1.Berbahagialah orang yang terlalu capek, sibuk sehingga tidak punya waktu untuk bersekutu satu jam saja dengan TUHAN. Mereka adalah rekan kerjaku yang paling hebat.
2.Berbahagialah orang yang menunggu ditegur dan mengharapkan pujian. Aku bisa memperalat mereka.
3.Berbahagialah mereka yang terlalu sensitif. Dengan sedikit sentilan saja, mereka pasti tidak mau lagi bekerja dengan semangat. Mereka ini adalah "fans-ku".
4.Berbahagialah mereka pembuat masalah. Mereka akan disebut anak-anakku. Berbahagialah orang tukang mengeluh. Aku senang mendengarkan mereka.
5.Berbahagialah mereka yang sudah bosan dengan gaya dan kekeliruan bossnya, karena mereka tidak mendapat apa-apa dari pekerjaannya.
6.Berbahagialah setiap karyawan yang berharap dibujuk-bujuk untuk disiplin kerja. Orang seperti ini hanya menambah masalah baru.
7.Berbahagialah mereka yang suka gosip, karena mereka akan menimbulkan pertengkaran dan perpecahan. Ini sungguh menyenangkan saya.
8.Berbahagialah mereka yang gampang tersinggung, karena mereka akan cepat marah dan pindah pekerjaan lain.
9.Berbahagialah mereka yang egois dan mementingkan diri sendiri, mereka penolong saya.
10.Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci saudaranya karena mereka akan bersama saya selamanya.
11. Berbahagialah kamu yang membaca tulisan ini dan merasa ini cocok untuk orang lain dan bukan diri sendiri. Kamu sudah dalam tangan saya.
Pernah Anda melihat kuda penarik dokar? Setiap kuda penarik dokar selalu memakai kacamata. Bentuknya persegi empat, menutup mata kanan dan kiri sehingga arah pandang ke kanan dan ke kiri tidak ada. Kuda tidak dapat memindahkan letaknya tanpa bantuan dari si pemelihara. Fungsi kaca mata kuda itu adalah untuk memudahkan kusir mengendalikan jalannya kuda. Kuda hanya dapat melihat ke satu arah saja. Si kuda tidak diberi kesempatan untuk melihat alternatif lain selain yang ditunjukkan oleh si kusir. Si kuda hidup dengan satu arah pandang saja.
Masalahnya, seringkali yang dipaksa untuk hidup dengan satu arah pandang bukan hanya kuda saja. Kita pun juga seringkali dipaksa untuk melihat ke satu arah saja. Secara halus film-film, sinetron, acara radio, acara TV, iklan mencoba masuk ke dalam alam kesadaran kita dan mencoba membentuk kerangka berpikir kita menurut apa yang mereka kehendaki. Bukan hanya itu saja seringkali para artis dan bintang film juga melakukan hal yang sama. Mereka menawarkan kesan.Kalau menonton video klip lagu baru dari MTV kita akan melihat artis-artis yang cantik dan tampan, atau saat menonton acara wawancara dengan mereka kita melihat kelihatan begitu bahagia, segar,dan mempesona. Padahal siapa tahu pada saat yang bersamaan ketika acaranya dipancarluaskan artis yang bersangkutan sedang kusut dengan rambut awut-awutan karena habis bertengkar dengan suaminya.
Realitas tidak cukup dilihat dengan Pancaindra....
Dalam hidup kita ada Realitas tidak cukup dilihat dengan pancaindra saja. Realitas itu mempunyai seribu wajah. Dalam tingkat sederhana kita mengenal keping atau lembar mata uang yang mempunyai dua sisi. Ternyata kesannya bermacam-macam, yang jelas orang mempunyai banyak pikiran dengan uang itu. Atau bahkan gayanya bermacam-macam dalam upaya melihat keseluruhan realitas uang itu karena keterbatasan pandangan.
Panca indra kita hanya mampu menangkap kesan sejauh yang dapat dicerna oleh akal sehat kita. Banyak sekali pesan-pesanyang hilang begitu saja karena kita memang bukan mesin pencatat.Kita hanya ingat bagian-bagian yang menarik saja. Sama seperti kita mudah menghapal nama orang yang cantik, yang tampan, atau yang paling unik dan lucu. Kita mudah ingat bagian film yang paling menyentuh sedangkan bagian film yang lain kita lupa.
Jadi, kita tidak boleh keras kepala terhadap keyakinan yang kita miliki. Siapa tahu orang lain mempunyai aspek yang lain. Ada pepatah” di atas langit, masih ada langit”.
Bersyukur atas Anugerah Tuhan....
Tidak bisa dipungkiri dalam hidup kita ada saatnya ketika dipilihkan atau diarahkan memang enak. Tidak menantang kita untuk berpikir. Hanya sayangnya, kalau kita terus “disuapi” kita tidak akan pernah menjadi dewasa. Orang yang dewasa dapat mengerjakan sendiri apa dan berpikir sendiri mengenai apa yang perlu untuk kehidupannya.
Karena itu, pertama-tama kita perlu membuka mata lebar-lebar. Dengan cara ini kita tidak dibutakan oleh konsep kita sendiri. Kita tidak masuk ke dalam jerat menomorsatukan bahkan menuhankan pandangan yang searah itu. Kita terperangkap dan terpenjara dalam konsep-konsep kita sendiri yang sepihak; misalnya kita maunya hanya memakai pakaian merk tertentu, makanan jenis tertentu, teman model tertentu, dll..
Kedua, kita perlu meyakini adanya keterbatasan dalam diri kita. Jangan malu untuk mengakui keterbatasan dalam diri. Dengan adanya pengakuan itu kita memberi kesempatan kepada orang lain untuk memberikan nasehat baik kepada kita. Nasehat itu perlu agar kita tidak terjebak dalam seluk beluk kehidupan yang negatif. Kita harus menyadari bahwa ada banyak macam segi dalam kehidupan. Kita tidak boleh dibingungkan dengan adanya bermacam-macam alternatif pilihan. Pilihan yang kita lihat saat SMP berbeda ketika di SMU. Waktu di kota asal berbeda saat di Malang. Waktu di rumah orang tua berbeda saat di kos-kosan, dsb.
Ketiga, kita perlu mempunyai arah hidup sendiri Hidup kita pertama-tama adalah bertujuan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan. Kalau kita tidak mengisi hidup dengan ketiga hal tadi berarti kita telah kehilangan kendali untuk melihat realita hidup dengan benar dan menyeluruh.
Segala sesuatu yang ada di sekitar kita membantu kita mendekati tujuan kita diciptakan. Kita harus lepas bebas. Kita tidak boleh terikat pada hal-hal yang bersifat sementara yang sekarang ada dan besok sudah lenyap. Segala yang ada di dunia adalah sarana kita mencapai tujuan hidup kita. Yang ada bukan tujuan. Hanya membantu.
Untuk mencapai tujuan itu Tuhan memberikan anugerah: kehendak bebas, nurani, kesadaran diri, imajinasi. Dalam hal ini pembina di sekolah, orang tua di rumah, orang-orang bijak di masyarakat berfungsi sebagai sosok yang terus menerus memunculkan kesadaran akan tujuan utama dalam hidup sehingga konsep memuji, menghormati, dan mengabdi Allah menjadi bagian integral dalam hidup kita. Semuanya itu dibutuhkan untuk mengubah diri. Memang memerlukan waktu yang lama dan upaya terus menerus.
Belajar dari Surat Wasiat Tobit kepada Tobia (Tobit 4:1-21)
Bagaimana kita membentuk pandangan yang tepat bagi hidup kita, kita dapat belajar dari surat wasiat Tobit kepada Tobia, anaknya.
Wasiat Tobit kepada Tobia, anaknya:
“Hormatilah ibumu dan jangan kautinggalkan sepanjang hidupnya. Lakukanlah apa yang menyenangkan hatinya dan jangan hatinya kausedihkan dengan kelakukanmu…. Nak, ingatlah kepada Tuhan; sepanjang umur hidupmu jangan sampai berdosa dan melanggar perintah-perintah-Nya…. Berilah sedekah dari harta milikmu. Matamu jangan menyesal apabila engkau memberikan sedekah. Muka jangan kaupalingkan dari orang miskin, niscaya wajah Allah pun tidak akan dipalingkan dari padamu…. Nak, jauhilah percabulan…. Cintailah sanak-saudaramu dan jangan meninggikan hatimu terhadap mereka…. Janganlah upah orang manapun yang bekerja padamu sampai bermalam padamu. Sebaliknya bayarkanlah segera kepadanya…. Dari makananmu sendiri berikanlah kepada yang lapar dan dari pakaianmu sendiri kepada yang telanjang…. Mintalah nasehat dari setiap orang yang arif dan jangan kauhina nasehat yang bermanfaat. Pujilah Tuhan Allah setiap waktu dan mintalah kepada-Nya, supaya segala jalan hidupmu menjadi lurus dan supaya segala usaha serta rencanamu berhasil baik….”
Apa yang bisa kita renungkan?
Setiap pertimbangan sebelum kita bertindak perlu mempertimbangkan keberadaan Tuhan, orang yang lebih tua, orang yang sederajat, dan orang yang "dibawah" kita. Pertimbangan seseorang harus menjauhkan dirinya dari kata "Aku". Kata itu adalah kata yang boleh dipakai terakhir kali.
Apa yang kita kerjakan mempengaruhi hidup orang-orang di sekitar kita. Kita tidak boleh egosentris. Pertanyaan yang harus selalu muncul adalah: “Bagaimana ketulusan, persahabatan, rasa kemanusiaan, kejujuran, kesetiaan ada dalam diriku secara utuh sehingga aku dapat hadir sebagai pribadi yang matang bagi sesamaku?” Hanya manusia yang setia pada dirinya yang bisa setia kepada sesamanya. Tingkat kedewasaan dan kematangan aktual seseorang tergantung dari: kemampuan seseorang akan persepsi terhadap realita; kemampuan kepekaan untuk merasakan, menghargai, bahkan berani berkorban untuk nilai-nilai yang ada; kemampuan untuk memilih nilai-nilai dan tetap setia pada nilai yang telah dipilih meski tergoda untuk mengubah pilihannya. Sudahkah kita memilikinya?
(Sumber: @RD. adam S@en di Buletin Mingguan Gereja St. Antonius Padua)
O Yesus! Yang lemah lembut dan rendah hati, dengarkanlah seruanku. Dari hasrat untuk dihargai,bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk dikasihi,bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk dikagumi, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk dihormati,bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk dipuji, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk diistimewakan, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk didengar, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari hasrat untuk diakui, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan dihina, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan direndahkan, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan dicela, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan difitnah, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan diabaikan, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan dilecehkan, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan diperlakukan tidak adil, bebaskanlah aku ya Yesus. Dari rasa takut akan dicurigai, bebaskanlah aku ya Yesus.
Semoga orang lain lebih dikasihi daripada aku, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga orang lain lebih dihargai daripada aku, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga dalam pandangan dunia, orang lain semakin tinggi dan aku semakin rendah, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga orang lain dipilih dan aku ditolak, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga orang lain dipuji dan aku diacuhkan, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga orang lain lebih diutamakan daripada aku dalam segala hal, Yesus, berilah aku rahmat untuk menginginkannya. Semoga orang lain menjadi lebih kudus daripada aku, sementara aku berusaha menjadi kudus seperti yang seharusnya, Yesus berilah aku rahmat untuk menginginkannya.
Beberapa hari yang lalu saya boleh mensyukuri anugerah usia yang semakin bertambah (he he he makin tuwir alias tua). Setiap saat saya mengenang, mengingat dan menyukurihari ulang tahun menjadi saat saya mengenang, mengingat dan mensyukuri atas kehadiran seorang mama (seorang ibu). Hari ulang tahun menjadi hari ibu, tanpa campur tangan kelembutan seorang ibu mungkin saya tidak bisa seperti saat ini. Menarik sekali kata kehadiran yang seringkali membawa saya seakan-akan bisa terlibat di dalamnya. Kata kehadiran nampaknya sederhana, tetapi mengandung arti yang mendalam; apalagi kalau kehadirannya membawa makna dan arti dalam hidup seorang pribadi. Dari peristiwa kecil ini saya lalu bertanya: “masih adakah artinya suatu kehadiran orang beriman katolik untuk jaman saat ini?”.
Kilas Balik
Sudah sekian lama berziarah sebagai umat Katolik merupakan suatu rangkaian pengalaman hidup antara kegembiraan dan penderitaan, suka dan duka, sehat dan sakit, tertawa dan menangis, mewarnai misteri hidup panggilan umat beriman. Kualitas kehadiran seorang umat beriman, sangat dibutuhkan dalam dunia masa kini. Menarik dan menyentak atas apa yang dikatakan oleh Gabriel Marcel (seorang filsuf): letakperbedaan umat beriman “ADA” dan “MEMPUNYAI”yang sungguh menekankan bahwa nilai seorang pribadi bukan terletak pada “siapa mereka” akan tetapi “Apa yang mereka buat”.
Jujur saja saya mengatakan bahwa banyak kali kita tidak dapat “berbuat” apa-apa di dalam status/ kedudukan/ panggilan sebagai umat beriman Katolik. Kita sungguh dibutuhkan untuk “Ada/ Hadir” di sana. Kehadiran sesungguhnya mengingatkan kita bahwa ramah, riang, gembira, suka cita, dan pribadi yang bebas adalah esensi dari status/ kedudukan/ panggilan umat beriman. Gelar-gelar atau jabatan tidak dapat menjamin, program dan kerangka berpikir tidak mengeringkan air mata atau menimbulkan gelak tawa. Kehadiran suasana batin dan hati yang indah dan menarik, membawa suasana baru yang sangat berarti.
Kalau kita menoleh ke belakang, beberapa tahun silam kehidupan sebagai umat beriman Katolik (bdk. Aggiornamento dua minggu lalu), di sana kita dapat menemukan bahwa kita begitu kaya dengan pengalaman yang memperlihatkan kepada kita tiga kenyataan yang menopang dan memancarkanmisteri kehadiran sebagai umat beriman Katolik. Ketiga kenyataan itu adalah:belaskasihan,kesetiaan, dan semangat Ekaristis/ perayaan Sabda.
Belaskasihan membawa Visi
Kehadiran sebagai umat Katolik, pertama-tama adalah belaskasihan. Hendri Nouwen menamakannya “solidaritas”: kemampuan untuk berdiri teguh dengan orang lain sebagai salah satu dari mereka. Jika kehadiran itu adalah “berbelaskasih”, maka perlu mulai dengan menyatakan bahwa saya seperti orang lain. Kita berjuang, sukses, menangis, dan tertawa gembira sama seperti orang lain. Betapa sering kita telah mengampuni orang lain yang bersalah/ berbuat dosa sama seperti kita. Betapa sering kita berbicara dengan orang lain tentang kehilangan atau frustasi, sementara merasakan sengatan kesepian. Atau bahkan tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam diri orang-orang yang kita layani. Kita dapat hadir untuk mereka dalam belaskasih. Kita mampu mengkronfontasi penderitaan kita dengan kata-kata Tuhan kepada anak muda: “Engkau tidak jauh dari kerajaan Allah”. Belaskasih memberi kita mata dari Tuhan, mata yang melihat nilai di dalam kelemahan manusia yang paling besar sekalipun. Belaskasihan sungguh sangat dibutuhkan di dalam dunia masa kini yang terkoyak-koyak dan terbagi-bagi.
Menyerahkan diri dalam Kesetiaan
Kesetiaan adalah kenyataan dari kehadiran sebagai umat beriman. Suatu kualitas kehadiran yang berakar dalam realitas Allah. Allah akan selalu setia kepada orang-orang pilihanNya. Kesetiaan sungguh sangat penting dalam sebuah panggilan sebagai pengkitu Kristus. Bahwa kita harus jujur terhadap diri sendiri, sehingga Allah tinggal di dalam diri kita. Kesetiaan mulai dengan diri sendiri.
Betapa kita sering bersembunyi di balik panggilan yang kita emban, identitas nama permandian atau apa saja yang kita kenakan, salib yang kita gantungkan pada leher dan lain-lain. Symbol-symbol kesediaan dan komitmen dapat menjadi suatu cara menyembunyikan diri dari hubungan atau relasi atau control situasi yang tidak nyaman.
Dipanggil untuk Mengubah
Bila kita hidup dengan perasaan solider dengan orang lain, sementara kita menjadi pribadi yang sesungguhnya seperti yang diciptakan Allah, maka kita dapat hidup dalam semangat Ekaristis.
Orang yang merayakan Ekaristi, seringkali menghayati dan menghidupi dari sebuah perasaan semangat ekaristis/ perayaan Sabda di dalam hidup pribadinya. Semangat Ekaristis /Perayaan Sabda sebagai suatu aspek dari kehadiran sebagai umat beriman katolik yangmemampukan untuk mengikuti nasehat St. Paulus: “Bergembiralah dengan mereka yang bergembira, menangislah dengan mereka yang menangis.” Maka semangat Ekaristis/ perayaan Sabda memungkinkan kita untuk menikmati semua peristiwa hidup sebagaimana adanya (bukan sebagaimana ada apanya. Ha ha ha ..). Kita dapat berkata dengan yakin bersama para rasul di Puncak Gunung Tabor: “Tuhan betapa bahagia bagi kita berada di sini!”.
Apabila kita dapat ada bersama dengan orang lain dan bagi orang lain atas cara apapun, maka kita berbicara lebih mendalam daripada apa yang kita perbuat. Kita mulai mengalami “status umat beriman” sebagai sebuah “kehadiran”. Yesus Kristus dimuliakan di dalam setiap langkah hidup dan bahkan tubuh kita. Kita akan kenal bersama Paulus: “Bagiku hidup adalah Kristus!”.Misteri kehadiran sebagai umat beriman – “Kehadiran yang Menyembuhkan”.
Kehadiran yangMenyembuhkan ……
Kehadiran yang menyembuhkan dapat diungkapkan melalui beberapa cara sebagai berikut:
a.Mendengarkan – mungkin pernah mendengarkan nasehat ini: ada tiga hal yang dapat anda buat untuk menolong orang lain. Pertama, mendengarkan; kedua, mendengarkan; ketiga, mendengarkan lagi.
b.Mensuport/ menyokong – secara mental.
Kita mefokuskan hati dan pikiran kita kepada orang lain; mensuport secara spriritual menjadikan mereka bagian utuh dari hidup kita, doa kita. Memegang Mensuport fisik; berjabat tangan, menepuk bahu atau memeluk – sementara orang tidak bersedia untuk disentuh – peka membaca sikon.
c.Berbicara/ berdialog – sharing pengalaman untuk saling meneguhkan atau menghibur.
d.Duduk tenang dan perhatian bersama orang lain.
e.Empati – memahami dan turut merasakan bersama orang lain.
f.Menunjukkan sikap menghargai/ menghormati.
g.Memberikan pujian yang tulus atas sukses (perhatian, pelayanan, dsb). Hal-hal ini akan sangat membahagiakan orang lain yang kita layani.
Seorang sastrawan Rabindranath Tagore pernah mengatakan: “Saya tidur dan saya bermimpi bahwa hidup adalah kebahagiaan. Saya bangun dan melihat bahwa hidup adalah untuk melayani. Saya melayani dan saya mulai mengerti bahwa melayani adalah suatu kebahagiaan”.
Sudahkah kehadiran sebagai suatu persembahan dalam hidup Anda telah membawa arti dan makna yang indah? (Bdk. I Petrus 3:8-12).
APAKAH ANDA SANGGUP???
Hanya Tuhan yang menganugerahkan iman,
tetapi andalah yang harus memberi kesaksian.
Hanya Tuhan yang menganugerahkan harapan,
tetapi andalah yang harus member harapan kepada sesamamu.
Hanya Tuhan yang menganugerahkan cinta,
tetapi andalah yang mengajar sesama untuk mencinta.
Hanya Tuhan yang menganugerahkan damai,
tetapi andalah yang membina persatuan.
Hanya Tuhan yang menganugerahkan kekuatan,
tetapi andalah yang dapat member semangat.
Hanya Tuhan adalah jalan,
tetapi andalah yang menunjukkan jalan kepada sesama.
Hanya Tuhan adalah terang,
tetapi andalah yang menjadi terang di depan mata sesama.
Hanya Tuhan adalah Hidup,
tetapi andalah yang member kerinduan akan hidup kepada sesama.
Hanya Tuhan yang mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin,
tetapi andalah yang dapat membuat segala yang mungkin.
Hanya Tuhan yang mencukupi diriNya sendiri,
tetapi Dia tetap memperhitungkan “sumbangan” anda.
Dominus Vobis Cum.
(Sumber: @Rm. Adam Soen di Buletin Paroki AGGIORNAMENTO Edisi 092:19-20 Feb 2011)
A.POKOK KEPRIHATINAN Pertemuan HAK Regio Jawa Juli 2010 mengandung dua tujuan: 1). Refleksi pelayanan Komisi HAK Keuskupan dan pemikiran tentang masadepan; 2). Mencari arah pelayanan penyiapan imam yang bersemangat dan mampu berdialog secara tepatguna dan berhasilguna. 1). Refleksi apa yang sudah dilakukan sejauh ini: dalam ‘sharing’ awal secara terbuka, banyak yang nyatanya sudah melakukan dialog (walau juga ada yg eksklusif); dari refleksi awal maupun sharing para pendamping konvik (walau peserta hidupbakti tak cukup terwakili) yang didahului refleksi FT Wedhabhakti (Rm. Purwatma), tampak bahwa sudah banyak yang dilakukan dari sudut personal maupun struktural, dari sudut perseorangan maupun komuniter, dari sudut hidup komuniter maupun kurikuler, dari arah seminari maupun komisi. Meskipun demikian dicermati, bahwa kurang adanya perwujudan dialog yang tertata, terencana dan terefleksikan dengan regular; dirasakan belum optimalnya corak kehadiran imam dalam masyarakat, pola penyediaan program didik seminari maupun kebersamaan antara seminari dengan pelayanan-didik akademik. Oleh sebab itu timbul sejumlah pemikiran mengenai bagaimana imam dapat disiapkan untuk menjadi insan dialog dan fasilitator dialog di tengah umat/masyarakat. Di dalamnya ada sejumlah bahan pembicaraan yang perlu kita perhatikan dalam dialog dengan rekan Islam (juga ‘Yang Lain’? ritual, sosial, kemanusiaan dan spiritual, yang mencakup segi-segi serebral, cordial dan actual: lihat bagian khusus!).
2). Arah Penyiapan imam: a). Inti Penyiapan: ada beberapa penyiapan yang perlu dicermati seperti segi bahan dialog, organisasi, psikhis, sosiologis, kultural, politis dan spiritual. Dari padanya, segi spiritual diharapkan menjadi landasan paling inti. TUJUANNYA: agar calon imam menyadari bahwa iman pada dasarnya dialog (DV 2-6) dan bahwa LG 8 mendasari ekumene dan dialog yang dilanjutkan dalam LG 14-17 serta UR dan NAe maupun DH. Dalam hal ini GS 1 dan 4 dapat memberikan peluang real untuk situasi dan kondisi Indonesia, khususnya Jawa (plus?), sebab GS 92 mengingatkan hal-hal manusiawi yang baik dalam agama lain. b). Langkah2 Penyiapan Imam yang bersemangat dan mampu berdialog: 1/. Bahan dialog: mencari hal-hal yang sama dalam perspektif kita dan perspektif saudara-saudara yang dari agama lain (pemahaman tentang Yang Ilahi, Kitab Suci, Rasul/Nabi, Rukun Islam/Iman). Itulah kemampuan menemukan jembatan2 penghubung antara kita dg umat dari Gereja dan agama lain (kerangka komunikasi melalui keempat kategori: ritual, sosial, kemanusiaan dan spiritual); menciptakan sarana2 penghubung yang kontekstual (alamat, peta sosio-religius, pengetahuan dasar tentang Gereja/agama lain, sarana elektronik dsb). 2/. Organisasi: Langkah mendidik adalah berbagi kesadaran diri atas dasar pengalaman hidup agar sesama dapat lebih sadar diri, tahu diri dan mampu menempatkan diri di tengah sesama maupun diri serta akhirnya dapat secara aktif ikut serta membangun masa depan bersama. Diandaikan ada pengorganisasian bahan maupun usaha. Untuk itu diperlukan suasana rumah dan struktur persekolahan yang memang membantu calon imam memperoleh integritas katolik yang tangguh namun terbuka pada umat lain. 3/. Psikhis: a/. Psikhologi Kepribadian: Dialog adalah peristiwa yang terjadi apabila ada komunikasi dua orang atau dua pihak yang berbeda kondisi dan pandangannya. Dari sudut kesadaran diri kita tersebut, maka setiap dialog adalah proses komunikasi antara pribadi (dua atau lebih). b/. Psikhologi Massa: Pendidikan dialog lintas-iman adalah proses harian yang dimulai dari orang yang ditugasi untuk mendidik dan intinya ‘berbagi pengalaman’ dst. Sementara itu calon imam hidup (dididik) dalam kondisi yang menciptakan sikap psikhis tertentu, yang sebagian menguatkan tetapi sebagai membuatnya rapuh menghadapi situasi baru. Calon imam atau imam (muda) perlu dilatih untuk menanggalkan situasi mapan dan berani menceburkan diri ke situasi berisiko. Dalam hal ini, suatu formation tidak diharapkan lengkap tuntas dalam segala segi, melainkan membekali dengan sikap dan mentalitas matang utk menghadapi tantangan massa, yang sering tidak sesuai dengan dugaan. 4/. Sosiologis: kita hidup dlm masyarakat majemuk dari sudut agama, budaya, ekonomis dan lingkungannya kebanyakan miskin. Mau atau tidaknya orang ber-dialog, sering menjadi soal politis atau soal ekonomis. Suatu latihan analisis sosial menjadi bekal penting bagi calon imam. 5/. Budaya pendidikan: Setiap pendidikan pada dasarnya merupakan dialog. Diperlukan pengolahan metodik-didaktik yang terbuka pada dialog antara calon imam dengan para pendamping2nya: melalui bimbingan rohani maupun pelayanan pendamping2. 6/. Kemanusiaan mendalam: Dengan kesadaran Kepancasilaan setiap manusia Indonesia tahu bahwa hidupnya bersama orang lain sehingga diakui bahwa dialog itu suatu fungsi manusiawi bagi setiap manusia; maka pertemuan kita lebih memperdalam dan mensistematisasikan sejumlah pengalaman dan pemikiran tentang dialog; bukan mulai dari kertas kosong; 7/. Keberimanan gerejawi: Sejak awal ditegaskan bahwa Gereja secara hakiki adalah dialog. Memang orang beriman hanya beriman kalau berdialog terus. Sebab iman adalah dialog manusia dengan Allah (DV 2-6). Dialog itu sesuatu yg natural; juga dialog yang melintasi batas-batas iman dilakukan Gereja sbg paguyuban umat beriman yang berkomunikasi dg orang beriman beraneka ((bdk LG a.1). Konteksnya adalah bahwa Gereja kita hidup dalam diaspora: tersebar di tengah masyarakat. Hidup dalam diaspora menuntut komunikasi terus menerus. Komunikasi itu dengan kesadaran akan isi ajaran agama lain yang perlu kita ketahui dan hargai. Dalam hal ini Gereja modern ingin menjadi bagian yang disambut baik oleh masyarakat (Kis 2: 47). Untuk itu diperlukan sikap eklesiologis yang baru yi integritas terbuka. Dengan mentalitas eklesiologis Vatikan II itu kita dapat mencoba terus untuk memaknai simbol publik (atau agama lain) dengan kacamata iman yg sehat. Spiritualitas dialogis diperlukan supaya integritas terbuka itu. Dalam kesadaran itulah, dialog merupakan kebutuhan sekelompok orang yang beriman kepada Yesus Kristus, karena diutus (Kis 1: 7-8)) menjadi saksi persahabatan Sang Putera; juga kepada musuh (mereka yang tidak suka kepada kita). Maka kita menyambut baik FIRA V, 2004 bahwa dialog itu tak hanya mungkin tetapi kita hayati sebagai ‘pengutusan’ dari Sang Kristus kepada setiap muridNya. Hal itu perlu melimpah pada suatu pemahaman serta penghayatan panggilan imam yang dialogis. Pendekatan ini membawa kita untuk membaharui imamat dalam tritugasnya. Teologi mengenai Imamat Umum perlu diintegrasikan secara lebih utuh. 8/. Buahnya: Dalam dialog yang terjadi dengan pengertian akurat, kompetensi yang memadai, kita dapat menghadirkan paguyuban umat beriman yang signifikan bagi sesamanya (begitulah martyria terjadi) dan lalu Gereja relevan bagi sesama rakyat (begitulah koinonia sejati terjadi). Begitulah Inkulturasi (membenamkan umat dalam masyarakatnya) jadi penting utk pewartaan (kerygma). Hal itu dapat terwujud kalau Gereja sebagai persekutuan sungguh melakukan dialog dalam dirinya (dialog internal menjadi tumpuan dialog eksternal). Pelaksanaanya dapat juga dengan dialog karya dan dialog kehidupan (diakonia dan koinonia), yang kita syukuri dalam leitourgia.
B.ANEKA PEMIKIRAN YANG LEBIH LONGGAR:
1.DIALOG SEBAGAI PROSES DIDIK. Memang dialog sejati harus sampai menembus “dunia kedua belah pihak” Dan sejauh itu mewujudkan proses saling mendidik. FIRA I, 2.6 – 2.7: dialog itu proses. Dalam pengertian itu dapatlah dipahami bahwa dialog tidaklah monolitis dan sekali jadi, melainkan mengandung beberapa lapisan: lapisan simbol-verbal, lapisan tafsir simbol, lapisan kultur, lapisan etis, lapisan spiritual. Tanpa lapisan simbol-verbal, komunikasi sulit untuk tuntas. Cakrawala itu menolong kita memahami FIRA I, 2.9 yang mengatakan bahwa: dialog merupakan proses pencerahan (bdk Deus Caritas Est dan Caritas in Veritate). Namun dari rangkaian simbol verbal itu setiap pemula wacana maupun penerima wacana senantiasa memilih sejumlah tafsir simbol tertentu. Dialog hanya mungkin terjadi kalau dalam pertukaran simbol verbal itu kedua belah pihak saling mengerti adanya tafsir simbol itu, walau pun belum tentu menerimanya (cukup mengakui adanya tafsir simbol itu). Lapisan kedua tadi dimungkinkan oleh adanya kancah bersama, yang disediakan oleh lapisan kultur. Lapisan kultur yang penting adalah ‘lingua franca’ yang dipahami bersama oleh kedua sisi dialog. Namun penggunaan lingua franca yang sama perlu dilaksanakan dengan lapisan etis, yang pada dasarnya meletakkan orang-orang atau pihak-pihak yang berdialog pada ‘lantai komunikasi’ yang sama karena saling menerima sebagai rekan komunikasi yang setara. Cara berbicara dapat berlainan dan nada bicara pun dapat berbeda-beda, tetapi kedua sisi berdiri dan diterima sebagai berdiri pada lantai yang sama tinggi-rendahnya. Yang terakhir, sangat penting bagi dialog antara orang-orang atau pihak-pihak yang agamanya beraneka, yaitu bahwa kedua sisi itu berbicara dengan ruh yang sama, lapisan spiritual. Artinya kedua sisi itu dijiwai oleh iman bahwa sedang membicarakan relasinya dengan Yang Mahaagung: yang jauh melampui dirinya dan agamanya; jadi dengan penuh hormat kepada Yang Mahabesar. Lapisan-lapisan dialog tersebut diperlukan, kalau suatu dialog lintas agama akan berjalan dengan realistis namun dalam spirit yang sehat. Proses itu sendiri sudah senantiasa edukatif: entah bagi generasi muda entah bagi siapa pun.
2.TAHAP-TAHAP DIALOG EDUKATIF: latihan dan praksis dialog dapat sudah mulai dalam keluarga, dilanjutkan di sekolah dasar, diperdalam di seminari menengah, dilengkapi dalam seminari tinggi, mulai dilaksanakan secara publik pada masa imamat awal dan direfleksikan serta diperkaya dalam ongoing formation (Unsur-unsur yang tampaknya berkali-kali disebut sebagai perlu dibentuk terus menerus adalah ‘motivation-building’, acara kurikuler maupun ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler; kesempatan regular maupun insidental dst). Faktum bhw penghuni seminari itu majemuk sebenarnya dapat menjadi tumpuan pendidikan dialog; apalagi ada semti diosis dan tarekat yang anggotanya berjumpa di sekolah: dialog internal menjadi tumpuan dialog eksternal.
3.LAPISAN-LAPISAN PEWUJUDAN DIALOG: Lapisan pertama adalah tahap hidup berdampingan – seadanya. Untuk itu harus diusahakan untuk mengenal tetangga. Juga diperlukan membangun relasi dengan pemangku tugas publik. Lapisan kedua adalah tahap hidup berdampingan dengan saling berkomunikasi mengenai hal-hal yang sehari-hari/informal (di sini kedua sisi sudah mulai memasuki dunia yang ‘lain’); termasuk juga: hadir dlm pertemuan formal tanpa banyak diskusi. Lapisan ketiga adalah hidup berdampingan dengan menyadari adanya perbedaan. Lapisan keempat adalah hidup berdampingan dengan menerima adanya perbedaan. Lapisan kelima adalah membuka diri untuk mempelajari posisi pihak lain. (LG a.8.) Maka FIRA V, 2004 mengajurkan untuk memberikan informasi tentang agama lain. Lapisan keenam adalah mengakui adanya sejumlah hal baik dalam pihak lain. (bdk FABC V: LG a.8). Lapisan ketujuh adalah mengintegrasikan hal-hal baik dari pihak lain ke dalam diri sendiri. Pastores Dabo Vonis 52 menganjurkan kita mempelajari agama lain. PPCII bagian Seminari Tinggi 35,2: studi mendalam ttg agama2 dan relasi dg masyarakat. Lapisan kedelapan adalah melanjutkan komunikasi mengenai pelbagai ‘common concern’ dengan memakai ‘common goods’ dari kedua belah pihak. Nostra Aetate 2 mengajak kita kerjasama dengan orang beragama lain. Lapisan kesembilan adalah mengembangkan sejumlah pendirian yang dapat memperdamaikan sejumlah hal yang semula dirasakan sebagai berbeda. Lapisan kesepuluh adalah terus menerus berkomunikasi kendati dirasakan adanya pelbagai perbedaan. Memperhatikan lapisan-lapisan itu dapat menolong kita untuk tidak frustrasi karena mengharap hasil terlalu cepat dalam dialog, melainkan terus optimistis untuk melangkah.
4.SIKAP DASAR DIALOG EDUKATIF. Untuk berdialog diperlukan persiapan. Pertama-tama perlu dibangun sikap sadar diri dalam keterbukaan dalam batin. Sikap ini membuat manusia mengarah ke luar dirinya; bukan sibuk dengan dirinya sendiri saja. Langkah pertama ini penting agar orang siap untuk meninggalkan ‘ranah aman’ dalam dirinya sendiri. Yang kedua, orang bersikap memperhatikan yang ada di luar dirinya. Sikap ini menunjukkan bahwa orang mempunyai minat pada yang ada di luar dirinya atau kelompoknya. Juga ‘hal2 intelektual di luar kita’ (FIRA V, 2004). Yang ketiga, orang menciptakan gerak batin antara dirinya dengan yang ada di luar dirinya. Sikap ini mengaktifkan potensi relasi antara pribadi dan pihak-pihak yang berkomunikasi. Yang keempat, kesediaan untuk membangun sikap tulus. Sikap ini mau menghadapi proses dialog secara tanpa pamrih mencari keuntungan lain dari pada komunikasi. Sikap kelima, menghadapi rekan dialog dengan sikap percaya pada pribadi partner. Dengan sikap ini tercipta jembatan personal. Sikap keenam, sikap mengambil tempat yang ‘fair’ dalam perbincangan. Kita mudah sekali membandingkan segi baik kita dengan segi buruk pihak lain. Itu tidak fair. Kita berdiri sejajar. Duduk berdampingan secara ‘fair’. Maka kita memperlakukan sesama secara setara. Sikap ketujuh adalah mau belajar dan rela menerima sehingga dialog mengembangkan diri sendiri juga. Mempedulikan pembangunan sikap ini dapat menolong kita untuk mulai dialog dengan mengubah diri. Untuk itu diperlukan kecermatan kurikulum (motivasi – iman/psikhologis, isi: iman dan wahyu serta dimensi; perubahan sikap hidup mis exposure; struktur sekolah dan struktur hidup mahasiswa di ‘rumah’ maupun di seminari; juga doa bersama dan kerjasama intelektual maupun social dg menggunakan media; kuliah itu eksplisitasi dr pengalaman)!
5.PENCIPTAAN STRUKTUR STRATEGIS PENDUKUNG DIALOG EDUKATIF. Tidak cukup kita menuntut perseorangan untuk membangun sikap dialog. Diperlukan juga penciptaan struktur-struktur hidup bersama yang secara strategis mendukung proses dialog. Komunitas/konvik lebih bertugas memfasilitasi terbentuknya sikap dasar seorang beriman yang hidup dalam masyarakat majemuk. Dari diskusi ada harapan pembentukan “pribadi yang dialogis”. Sekolah (STF/T) lebih memfasilitasi refleksi sistematis mengenai pengalaman dialog itu. Para rektor, dekan dan petugas perpustakaan dapat memfasilitasi komunikasi lintas iman. Untuk keduanya ada beberapa butir penting: Pertama-tama diperlukan suasana kultural yang bersahabat antara segala rekanan. Suasana itu menuntut staf seminari maupun stft membangun suasana dialogis. Suasana itu harus tampak dalam relasi personal maupun struktur hidup bersama. Kedua disusun pranata yang mendorong komunikasi dan memberi sanksi pada perusakan komunikasi. Pranata dialogis penting baik utk komunitas maupun sekolah. Harapannya: tercipta habitus dialogis sehingga sejak studi sampai nanti bekerja memiliki sikap dasar dan langkah2 ajeg berdialog. Ketiga, dorongan untuk sering membangun inisiatif-inisiatif masyarakat dalam berkomunikasi dengan mendukung usaha dan menghambat pertentangan. Sebab komunikasi pertama-tama merupakan sikap batin dalam masyarakat. Meskipun demikian diperlukan sekali pelatihan ketrampilan-ketrampilan dialog. Keempat: Keuskupan dan Tarekat-tarekat menunjuk tim (sedapat mungkin juga seseorang ahli) yang menggerakkan semangat dialog dalam pelayanannya, sebagaimana dianjurkan dalam Pedoman Kerja Umat Katolik Indonesia (1970). Dalam keempat langkah itu, Komisi HAK dapat berperan sebagai fasilitator dalam pelbagai langkah strategis itu.
6.SIMPULAN BAHAN PEMBICARAAN DENGAN SAUDARA MUSLIM (DAN LAINNYA?): (serebral-cordial-actual) a.Lapisan ritual b.Lapisan sosial c.Lapisan kemanusiaan d.Lapisan spiritual
(B.S. Mardiatmadja. besmar@indo.net.id. Tel 021-4209377. Fax: 021 4224866).