa kecuali setelah ada 70 orang yang memberi kesaksian bahwa ia layak berfatwa.

Semestinya uji kelayakan ini diterapkan pada sebuah lembaga fatwa di mana pun, termasuk di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia perlu melewati uji kelayakan, karena MUI hasil bentukan pemerintah sebagai alat kepentingan Orde Baru, sehingga memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan pemerintah, baik dari sisi sejarah maupun donor dana. Dan uji kelayakan terhadap MUI ini juga bertujuan menjaga martabat dan integritas organisasi itu.

Prediksi ke depan, menurut saya, akan sangat mudah kalau hanya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa fatwa adalah pendapat tentang hukum syariat, bukan syariat itu sendiri. Sifat fatwa tidak mutlak dan tak mesti dituruti, mengingat masyarakat di negeri kita pun sangat mengenal keragaman fatwa. Karena itu, tak layak apabila fatwa dijadikan penghakiman berlebihan terhadap orang lain atau fatwa dipandang dengan penuh fanatik, apalagi dijadikan dalih sebagai kekerasan terhadap pihak lain.

Para penegak hukum di negeri ini semestinya berpegang teguh pada konstitusi negeri ini, bukan pada fatwa-fatwa keagamaan itu, yang sifatnya sama sekali tidak mengikat. Konstitusi kita menjamin kebebasan dan keragaman beragama di negeri ini. Maka jangan pedulikan, bahkan lemparkan jauh-jauh, fatwa yang menolak keragaman itu.

Namun, langkah yang terberat, dan mungkin sebuah misi yang mustahil, melakukan pembenahan dalam organisasi fatwa, terutama menggelar ujian kelayakan bagi para mufti itu. Sebab, ketika fatwa mereka dikritik dan dipertanyakan kelayakannya karena lebih banyak menimbulkan mafsadah daripada maslahah– dengan munculnya kekacauan di mana-mana–mereka akan balik mendamprat, “Kami ahli waris para nabi.”

Sumber: Koran Tempo, Jumat 18 Januari 2008

Monday, January 14, 2008

“Roh jahat pun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya."

“Roh jahat pun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya."

(1Sam 1:9-20; Mrk 1:21b-28)

“Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu menggoncang- goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya , katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk 1:21b-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Maling berteriak maling” (=Pencuri berteriak pencuri), demikian rumor yang sering terjadi di antara para penjahat untuk melindungi diri. Begitulah pada umumnya yang terjadi: para penjahat atau koruptor berusaha pasang kuda-kuda untuk melindungi diri dengan teriakan keras atau gertakan dengan mengandalkan kekekaran tubuh, kuasa atau kedudukannya, sebagaimana diwartakan oleh Injil hari ini. “Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret”, begitulah reaksi cepat dan keras dari roh jahat ketika melihat Yesus. Namun dengan sabdaNya akhirnya roh jat tersebut diusir dan pergi, sabdaNya sungguh kuat kuasa, penuh wibawa. Kita semua kiranya dapat meneladan Yesus, yaitu ketika menghadapi gertak sambal dari para penjahat atau orang jahat di sekitar kita hendaknya tetap tenang, sabar dan rendah hati serta kemudian tanggapilah dengan kata-kata yang bijak dan wibawa, tepat pada sasaran. Jika kita senantiasa bersatu dan bersama dengan Tuhan, kami yakin kita dapat mengalahkan berbagai macam rayuan dan gertakan penjahat di sekitar kita. Kehadiran atau kedatangan orang baik, cerdas beriman di sana-sini pada umumnya menggetarkan para penjahat, orang-orang jahat dan mereka langsung berreaksi keras untuk melindungi diri. Marilah kita senantiasa dalam keadaan baik, cerdas beriman, agar kehadiran dan kedatangan kita di manapun dan kapanpun menjadi kabar baik di mana-mana dan kita dapat mengusir roh-roh jahat yang bercokol dalam diri sesama dan saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup kita. Hadapilah dan sikapilah aneka gertakan sambal dengan lemah-lembut, rendah hati dan kasih, maka ia akan diam dan taat kepada kita. Maka seperti doa dari St.Fransiskus Asisi, marilah kita bawa cintakasih dimana ada kebencian, pengampunan dimana ada penghinaan, kerukunan dimana ada perselisihan, kepastian dimana ada kebimbangan, kebenaran dimana ada kesesatan, harapan dimana ada kecemasan, kegembiraan dimana ada kesedihan dan terang dimana ada kegelapan.

· "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”(1Sam 1:11), demikian doa Hana kepada Tuhan. Doa yang sungguh keluar dari lubuk hati terdalam dengan penuh penyerahan diri itupun akhirnya dikabulkan oleh Tuhan, Hana dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Samuel. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN.". Anak yang dianugerahkan oleh Tuhan itupun akhirnya dipersembahkan kembali kepada Tuhan, menjadi hamba Tuhan. Maka bercermin dari pengalaman Hana ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua/suami- isteri, khususnya para ibu/isteri untuk rela sepenuh hati berani mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan. Kita berharap anak-anak kelak kemudian hari tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, syukur di antara anak-anak ada yang terpanggil secara khusus menjadi imam, bruder atau suster. Dan sekiranya anak-anak kita kelak membangun keluarga, kita berharap mereka juga akan menjadi suami-isteri yang sungguh berbakti kepada Tuhan. Marilah kita semua menyadari dan menghayati bahwa masing-masing kita berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan dan harus kembali kepada Tuhan, meninggal dunia dalam Tuhan. Agar kita dapat kembali kepada Tuhan dengan baik, bahagia dan selamat kiranya selama dalam perjalanan hidup di dunia ini kita senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, berbuat baik kepada sesama dan saudara –saudari kita.

“TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga” (1Sam 2:6-7)

Jakarta, 15 Januari 2008

ROH JAHAT SAJA DIPERINTAHNYA, DAN MENTAATINYA,

NAMUN MESKI SUDAH DIPERINTAH BERKALI-KALI,

BANYAK NABI, RASUL DAN SAKSI DIKIRIM UNTUK MENGINGATKAN,

PERISTIWA ALAM TERJADI BERTUBI-TUBI,

TETAP SAJA MANUSIA KERAS KEPALA

TAK SUDI MENGAKUI KESALAHANNYA, TETAPI MINTA DIAMPUNI

TETAP MINTA DIPERHATIKAN, MESKI

MENIKMATI PERMAINAN MEDIA MASSA


(Sumber: Kiriman dari Rm. Adi W, SJ)

Baptisan 13 bayi, cincin Paus, Pesta Kana



Hari Minggu 13 Jan kemarin, dalam liturgi ekaristi hari raya Pembaptisan Tuhan, Paus Benediktus XVI membaptis 13 bayi (6 perempuan, 7 lelaki) di Kapel Sistina. Baptisan di Vatikan oleh Paus pada hari raya itu ini mulai mentradisi pada zaman Paus Yohanes Paulus II. Suasana di kapel itu lain dari biasanya. Tempat yang sehari-harian padat dikunjungi turis, atau dipenuhi para kardinal selama konklaf, tiba-tiba berubah jadi seperti gedung gereja paroki di Jawa, penuh dengan keluarga bayi yang mau dibaptiskan, lengkap dengan bapak & ibu permandian. Para bayi baptisan itu ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang tersenyum-senyum, ada yang tertidur nyenyak.

Diberitakan di pelbagai media bahwa di kapel Sistine itu Paus merayakan misa membelakangi umat. Memang demikian. Tetapi bisa pula dikatakan, beliau memimpin umat bersama-sama menghadap altar dan salib. Homilinya menyemangati kaum beriman untuk membina keluarga sebagai wahana untuk memupuk kehidupan sambil menjauhi budaya kekerasan yang merajalela dewasa ini dalam bentuk "jingklak-jingklak kesetanan" yang melawan keberadaban. (Istilah Latin yang dipakai Paus kemarin bunyinya bagai halilintar di telinga kaum beriman abad 3 dulu, yakni "pompa diaboli", jingklak-jingklak (= pompa) si setan (diabolos), istilah yang pernah dipakai Tertullianus ketika mengecam habis-habisan orang beriman yang kecanduan nonton gladiatores saling bunuh dulu.) Tetapi homilinya juga berisi katekese yang mendalam namun sederhana mengenai sakramen baptis dan lambang-lambangnya.

Pada akhir liturgi ini entah kenapa tiba-tiba Paus heran memandang ke sebelah. Ternyata cincin beliau lepas dan jatuh. Liturgos yang yang anggun memakai superpli berenda-renda dan tampak puas dengan jalannya upacara hingga saat itu sertamerta kedodoran mengejar cincin, menangkapnya, lalu munduk-munduk menyampaikannya kembali kepada Paus yang dengan wajar dan kalem mengenakannya kembali. Cincin paus kok lepas justru pada saat itu? Boleh jadi karena tarikan sentrifugal ketika beliau mengayunkan lengan ke bawah sehabis menyentuh altar. Nah, ikuti saja gosip pers mengenai pertanda cincin lepas ini.

Teringat kejadian di Biblicum beberapa tahun lalu yang pernah saya ceritakan dalam konteks lain. Seorang romo Biblicum (sekarang sudah emeritus dan pulang ke provinsinya) , kesukaaannya ialah mencium cincin para prelat. Satu ketika ada uskup datang dan cincinya dicium keras-keras oleh romo itu sampai copot akiknya dan terkulum, untung tak tertelan. Memang dudukan akik itu sudah rada ogak agik karena katanya cincin itu pernah jatuh. Tapi uskup ybs. penuh humor dan bilang ini pertanda baik bakal ganti cincin. Benar juga, tahun berikutnya beliau jadi Kardinal dan cincinnya lain, lebih lebar dan tak pakai akik. Jadi bisa dicium tanpa kawatir tesisil permatanya. Satu hari beliau datang lagi ke Biblicum dan kali ini juga cincin kardinalatnya dicium keras-keras oleh sang romo yang berkelekatan tak teratur yang belum bisa lepasbebas itu. Saya khawatir jangan-jangan kali ini jari bapak Kardinal ybs. prothol terhisap cium dan kami disuruh nempuhi. Untung semuanya berjalan baik-baik dan Kardinal ybs. malah memberkati romo tadi dan seisi rumah lalu menyemangati kami agar baik-baik menjaga keutuhan akademik Biblicum dan setia dengan gereja, dst. Kami lega karena jari dan cincinnya masih utuh.

Tentang cincin juga ada pengalaman pribadi. Di Hongkong empat tahun lalu saya tergiur beli cincin batu giok hijau yang katanya bisa bikin ayem dan kurugan rezeki, dst. Tetapi ketika pakai cincin itu saya beberapa kali diprimpeni Sun Wukong, yakni kera sakti yang mau mengajak saya ikut berkelana bersama rahib Sanzhang ke India lewat gurun Gobi mencari kitab-kitab ilmu prana diiringi mahluk-mahluk aneh lain. Syaratnya saya dijadikan seekor kutu di bulu-bulu Sun Wukong yang sik-sikan sepanjang jalan. Pergi ke India lewat Kunlun memang keinginan saya, tapi jadi kutu ngisap darah kera lain perkara. Sejak itu saya kapok cincin-cincinan. Sudah saya ikhlaskan batu giok tadi dan buang ke laut, biar ditelan naga.

Kemarin pulang dari Vatikan saya lewat gedung parlemen dekat sini (Palazzo Monteciterio) . Ternyata gedung itu tiap Minggu pertama dalam bulan boleh dikunjungi umum. Lalu saya ikut masuk rombongan yang dipandu staf gedung itu.. Hebat juga, dulu gedung itu mulai dibangun oleh arsitek Bernini atas suruhan Paus Innocentius X dan baru selesai dalam masa Paus selanjutnya dan oleh arsitek lain yaitu Carlo Fontana. Sejak selesai menjelang akhir abad 17 hingga tahun 1870 gedung Monteciterio itu dipakai untuk menerima kunjungan resmi kepada Paus dan pelbagai urusan administrasi kepausan lainnya. Banyak karya seni mengisi gedung itu. Dalam salah satu ruang ("ruang kuning") ada lukisan besar, kira-kira 5 x 7 meter, yang menggambarkan adegan pesta di Kana yang dilukis oleh kakak beradik Paolo dan Benedetto Veronese. Di sana Yesus duduk di tengah, di kelilingi tetamu, dan tentu saja Ibu Maria. Busana orang-orang dalam lukisan itu mencerminkan mode abad 16. Yang menarik, duduk di hadapan Yesus seorang suster. Ia membelangi kami, tetapi menoleh ke belakang, ke kami yang di luar lukisan, dengan pandangan dingin tajam berwibawa khas suster superior yang amat disegani. Kiranya dulu lukisan itu ada di sebuah biara susteran yang superiornya lazimnya dari kalangan bangsawan tinggi. Jelas lukisan itu pesanan suster superior yang dilukis di situ. Ini bukan kebiasaan langka pada zaman itu.


Salam,
Gianto

(Sumber: kiriman dari Mbah Adi W)

Sunday, January 13, 2008

Ideologi Islam Transnasional sukses, Indonesia berubah total


Top of Form

Bottom of Form

Keberadaan ideologi transnasional belakangan ini menjadi perbincangan yang cukup mengemuka, khususnya di kalangan umat Islam akibat gerakan-gerakan yang mereka lakukan dan kaum nasionalis yang merasa terancam akan kelangsungan NKRI terkait dengan upaya formalisasi syariah di Indonesia.

Sebenarnya apa dan bagaimanakah ideologi transnasional ini. Bagaimana sejarah dan apa akibatnya jika ideologi ini terus berkembang di Indonesia, berikut ini pandangan Dr. KH Ghozalie Said, penulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir," dengan NU Online saat berkunjung di kantor PBNU pertengahan Juni lalu.

Islam transnasional ini sebenarnya apa?

Saya memang menulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir," itu istilah. Tapi akhir-akhir ini, ini sebetulnya istilah badan intelejen dan rupanya berdasarkan laporan-laporan anggota BIN, yang dimaksud adalah gerakan Islam yang berada di tanah air tapi yang mengendalikan dari luar, misalnya Ikhwanul Muslimin, suatu contoh, ini pengendali utamanya dari Mesir. Jadi kedudukan al Mursyidul Aam di Mesir.

Kemudian menuju ke Indonesia dalam sejarah penjangnya menjadi dua faksi. Faksi pertama faksi resmi, namanya ikhwan juga. Di masing-masing negara lain, namanya lain-lain. Di Sudan namanya Jamaah Islamiyah, menjadi partai politik karena menerima negera demokrasi dan menerima negara nasional, tetapi penerimaan ini sebagai sarana membentuk pemerintahan Islam dengan syariah. Namanya macem-macem, di Aljazair menjadi FIS, di Syiria dulu ada partai sendiri, di Palestina menjadi Hamas dan kemudian di Indonesia menjadi PKS. Ini jalur resmi dan musryidul amnya ada di Mesir.

Kemudian ada faksi jihad, istilah BIN-nya itu Hudaibiyah. Yang saya tahu itu Hadibi karena musryid aamnya yang kedua itu Hassan Hadibi. Nah ketika Hassan Hadibi menjadi mursyid aam, ada faksi tandimul khosnya, walaupun sudah ada sejak zaman Hassan al Banna, tetapi lebih radikal ketika tokoh tandimul khosnya itu dipegang oleh Sayyid Qutb. Tandimul khos itu kalau bahasa NU-nya Banser, para militer. Kalau Bansernya sini kan tidak punya senjata, disana punya senjata.

Doktrinnya itu dari Sayyid Qutb. Bukunya yang sangat terkenal itu Maali fit Thorieq atau Pelita Jalan yang menyatakan diantaranya, suatu negara yang tidak memberlakukan syariah, berarti negera itu jahiliyah. Maka musuh utamanya adalah pemimpin negera itu. Sebelum memusuhi Israel, memusuhi negaranya sendiri saja. Kedua, negara yang tidak memberlakukan syariat Islam ya negara jahiliyah, karena negara jahiliyah, fikih menjadi tidak penting. Itu nanti berbeda dengan Wahbah Zuhaili, yang waktu itu masih muda.

Faksinya Sayyid Qutb ini membentuk Islam radikal yang non negara, non resmi dan keras yang melahirkan di Mesir Jamaah Islamiyah, Al Jamaat al Islamiyyah. Itu anti negara, ini juga trans ke seluruh negara yang kemudian ketemu, ketika Soviet menduduki Afganistan, dibantu oleh kaum Salafy Saudi, yang tokohnya Osama bin Laden, ketemulah faksi ikhwan dengan faksi yang Wahabi, di Afganistan. Dari Afganistan, ada yang mengirim kelompok-kelompok sukarelawan dari Indonesia, ada Amrozi, masih anak-anak ketika disana, tapi sudah latihan perang. Akhirnya Jamaah Islamiyah yang muncul disana itu. Ini yang suka ngebom-ngebom.

Kalau faksi yang resmi itu ya ikhwan yang menganggap sebagai haraqah ustadziyah atau gerakan guru. Guru gerakan Islamiyah, jadi harus ditiru. Lha ketemu juga dengan kelompok lain yang mungkin non ikhwan sama-sama anti negera.

Gerakan model kedua dulu juga ikhwan yaitu Hizbut Tahrir (HT). Dulu Syeikh Taqiyuddin an Nabhani bergabung dengan ikhwan ketika perang melawan Israel tahun 1948. Karena kalah, kemudian ia mendirikan sendiri gerakan Islam karena setelah dievaluasi tidak memiliki khilafah Islamiyah sehingga membuat umat Islam kalah. Maka ia mendirikan ini. Dan ini pengendalinya juga dari Yordania. Baik Ikhwanul Muslimin di Mesir dilarang, HT di Yordania juga dilarang. Di tiga negara kan, di Lebanon, Syiria dan Jordania kan dilarang. Itu dirahasiakan, pemimpin sekarang namanya Abu Rosta. Di Indonesia itu kan nggak pernah muncul itu ketua HTI itu namanya Habib Abdurarahman, yang muncul kan Ismail Yusanto, itu sebenarnya kan krucuknya sebetulnya. Terus di Surabaya ada dokter Usman. Pokoknya Jubirnya. Nah, HT ini ciri khasnya itu taat pada kebijakan internasional ini, itu tidak mau menerima negera. Jadi dia tidak akan mau menjadi partai politik, tidak akan mau karena negara itu sistem yang kufur, demokrasi itu sistem yang kufur.

Konsekuensinya, ia bisa mentaksir pada orang lain, walaupun disembunyikan. Karena sudah kufur, berarti ini ini ini. Ada tahapan-tahapannya. Ini yang HT. Kemudian, ada gerakan nasional juga, transnasional juga tapi dikendalikan juga, ada Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di Jepang, di Inggris dan lainnya, tapi itu semuanya bangsa Indonesia. Di Amerika ada, di Australia ada, semuanya Indonesia. Itu bedanya. Konflik itu timbul ketika gerakan transnasional ini menggerogoti asset-aset milik NU atau Muhammadiyah atau organisasi lainnya.

Kayak NU atau Muhammadiyah kan ikut ambil bagian dalam mendirikan negera ini. Jadi antara Islam dan nasionalisme orang Indonesia yang menjadi the founding father adalah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Seperti orang Melayu pasti Islam, Islam adalah orang Melayu, sudah menyatu seperti itulah, otomatis merekalah yang membuat budaya, diantaranya budaya masjid, tradisinya, yang sudah terbentuk karena sudah lama. Nah gerakan-gerakan baru ini kan belum punya tradisi, nah paling cepat ngambilin masjid yang tak terawat, mereka masuk. Tapi saya kira kita ambil manfaatnya saja. Kalau tidak gitu, NU kan tidur terus. Menurut saya begitu. Memang programnya masjid-masjid di tingkat kabupaten akan dikuasai, terutama HTI. Kalau Ikhwanul Muslimin, kalau partai politiknya jadi PKS yang berasal dari usroh, tarbiyah Islamiyah itu di kampus-kampus itu yang digerogoti kan Muhammadiyah karena banyak kader Muhammdiyah- nya. Tapi banyak juga yang membuat masjid. Tapi kalau HTI tidak, nggak buat masjid, kalau PKS membuat masjid yang memang disediakan untuk kegiatan mereka.

HTI kan juga berusaha masuk ke pesantren-pesantren ?

Oh ya, mereka aktif, jam lima pagi itu sudah datang ke mana-mana dan mereka umumnya tidak faham, hanya didoktrin saja, khilafah Islamiyah, wong saya diparani tak bilangin, kapan sih khilafah Islamiyah ini berdiri. Kan Syeikh Taqiuddin an Nabhani kan bilang 30 tahun, mulai tahun 1952. Sekarang kan sudah 50 tahun lebih, mana yang ada khalifahnya. Saya kira itu romantisme masa silam, bukan masa depan. Kalau NU Muhammadiyah kan masa depan, mereka kan ingin kembali ke masa silam.

Ketika gerakan-gerakan ini pemimpin pusatnya berada di luar negeri, apakah ini akan mengancam integritas Indonesia?

Saya kira kalau ini sukses, ya otomatis diubah negara ini, menjadi negera Islam, otomatis tidak negera kesatuan, tidak UUD 1945, mesti diubah karena memang sudah begitu programnya. Saya kira pemerintah itu mestinya jelas ada kebijakan, tidak dibiarkan begitu saja. Atau memang disengaja oleh pemerintah disamping ada gerakan Islam, ada gerakan kiri sebagai pengimbang. Katanya pada 27 Juni ini ada Kongres Khilafah di Senayan. Dan bukan main mereka, suplai dananya, disamping dari anggota disini, itu dari orang-orang kaya Saudi. Itu kan kelompok ahlusunnah yang seperti itu, ahlusunnah sendiri kan macem-macem. Lain pula yang syiah. Ada dua syiah di Indonesia, ada Ijabi, itu moderat, plural, ada pula Elkap, koordinasi ahlul bait pokoknya, ya itu yang agak fundamentalis.

Kalau dilihat dari aspek ajaran, itu sebenarnya ada ajaran yang signifikan tidak, atau sekedar ideologi politiknya?

Sebenarnya kalau dalam bidang peribadatan, hampir rata, Wahabi semua. Mereka tidak seneng tahlil, paling moderat, tidak anti tetapi tidak melaksanakan. Lha yang paling ekstrim itu anti, itu di bidang tradisi keagamaan. Tradisi pemahaman politiknya adalah hadist nabi "man maata, walaisa biunukhihi baiah mata mitaatan jahiliyyah" barangsiapa yang meninggal dan tidak pernah berbaiat khalifah, maka ia mati jahiliyyah, dianggap mati kafir. Ini kan berat secara teologis. Kita ini dianggap tidak Islam lagi karena tidak ikut faham mereka. Itu hampir sama.

Jadi kalau Ikhwanul Muslimin, wama la yahkum bima anzalallah, faulaaika humul kaafiruun. Itu dalilnya dan saya lihat khutbah-khutbahnya begitu, saya denger begitu. ya otomatis berbeda dengan NU. Lha NU itu harus membuat cara berfikir tandingan yang mengimbangi cara fikir.
Ini harus diputuskan dalam forum tertinggi. Jadi kalau di HTI itu ada namanya taqwim assaqsayah islamiyyah atau pembentukan kepribadian Islam, itu perlu perbedaan. Kalau di HTI itu bagaimana mengamalkan syariah, tapi yang tak ada tahlilannya, kan beda dengan NU. Kemudian kedua, tafkih, intelektualitasi, beda itu. Kalau NU kan tak suka berdebat, kalau mereka, masalah harus diperdebatkan, namanya syiroul fikr atau pertarungan pemikiran. Kedua itu ada taamul maklumah atau gerakan sosial. Jadi ada dua tangga, satu namanya syiraul fikr. Kedua taamul maklumah, dan yang terakhir istilamul hukm atau merebut kekuasaan. Lha di NU supaya begitu gimana, kan jelas. Makanya harus ada fikrah nahdliyyah harus jelas apa yang harus dituju.

Mereka berhasil menarik kalangan muda dan intelektual kampus sehingga dalam pemilu berhasil menarik suara yang cukup besar, apa yang menjadi kunci keberhasilannya?

Karena kecenderungan masyarakat sekarang cenderung berfikir istidlali. Itulah yang paling benar, berfikir normatif, dari Qur'an, Hadist, kalau nga ada ya salah lah. Lha ini paling gampang, sementara kelompok lain terbiasa cara berfikir istiqroi. Ini sebenarnya applied, eksperimen. Lha cara berfikir seperti ini lamban, butuh intelektualitas yang tinggi, sedangkan yang satunya tidak butuh. Lho ngga ada di Qur'an, bid'ah, lha gitu kan gampang. Tapi kalau ini kan butuh penalaran yang dalam.

Sebab kedua, orang Islam yang lama itu kayak NU dan Muhammadiyah cenderung korup menurut saya, sudah menikmati singgasananya, nggak bisa melakukan mobilisasi ekonomi yang baik. NU kan sudah berumur 80 tahun lebih, tapi kan kalau lihat proposalnya, 90 persen kan permohonan bantuan. Lha kok begini, melihat pemimpinnya kok tengkar, korup, lha otomatis ini kan tidak menarik bagi kalangan muda, tidak ideal.

Sebab ketiga, konstitusi kita itu dianggap dalam perjalanannya tidak pernah stabil, tergantung yang mimpin.
Waktu dipimpin Soekarno, ya presiden seumur hidup. Setelah Soeharto ya P4. Reformasi ya ganti lagi, kan ruwet ini, ganti lagi. Nah ini menimbulkan kekecewaan pada generasi muda, apa tidak lebih baik Islam sebagai solusi. Dimana-mana ya begitu kampanyenya, disamping tekanan internasional seperti Islam selalau dirugikan yang memunculkan perlawanan.

Ke depan bagaimana? Apa bisa berkembang semakin besar, stagnan atau malah mengalami penyusutan?



Tergantung pada sparing partnernya. Kalau NU masih seperti sekarang dan tidak ada peningkatan, baik dari sisi kegiatan, pengaturan organisasi, mereka akan berkembang. Tetapi kalau ada semangat melakukan perbaikan ke dalam, pemimpinnya menjadi bersih, saya kira tidak bisa itu.
Tapi kita lihat saja karena programnya ini, tahun 2009, yang partai politik targetnya merebut RI 2, tahun 2014 RI 1. Kita lihat dan ini test casenya pemilu DKI. Kemarin di Banten kalah pemimpinnya, sekarang DKI bagaimana, kalau menang ya tambah dekat. Harus siap-siap konstitusi ini diganti. Saya kira itu.

Disitu bedanya, karena NU dan Muhammadiyah sebagai founding fathers yang ikut meletakkan Pancasila. Artinya ada suasana keterikatan secara kebatinan dalam kontinyuitas negera. Jadi history continuity. Kita punya beban moral. Tapi kalau istilahnya Anis Matta ketika kampanye waktu saya datang "Kami akan datang sebagai partai yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang pendahulu kita" dia menyitir sebuah syair. Jadi kalau PKB kan masih terbayang- bayang kebesaran NU, PAN masih terbayang-bayang kebesaran orang Muhammadiyah. Kalau PKS datang tanpa bayang-bayang orang tua. "Kami orang muda dan tak mengatakan siapa pendahulu kita. Pendahulu kita adalah kita sendiri." He he he.... (mkf)


Sumber: NU ONLINE - 02/07/2007

Friday, January 11, 2008

"You say/God says."

 
You say, "It's impossible."
God says, "What's impossible for human beings is possible for me." (Luke 18: 27)

You say, "I'm too tired."
God says, "I will give you rest." (Matthew 11: 28)

You say, "I can't do it."
God says, "You can do all things through Christ."
(Philippians 4: 13)

You say, "I'm always worried and frustrated."
God says, "Cast all your cares on me." (1 Peter 5: 7)

You say, "I feel all alone."
God says, "I will never forsake you or abandon you." (Hebrews 13: 5)

You say, "I'm not smart enough."
God says, "I . . . shall give you a wisdom in speaking that all your adversaries will be powerless to resist
or refute." (Luke 21: 15)

You say, "I'm afraid."
God says, "I have not given you a spirit of cowardice, but rather a spirit of power and love and
self-control." (2 Timothy 1: 7)

You say, "I can't figure things out."
God says, "I will direct your steps if you trust me." (Proverbs 3: 5-6)

You say, "I can't go on."
God says, "My grace is sufficient for you." (2 Corinthians 12: 9)

You say, "Nobody loves me."
God says, "I have loved you with an everlasting love." (Jeremiah 31: 3)

You say, "I don't have enough faith."
God says, "If you have faith the size of a mustard seed you can move mountains." (Matthew 17: 20)

You say, "I can't be forgiven."
God says, "Though your sins be like scarlet, they may become white as snow; though they be crimson red, they
may become white as wool." (Isaiah 1: 18)

And finally:

You say, "Nothing good can possibly come out of my trials and sufferings and mistakes."
God says, "If you truly love me, everything in your life will work together for good, and that includes
your trials, sufferings and mistakes." (Romans 8: 28)

To accent the importance of his message, Jesus often ended his sermons by saying, "Whoever has ears ought
to hear." (Cf. Matthew 13: 9)
Today I end my homily with similar words: "Whoever has problems (and who

doesn't?!) ought to read the Bible every day, to find out what God says."

*** k2, tks fr ur meditation ye..***

10 KUALITAS PRIBADI

1. Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.

Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak".
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah Hati

Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty

Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

(kIRIMan dari Virly)