Friday, November 14, 2008

JANGAN BIARKAN TALENTA ANDA MANDUL!!!

Talenta adalah suatu Kesempatan….

Tidak bisa dipungkiri banyak orang menerjemahkan atau memaknai talenta sebagai bakat. Atau mungkin bisa jadi kita mengikutinya dan menganggap bakat itu bawaan dari lahir, bahkan ada yg menyebutnya sebagai turunan. Benarkah demikian? Bagaimana kalau seseorang pemain musik yang hebat disebut sebagai orang yang sangat berbakat di bidang musik. Bagaimana dengan pencopet? Benarkah mereka berbakat sebagai copet? Benarkah bakat mencopet itu bawaan dari lahir? Atau turunan dari orang tuanya?

Kalau saya mencoba merenungkan, saya lebih memandang bakat itu sebagai kecakapan, dan kecakapan dapat diperoleh dengan belajar dan berlatih. Pemain musik itu pasti belajar dan berlatih dengan tekun & ulet sehingga bisa bermain musik dengan baik. Jika bakat itu bawaan lahir, seharusnya pemain musik itu sudah harus bisa main musik sejak lahir. Di sini yang perlu digarisbawahi adalah ketekunan & keuletan. Inilah yg menentukan keberhasilan proses belajar dan berlatih kita. Tanpa ketekunan & keuletan, kita tidak akan pernah bisa menggali potensi diri kita sendiri dan mengaktualisasikannya menjadi suatu hal yang berguna, baik bagi kita sendiri mau pun bagi orang banyak (orang lain).

Saya secara pribadi tidak memandang bakat sama halnya dengan talenta. Tuhan memberikan talenta bagi manusia. Dan saya mengartikannya sebagai kesempatan dalam mengaktualisasikan diri kita, tentu dengan bakat kita. Dan hendaknya talenta [kesempatan aktualisasi diri] ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya karena kita harus mempertanggungjawabkannya pada Tuhan. Bukankah orang yang tidak mengembangkan talenta dan tidak menjadikan berguna/berarti bagi dirinya sendiri maupun orang lain berarti menolak mengembangkan talenta.



Berani mengubah Kelemahan menjadi Kekuatan…

Sebenarnya kalau kita mau jujur, banyak dari kita yang tidak mengetahui apa sebenarnya bakat dan kekuatan kita, maka Marcus Buckingham dan Donal O.Clifton, Ph.D dalam bukunya yang berjudul: “Now, Discover Your Strengths” (2002)menyimpulkan kunci utama keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan adalah dengan mendayagunakan kekuatan, bukan dengan mengoreksi atau mengatasi kekurangan dan kelemahan. Maka langkah awalnya, temukan dan kenali kekuatan dalam diri kita.

Ada cerita dari sebuah buku bagaimana mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Amerika menggunakan peluang dan kesempatan. Dikisahkan lampu di sebuah gudang tua mati, maka anak Amerika akan mengambil senter dan masuk untuk mengetahui penyebabnya sedang anak Indonesia justru tidak beranjak dari tempat, takut jangan-jangan ada setan atau sejenisnya. Mengapa demikian? Menurut buku itu, karena perbedaan kultur. Kultur Indonesia menurut dia tidak merangsang orang untuk kreatif. Di sekolah, kantor, rumah, masyarakat, orang tidak diberi kebebasan untuk mengekspresikan apa yang dimiliki. Dalam benaknya selalu muncul, “jangan-jangan nanti salah, jangan-jangan nanti dimarahin, jangan-jangan ada pocong” dan seterusnya. Dengan demikian kita tidak mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak jika berpola pikir seperti di atas. Hal itui kian diperburuk lagi oleh pandangan bahwa melakukan kesalahan itu aib. Maka orangtua, teman, dan guru, seperti mesin pengingat saja yang terus membayangi agar kita jangan membuat kesalahan dalam hidup. Implikasinya seseorang diliputi keragu-raguan dalam bertindak. Energinya dihabiskan untuk menjaga supaya tidak melakukan kesalahan. Atau kalau ada kesalahan, energinya dipakai memperbaiki kesalahannya. “Jadi, seumur hidup dia hanya fokus bagaimana mengatasi kekurangan, kelemahan, yang ada dalam dirinya. Padahal mengembangkan talenta itu kan sebuah proses “trial and error”. Memang, di mana saja berada, kultur kita telanjur melihat kelemahan, bukan melihat potensi-potensi terbaik di dalam diri. Maka di sekolah, tempat kerja, kita diajari untuk menganalisa dan mengatasi kelemahan supaya jadi kuat. Banyak pendidikan dan pelatihan diadakan supaya orang tampil sempurna tanpa cela.Menurut dua penulis Amerika di atas, hal itu tidak salah. Hanya saja potensi atau kekuatan terbaik kita tidak keluar maksimal. Karena seseorang dengan perspektif “melihat kelemahan” akan berbeda dengan perspektif “melihat kekuatan”. Dengan mengenali kekuatan, kita dapat memaksimalkan untuk mencapai sasaran dan cita-cita kita. Jangan fokus pada kelemahan-kelemahan kita, namun sebaliknya kita harus fokus pada kekuatan. Kekuatanlah yang harus kita kembangkan.



Gabungan Bakat-Pengetahuan dan Keterampilan…..

Dalam permenungan,talenta merupakan suatu gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Maka dari itu ketika kita mampu mengembangkan talenta, kita telah mengembangkaan kekuatan dan kelebihan kita. Tergantung bagaimana kita mengolah kombinasi antara bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Kalau bakat adalah pola pikir, perasaan, atau perilaku alami yang kita miliki, maka pengetahuan adalah fakta-fakta dan pelajaran kita pelajari dalam hidup. Ketrampilan adalah langkah-langkah yang kita kuasai karena kita melatihnya secara terus menerus. Sebagai contoh: seorang yang memiliki bakat di bidang musik, ia menulis dan belajar komposisi, berlatih terus secara konsisten minimal 6 jam sehari lebih dari sepuluh tahun, dan senantiasa fokus pada hal tersebut, dapat dipastikan dia akan menjadi musisi yang terkenal. Kalau talenta adalah sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, maka pengetahuan dan ketrampilan adalah aspek kekuatan yang dapat ditambah, diperbaiki, dan ditingkatkan.

Ada seorang pakar pendidikan menyoroti dua jenis pengetahuan: pengetahuan faktual dan pengetahuan berdasarkan pengalaman. Ketrampilan merupakan pengetahuan eksperensial yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus secara terstruktur sehingga membentuk kebiasaan baru seseorang. Maka gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan adalah kekuatan yang membuat kita menjadi yang terbaik. Menurut permenungan saya pribadi, orang bukan tidak punya talenta, tetapi apakah talenta itu sudah dikembangkan atau tidak? Sebagai orang Katolik kita diundang untuk mengembangkan anugerah Tuhan secara maksimal. Maka kalau kita ingin mengembangkan talenta hingga maksimal, kita mesti ingat supaya terus fokus pada kekuatan, terus-menerus merefleksikan impian, dan kerja keras mengembangkannya. Saya menjadi semakin yakin Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang sebagai tanggung jawab dengan tujuan yang khusus. Kita punya tanggung jawab untuk menggunakan talenta tersebut sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk kita, talenta tersebut juga dapat digunakan untuk menolong orang lain. Sayangnya, tak banyak memang orang yang selama hidupnya mampu mengembangkan ragam talenta yang ia miliki. Tapi bukan berarti tidak bisa. Satu talenta, dua talenta, sepuluh talenta, menurut saya ya sama aja. Yang penting, kita dapat memanfaatkan secara maksimal talenta tersebut. Maka menjadi sangat penting dalam hidup kita, saya masih terus menggali talenta apa yang Tuhan berikan.



Pesan Sabda Tuhan hari ini……

Seorang hamba yang dipercaya dengan satu talenta menyimpan deposito itu dengan aman di tempat yang tersembunyi. Dia takut menggunakannya, karena dia tahu bahwa tuannya akan meminta talenta itu pada waktu dia kembali. Karena itu, ketakutan sangat mengalahkan kasih, kepercayaan, dan iman. Ketakutan menjadi penghalang untuk berkembang dalam hidupnya.

Kita sebagai orang Kristiani diajak untuk menaruh kesetiaan di dalam segala hal agar menuai buah-buah yang berlimpah. Hanya orang yang berbuah tidak mempedulikan dirinya sendiri dan kepentingannya, karena apapun yang dia miliki adalah milik Tuhan, dan apapun yang dia kerjakan adalah untuk Tuhan. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa bahwa setiap hamba telah menerima karunia, "masing-masing menurut kemampuannya." Yesus mengetahui kemampuan setiap orang beriman, dan Dia mengharapkan suatu perkembangan. Pengajaran dasar dari perumpamaan tentang talenta adalah bahwa setiap orang beriman menerima anugerah Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda menurut kemampuannya, dan bahwa karunia-karunia ini harus digunakan untuk melayani Allah. Di dalam Kerajaan Allah setiap orang diharapkan untuk menggunakan sepenuhnya karunia-karunia yang sudah dia terima. Di dalam Kerajaan Allah tidak ada tempat bagi pemalas - hanya ada tempat bagi pekerja-pekerja yang giat, yakni para pekerja yang mau “ajer-ajur” menghasilkan buah yang berlimpah. "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya" (Mat. 25:29). Tuhan ajarilah kami berdoa: “Tuhan jadikanlah hidup kami berbuah dan berkembang demi kemuliaan Nama-Mu”. AMIN


(Sumber: RD. @dam Soen di Buletin Paroki St. Albertus "Nuansa Kasih", Minggu 16 November 2008)

Forum Muslim-Katolik

[bbc.com 11/04/08]Para pemuka Muslim dan Vatikan melakukan pembicaraan bersejarah di Roma sebagai upaya untuk menjalin dialog antar agama yang lebih baik.

Pertemuan 3 hari di Roma itu dihadiri oleh 50 pemuka agama dari kedua belah pihak.

Delegasi Islam antara lain diwakili oleh pemimpin ulama Bosnia, Mustafa Ceric, sedangkan kubu Vatikan dipimpin oleh Kardinal Jean Louis Tauran.

Dari Indonesia, ikut hadir Ketua Umum Muhamadiyah, Din Syamsudin.

Kepada wartawan BBC Siaran Indonesia, Rohmatin Bonasir, Din Syamsudin mengatakan lewat telepon bahwa forum ini merupakan pertemuan pertama antara umat Muslim dan Katolik.

"Forum ini berusaha untuk mencari titik temu antar kedua agama yang tentu nanti akan diaktuliasi ke dalam penanggulangan masalah-masalah dunia," kata Din Syamsudin.

Peningkatan Dialog

Hubungan antara Katolik dan Islam sempat memburuk setelah pidato Paus Benediktus XVI tahun 2006 yang mengaitkan muslim dengan kekerasan dimasa lalu.

Pidato itu meningkatkan kemarahan di kalangan umat Islam dunia dan sempat memancing kekerasan di beberapa negara.

Insiden itu juga mendorong beberapa pemuka Islam dunia menyampaikan seruan kepada Paus untuk mendorong dialog antar agama yang lebih besar.

Manifesto itu kini sudah ditanda-tangani oleh lebih dari 250 pemuka Islam dari seluruh dunia.

Menurut mereka protes atas pidato Paus dan juga pemuatan kartun Nabi Muhammad di sebuah koran Denmark bisa dicegah jika para pemuka Islam dan Kristen punya satu.

Pertemuan di Roma ini membuka babak baru dalam sejarah panjang dialog kedua agama.

Wartawan BBC di Roma, David Willey, mengatakan bahwa Vatikan amat berniat untuk bertukar pikiran dengan umat Islam.

Pesan Natal Bersama KWI - PGI 2008

"HIDUPLAH DALAM PERDAMAIAN DENGAN SEMUA ORANG"

(bdk. Rm. 12:18)

Kepada segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada.

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Di tengah sukacita Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, marilah kita melantunkan mazmur syukur ke hadirat Allah. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya. Ia telah merubuhkan tembok pemisah dan membangun persekutuan baru, yang kukuh dan tangguh, yang bersumber dan berakar di dalam diri-Nya (bdk. Ef. 2:14, dst.). Peristiwa Natal, sebab itu dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam keadaan dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri.

Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam kerukunan dan kedamaian. Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai. Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman. Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai.

Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan afiliasi politik. Rasa aman itu membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Dengan rasa aman itu seluruh warga negara dapat menjalin relasi tanpa merasa terancam, tertekan, atau dikucilkan. Memang banyak usaha positif untuk menciptakan perdamaian telah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Namun, usaha ini belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal dan masih harus terus dilakukan secara terarah, berencana dan berkualitas.

2. Dalam suasana hari raya Natal, kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk mendengarkan nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma. Ia menasihati Jemaat untuk hidup dalam damai dengan semua orang. Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk memberkati sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm. 12:14). Memberkati berarti memohon agar Allah melimpahkan kasih karunia, damai sejahtera dan perlindungan (bdk. Kej. 27:27-29; Ul. 33; 1Sam. 2:20). Nasihat Rasul Paulus ini menggemakan kembali ajaran Yesus: "Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (Luk. 6:27-28; Mat. 5:44). Agar Jemaat dapat hidup dalam damai dengan sesama, Rasul Paulus mengajak Jemaat untuk bersukacita dengan orang yang besukacita dan menangis dengan orang yang menangis (Rm. 12:14; bdk. Mat. 5:3; Luk. 6:20; Mat. 25:31-46).

Ia juga menasihati Jemaat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan apa yang baik bagi semua orang (bdk. Rm. 12:17). "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rm. 12:21). Ketika orang membalas kejahatan dengan kejahatan, sebenarnya orang itu telah dikalahkan oleh kejahatan. Siapa yang melakukan kejahatan, ia telah dikendalikan oleh kejahatan itu sendiri dan telah melakukan kejahatan yang ia lawan. Ketika orang mengalami perlakuan jahat dari orang lain, tidak perlu membenci pelakunya dan menolak berhubungan dengannya, tetapi tetap ramah terhadapnya, bahkan terbuka untuk menolong orang itu bila ia mengalami kesulitan. Selayaknya umat Kristiani memperlakukan orang lain dengan kemurahan hati (bdk.Rm. 12:20a).

3. Semangat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Roma itu kiranya juga menjadi semangat umat Kristiani di Indonesia, yang hidup dalam masyarakat majemuk yang terus berubah. Dinafasi oleh semangat Natal, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk:

•a. melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum dalam mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama. Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat perlu dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan dengan cara-cara dialog.

•b. ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing, serta peka dan tetap berusaha ramah terhadap lingkungan sekitar.

•c. mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan jangan sampai dikalahkan oleh kejahatan. Kita perlu menyadari bahwa musuh kita bukanlah sesama warga, melainkan kejahatan yang bisa menggerakkan orang untuk berlaku jahat dan menyakiti sesama. Maka, marilah kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya supaya jangan ada ruang dimana kejahatan dapat merajalela.

Demikianlah pesan kami, Selamat Natal 2008 dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2009. Tuhan memberkati.

Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA,

KONFERENSI WALIGEREJA

INDONESIA,

Pdt. Dr. A.A. Yewangoe

Ketua Umum

Mgr. Martinus D. Situmorang, O.F.M.Cap

Ketua

Pdt. Dr.Richard M. Daulay

Sekretaris Umum

Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.

Sekretaris Jenderal

Paus Minta Umat Katolik dan Muslim Bekerjasama

KOTA VATIKAN (UCAN) -- Paus Benediktus XVI, pada hari terakhir pertemuan Forum Katolik-Muslim di Roma, meminta kedua pihak bersama-sama meningkatkan "penghormatan terhadap martabat pribadi manusia dan hak-hak asasi manusia yang fundamental" guna mengatasi kesalahpahaman, perselisihan, dan prasangka.

Berbicara kepada 58 peserta seminar pertama forum baru itu pada 6 November, ia mengatakan baik Katolik maupun Muslim perlu "mengoreksi citra buruk tentang pihak lain." Setiap pihak memiliki 29 wakil.

Yang memimpin pihak Katolik, Jean-Louis Kardinal Tauran, ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, ikut bersama dua pemimpin Muslim dalam menyambut paus dengan sambutan-sambutan singkat.

Shaykh Mustafa Ceric, ulama besar dari Sarayevo, memimpin delegasi Muslim bersama Seyyed Hossein Nasr, seorang ulama kelahiran Iran berkewarganegaraan Amerika Serikat yang mengajar tentang Islam di Universitas George Washington di Washington D.C.

Nasr mengatakan, "Sebagai kaum Muslim dari berbagai mazab pemikiran Islam yang berbeda dan berbagai negara, kami datang bersama ke sini untuk menjalin persahabatan, bertemu dengan kalian dalam kasih Allah, yang melampaui semua perbedaan teologis dan berbagai ingatan tentang berbagai konfrontasi historis."

Ia juga mengatakan, "Anda dan kami, sama-sama kita yakin akan kebebasan beragama, namun kami kaum Muslim tidak mengijinkan kristenisasi agresif di tengah-tengah kami yang hanya akan merusak iman kami atas nama kebebasan beragama, namun kami akan menerima umat Kristen jika mereka berada di antara kami."

Paus Benediktus menyebut seminar itu sebagai "sebuah langkah menuju saling pengertian yang lebih baik di antara Muslim dan Kristen" dan "sebuah tanda yang jelas" akan saling menghargai.

Forum itu merupakan hasil dari sebuah pertemuan bulan Maret antara wakil-wakil dari dewan kepausan itu dan sebuah kelompok pemimpin Muslim internasional. Kelompok ini sedang mengupayakan dialog dengan umat Kristen setelah Paus Benediktus memberikan kuliah pada September 2006 yang menimbulkan berbagai reaksi keras dan bahkan kekerasan di sejumlah negara-negara Muslim.

"Kita bersama hendaknya menunjukkan, dengan saling hormat dan solidaritas kita, bahwa kita ini anggota kita dari satu keluarga: keluarga yang disatukan dan dikasihi Allah," kata paus.

Paus juga memuji para peserta karena bersikap sama menyangkut perlunya "menyembah Allah sepenuhnya dan mencintai sesama tanpa pamrih," terutama mereka yang miskin dan tertekan. "Allah memanggil kita untuk bekerjasama dengan mereka yang sakit, lapar, miskin, dan yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan."

Bagi umat Kristen, kata Paus Benediktus, cinta kepada Allah itu tidak dapat dipisahkan dari cinta kepada sesama -- semua pria dan wanita tanpa mempedulikan ras dan budaya. Sementara tradisi Islam juga mendorong komitmen praktis dalam melayani kaum duafa.

"Iman Anda tidak akan sempurna kecuali Anda berbuat sesuatu bagi orang lain yang Anda ingin orang lain perbuat bagi Anda sendiri," katanya, seraya mengutip dari Alquran.

Delegasi Muslim kemudian mengatakan kepada pers bahwa kutipannya dari Alquran itu mengesankan mereka dan mereka merasa agama mereka sepenuhnya dihargai oleh paus dan segenap rekan dialog beragama Katolik. Ulama besar yang memimpin delegasi Muslim itu menambahkan bahwa ia mengundang paus untuk mengunjungi Sarayevo.

Dalam pidatonya, paus mendesak umat Katolik dan kaum Muslim untuk "sama-sama mempertahankan dan meningkatkan nilai-nilai moral yang merupakan bagian dari warisan kita bersama." Dengan cara itu, kedua pihak dapat menemukan landasan bersama untuk membangun dunia yang lebih bersahabat "yang bisa menyelesaikan perbedaan dan konfrontasi secara damai, dan menetralkan kekuatan berbagai ideologi yang merusak."

Paus itu mengutuk diskriminasi berlandaskan agama, serta kekerasan dan penganiayaan di berbagai belahan dunia dewasa ini. Ini semua "menjadi semakin berat dan menyedihkan jika dilakukan atas nama Allah," katanya, karena "nama Allah hanya bisa menjadi suatu nama untuk perdamaian dan persaudaraan, keadilan dan cinta
kasih."

Para pemimpin politik dan agama, tegas paus, memiliki kewajiban yaitu untuk memastikan bahwa hak asasi manusia ditegakan, dengan sepenuhnya menghormati kebebasan hati nurani dan agama dari setiap pribadi.

Sementara itu, umat Katolik dan kaum Muslim ditantang untuk menunjukkan dengan perkataan dan perbuatan bahwa pesan kedua agama itu adalah pesan kerukunan dan saling memahami, katanya, sambil mengingatkan bahwa kegagalan untuk menerapkan hal ini akan melemahkan kredibilitas dan efektivitas dialog dari kedua agama.

Ketika mengakhiri sambutannya, paus berjabat tangan dan berbicara dengan setiap peserta secara pribadi, termasuk para perempuan Muslim.

Salah satunya adalah Amina Rasul, anggota Dewan Islam dan Demokrasi Filipina. Dia mengatakan kepada paus bahwa ia membawa sebuah surat untuk paus dari "anak-anak di Mindanao," Filipina bagian selatan. Surat yang telah diserahkan kepada Kardinal Tauran itu meminta campur tangan Paus Benediktus untuk menghentikan
serangan militer di Mindanao dan memulai kembali proses perdamaian.

Forum itu kemudian mengeluarkan sebuah deklarasi bersama.