Talenta adalah suatu Kesempatan….
Tidak bisa dipungkiri banyak orang menerjemahkan atau memaknai talenta sebagai bakat. Atau mungkin bisa jadi kita mengikutinya dan menganggap bakat itu bawaan dari lahir, bahkan ada yg menyebutnya sebagai turunan. Benarkah demikian? Bagaimana kalau seseorang pemain musik yang hebat disebut sebagai orang yang sangat berbakat di bidang musik. Bagaimana dengan pencopet? Benarkah mereka berbakat sebagai copet? Benarkah bakat mencopet itu bawaan dari lahir? Atau turunan dari orang tuanya?
Kalau saya mencoba merenungkan, saya lebih memandang bakat itu sebagai kecakapan, dan kecakapan dapat diperoleh dengan belajar dan berlatih. Pemain musik itu pasti belajar dan berlatih dengan tekun & ulet sehingga bisa bermain musik dengan baik. Jika bakat itu bawaan lahir, seharusnya pemain musik itu sudah harus bisa main musik sejak lahir. Di sini yang perlu digarisbawahi adalah ketekunan & keuletan. Inilah yg menentukan keberhasilan proses belajar dan berlatih kita. Tanpa ketekunan & keuletan, kita tidak akan pernah bisa menggali potensi diri kita sendiri dan mengaktualisasikannya menjadi suatu hal yang berguna, baik bagi kita sendiri mau pun bagi orang banyak (orang lain).
Saya secara pribadi tidak memandang bakat sama halnya dengan talenta. Tuhan memberikan talenta bagi manusia. Dan saya mengartikannya sebagai kesempatan dalam mengaktualisasikan diri kita, tentu dengan bakat kita. Dan hendaknya talenta [kesempatan aktualisasi diri] ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya karena kita harus mempertanggungjawabkannya pada Tuhan. Bukankah orang yang tidak mengembangkan talenta dan tidak menjadikan berguna/berarti bagi dirinya sendiri maupun orang lain berarti menolak mengembangkan talenta.
Berani mengubah Kelemahan menjadi Kekuatan…
Sebenarnya kalau kita mau jujur, banyak dari kita yang tidak mengetahui apa sebenarnya bakat dan kekuatan kita, maka Marcus Buckingham dan Donal O.Clifton, Ph.D dalam bukunya yang berjudul: “Now, Discover Your Strengths” (2002)menyimpulkan kunci utama keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan adalah dengan mendayagunakan kekuatan, bukan dengan mengoreksi atau mengatasi kekurangan dan kelemahan. Maka langkah awalnya, temukan dan kenali kekuatan dalam diri kita.
Ada cerita dari sebuah buku bagaimana mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Amerika menggunakan peluang dan kesempatan. Dikisahkan lampu di sebuah gudang tua mati, maka anak Amerika akan mengambil senter dan masuk untuk mengetahui penyebabnya sedang anak Indonesia justru tidak beranjak dari tempat, takut jangan-jangan ada setan atau sejenisnya. Mengapa demikian? Menurut buku itu, karena perbedaan kultur. Kultur Indonesia menurut dia tidak merangsang orang untuk kreatif. Di sekolah, kantor, rumah, masyarakat, orang tidak diberi kebebasan untuk mengekspresikan apa yang dimiliki. Dalam benaknya selalu muncul, “jangan-jangan nanti salah, jangan-jangan nanti dimarahin, jangan-jangan ada pocong” dan seterusnya. Dengan demikian kita tidak mengalami kemajuan dalam berpikir dan bertindak jika berpola pikir seperti di atas. Hal itui kian diperburuk lagi oleh pandangan bahwa melakukan kesalahan itu aib. Maka orangtua, teman, dan guru, seperti mesin pengingat saja yang terus membayangi agar kita jangan membuat kesalahan dalam hidup. Implikasinya seseorang diliputi keragu-raguan dalam bertindak. Energinya dihabiskan untuk menjaga supaya tidak melakukan kesalahan. Atau kalau ada kesalahan, energinya dipakai memperbaiki kesalahannya. “Jadi, seumur hidup dia hanya fokus bagaimana mengatasi kekurangan, kelemahan, yang ada dalam dirinya. Padahal mengembangkan talenta itu kan sebuah proses “trial and error”. Memang, di mana saja berada, kultur kita telanjur melihat kelemahan, bukan melihat potensi-potensi terbaik di dalam diri. Maka di sekolah, tempat kerja, kita diajari untuk menganalisa dan mengatasi kelemahan supaya jadi kuat. Banyak pendidikan dan pelatihan diadakan supaya orang tampil sempurna tanpa cela.Menurut dua penulis Amerika di atas, hal itu tidak salah. Hanya saja potensi atau kekuatan terbaik kita tidak keluar maksimal. Karena seseorang dengan perspektif “melihat kelemahan” akan berbeda dengan perspektif “melihat kekuatan”. Dengan mengenali kekuatan, kita dapat memaksimalkan untuk mencapai sasaran dan cita-cita kita. Jangan fokus pada kelemahan-kelemahan kita, namun sebaliknya kita harus fokus pada kekuatan. Kekuatanlah yang harus kita kembangkan.
Gabungan Bakat-Pengetahuan dan Keterampilan…..
Dalam permenungan,talenta merupakan suatu gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Maka dari itu ketika kita mampu mengembangkan talenta, kita telah mengembangkaan kekuatan dan kelebihan kita. Tergantung bagaimana kita mengolah kombinasi antara bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Kalau bakat adalah pola pikir, perasaan, atau perilaku alami yang kita miliki, maka pengetahuan adalah fakta-fakta dan pelajaran kita pelajari dalam hidup. Ketrampilan adalah langkah-langkah yang kita kuasai karena kita melatihnya secara terus menerus. Sebagai contoh: seorang yang memiliki bakat di bidang musik, ia menulis dan belajar komposisi, berlatih terus secara konsisten minimal 6 jam sehari lebih dari sepuluh tahun, dan senantiasa fokus pada hal tersebut, dapat dipastikan dia akan menjadi musisi yang terkenal. Kalau talenta adalah sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, maka pengetahuan dan ketrampilan adalah aspek kekuatan yang dapat ditambah, diperbaiki, dan ditingkatkan.
Ada seorang pakar pendidikan menyoroti dua jenis pengetahuan: pengetahuan faktual dan pengetahuan berdasarkan pengalaman. Ketrampilan merupakan pengetahuan eksperensial yang dilakukan secara berulang dan terus-menerus secara terstruktur sehingga membentuk kebiasaan baru seseorang. Maka gabungan bakat, pengetahuan dan ketrampilan adalah kekuatan yang membuat kita menjadi yang terbaik. Menurut permenungan saya pribadi, orang bukan tidak punya talenta, tetapi apakah talenta itu sudah dikembangkan atau tidak? Sebagai orang Katolik kita diundang untuk mengembangkan anugerah Tuhan secara maksimal. Maka kalau kita ingin mengembangkan talenta hingga maksimal, kita mesti ingat supaya terus fokus pada kekuatan, terus-menerus merefleksikan impian, dan kerja keras mengembangkannya. Saya menjadi semakin yakin Tuhan memberikan talenta kepada setiap orang sebagai tanggung jawab dengan tujuan yang khusus. Kita punya tanggung jawab untuk menggunakan talenta tersebut sebaik-baiknya. Bukan hanya untuk kita, talenta tersebut juga dapat digunakan untuk menolong orang lain. Sayangnya, tak banyak memang orang yang selama hidupnya mampu mengembangkan ragam talenta yang ia miliki. Tapi bukan berarti tidak bisa. Satu talenta, dua talenta, sepuluh talenta, menurut saya ya sama aja. Yang penting, kita dapat memanfaatkan secara maksimal talenta tersebut. Maka menjadi sangat penting dalam hidup kita, saya masih terus menggali talenta apa yang Tuhan berikan.
Pesan Sabda Tuhan hari ini……
Seorang hamba yang dipercaya dengan satu talenta menyimpan deposito itu dengan aman di tempat yang tersembunyi. Dia takut menggunakannya, karena dia tahu bahwa tuannya akan meminta talenta itu pada waktu dia kembali. Karena itu, ketakutan sangat mengalahkan kasih, kepercayaan, dan iman. Ketakutan menjadi penghalang untuk berkembang dalam hidupnya.
Kita sebagai orang Kristiani diajak untuk menaruh kesetiaan di dalam segala hal agar menuai buah-buah yang berlimpah. Hanya orang yang berbuah tidak mempedulikan dirinya sendiri dan kepentingannya, karena apapun yang dia miliki adalah milik Tuhan, dan apapun yang dia kerjakan adalah untuk Tuhan. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa bahwa setiap hamba telah menerima karunia, "masing-masing menurut kemampuannya." Yesus mengetahui kemampuan setiap orang beriman, dan Dia mengharapkan suatu perkembangan. Pengajaran dasar dari perumpamaan tentang talenta adalah bahwa setiap orang beriman menerima anugerah Tuhan dengan karunia yang berbeda-beda menurut kemampuannya, dan bahwa karunia-karunia ini harus digunakan untuk melayani Allah. Di dalam Kerajaan Allah setiap orang diharapkan untuk menggunakan sepenuhnya karunia-karunia yang sudah dia terima. Di dalam Kerajaan Allah tidak ada tempat bagi pemalas - hanya ada tempat bagi pekerja-pekerja yang giat, yakni para pekerja yang mau “ajer-ajur” menghasilkan buah yang berlimpah. "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya" (Mat. 25:29). Tuhan ajarilah kami berdoa: “Tuhan jadikanlah hidup kami berbuah dan berkembang demi kemuliaan Nama-Mu”. AMIN