Friday, November 14, 2008

Pesan Pastoral Sidang KWI 2008 Perihal Lembaga Pendidikan Katolik

Di sini Kita Berpijak

•1. Dalam hari studi, 3-4 November 2008, sidang KWI memusatkan perhatian pada "Lembaga Pendidikan Katolik: Media Pewartaan Kabar Gembira, Unggul dan Lebih Berpihak kepada yang Miskin". Para uskup, utusan Konferensi Pimpinan Tarekat Religius Indonesia (Koptari) dan sejumlah pengelola Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) yang hadir, dibantu oleh para narasumber, aktif terlibat dalam seluruh proses tukar-menukar pikiran, pemahaman, dan pengalaman. Keterlibatan itu mencerminkan pula kepedulian dan kesadaran akan arti serta nilai pendidikan, yang dijunjung tinggi dan dilaksanakan oleh LPK sebagai wujud nyata keikutsertaan Gereja dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia (bdk. Pembukaan UUD 1945 alinea 4).

•2. Disadari sepenuhnya oleh para peserta sidang, bahwa karya kerasulan pendidikan merupakan panggilan Gereja dalam rangka pewartaan Kabar Gembira terutama di kalangan kaum muda. Dalam menjalankan panggilan Gereja tersebut, LPK mengedepankan nilai-nilai luhur seperti iman-harapan-kasih, kebenaran-keadilan-kedamaian, pengorbanan dan kesabaran, kejujuran dan hati nurani, kecerdasan, kebebasan, dan tanggung jawab (bdk. Gravissimum Educationis, art. 2 dan 4). Proses pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai insani-injili inilah yang membuat LPK itu unggul. Di sinilah, dan di atas nilai-nilai itulah LPK berpijak untuk mempertegas penghayatan iman dan memperbarui komitmen.

•3. Sebagai lembaga agama, Gereja mendaku (mengklaim) memiliki tanggung jawab terhadap masalah sosial, terutama yang dialami oleh orang-orang miskin (bdk. KHK 1983, Kanon 794). Dalam bidang pendidikan, tanggung jawab tersebut dalam kurun waktu sekitar lima tahun terakhir ini mengalami tantangan karena pelbagai permasalahan, yang berhubungan dengan cara berpikir, reksa pastoral, politik pendidikan, manajemen, sumber daya manusia, keuangan, dan kependudukan. Tentu saja, cakupan permasalahan ini berbeda-beda menurut daerah dan jenis pendidikan Katolik yang tersebar di seluruh Nusantara. Sidang menyadari bahwa LPK menghadapi pelbagai macam tantangan dan kesulitan. Namun, para penyelenggara pendidikan Katolik harus tetap berusaha meningkatkan mutu dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kesadaran Umat Beriman

•4. Dari pengalaman jelaslah, LPK yang dikelola oleh keuskupan, tarekat maupun awam memperlihatkan, bahwa pendidikan Katolik menjadi bagian utuh kesadaran umat beriman (bdk. KHK 1983, Kanon 793). Pada gilirannya, mereka perlu mengambil bagian dalam tanggung jawab keberlangsungan LPK dalam lingkungan hidup mereka. Dalam upaya nyata untuk mengangkat kembali kemampuan LPK, keuskupan-keuskupan dan pengelola LPK lain sudah mengambil langkah nyata, antara lain menggalang dana pendidikan untuk menumbuhkan rasa memiliki di kalangan murid-murid sendiri, orang tua murid, mitra pendidikan, umat dan masyarakat umum. Dengan demikian dikembangkanlah solidaritas dan subsidiaritas dalam lingkungan karya pendidikan.

•5. Selain itu, pemerintah juga berperan dalam peningkatan mutu pendidikan dan keterjangkauan pendidikan oleh masyarakat warga. Di sana-sini terjadi kesulitan dalam menerapkan peraturan pemerintah, filosofi pendidikan, dan kebijakan pendidikan yang mengutamakan orang miskin. Kendati demikian, LPK tetap menjalin kerjasama serta komunikasi setara dengan pemerintah, agar fungsi dan peran LPK tetap nyata.

Perubahan yang Diperlukan

6. Untuk setia pada pendidikan yang unggul dan mengutamakan yang miskin, perlu adanya perubahan dalam penyelenggaraan, pengelolaan, dan pelaksanaan pendidikan. Perubahan itu merupakan keniscayaan bagi LPK, termasuk di dalamnya Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (Komdik KWI), Komisi Pendidikan (Komdik) Keuskupan, Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), Majelis Pendidikan Katolik (MPK), Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), Perhimpunan Akademi Politeknik Katolik Indonesia (PAPKI), Ikatan Insan Pendidikan Katolik (IIPK), pengurus yayasan, kepala sekolah/direktur/ketua/rektor, guru, orang tua peserta didik, peserta didik, dan seluruh umat, apa pun jabatannya.

•7. Betapa mendesaknya suatu perubahan dalam seluruh tingkatan LPK! Perubahan itu mestinya dirancang dengan saksama dan dilaksanakan dengan arif di bawah otoritas uskup sebagai penanggungjawab utama pendidikan Katolik di keuskupannya (bdk. KHK 1983, Kanon 806). Perubahan yang diperlukan di sini antara lain:

•- menata ulang pola kebijakan pendidikan,

•- meningkatkan kerja sama antar-lembaga pendidikan,

•- mengupayakan pencarian dan penemuan peluang-peluang penggalian dana,

•- memotivasi dan menyediakan kemudahan bagi para guru untuk meningkatkan mutu pengajaran,

•- melaksanakan tata pengaturan yang jelas dan terpilah-pilah,

•- merumuskan ulang jiwa pendidikan demi memajukan dan mengembangkan daya-daya insan yang terarah kepada kebaikan bersama,

•- memperbarui penghayatan iman dan komitmen.

•8. Perubahan-perubahan tersebut tidak dapat diserahkan hanya kepada salah satu pihak saja. Oleh karena itu, sidang menghendaki agar perubahan itu merupakan tanggung-jawab dan dikerjakan bersama di bawah pimpinan uskup. Dengan demikian, kunci perubahan adalah pembaruan komitmen atas panggilan dan perutusan Gereja demi tercapainya generasi muda yang cerdas, dewasa dan beriman melalui LPK (bdk. Gravissimum Educationis, art. 3).

Harapan dan Ucapan Terima Kasih

•9. Pesan pastoral ini hendaknya mengilhami semua pihak yang terlibat dalam LPK di seluruh Nusantara untuk mencari dan menemukan jalan terbaik bagi LPK di masing-masing keuskupan di bawah pimpinan uskupnya. Mengingat fungsi strategis dan pentingnya LPK dalam kerangka perwujudan tugas perutusan Gereja, kami para uskup sepakat, bahwa KWI akan menulis Nota Pastoral tentang Pendidikan. Nota Pastoral ini dimaksudkan selain untuk mendorong tanggung jawab bersama dalam pendidikan, juga untuk menguraikan lebih rinci hal-hal yang berkaitan dengan LPK.

•10. Mengingat dan mempertimbangkan seluruh dinamika hari studi ini, kami para uskup dengan tulus menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang peduli pada dan terlibat dalam LPK, khususnya:

•- Para guru yang telah bekerja dengan penuh dedikasi;

•- Orang tua yang tetap mempercayakan pendidikan anak-anak mereka pada LPK;

•- Umat (warga masyarakat) yang penuh perhatian terhadap pendidikan;

•- Lembaga-lembaga Pendidikan Katolik yang benar-benar mengutamakan kalangan yang miskin.

Seraya berdoa, kami berharap semoga kehadiran LPK semakin mempertegas sikap Gereja Katolik untuk mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, yang pada gilirannya menjadi kabar gembira bagi semua.

Semoga Tuhan memberkati usaha baik kita semua.

Jakarta, 11 November 2008

Konferensi Waligereja Indonesia

Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.Cap.

K e t u a

Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.

Sekretaris Jenderal

Friday, September 19, 2008

ADIL DAN MURAH HATI-KAH TUHAN ATAS KEHIDUPANKU???

Hanya Sebuah Cerita Kecil…..

Hari Jumat pagi bagi saya adalah hari penyegaran. Bangun pagi terus jalan-jalan liat situasi dunia. Yahh...kadang-kadang ke pasar, kunjungan ke umat mampir sebentar saja, menyusuri gang-gang atau sekedar jalan-jalan. Yang jelas pasti jalan kaki. Beberapa hari yang lalu, ketika saya berjalan menyusuri rel kereta api jalur Blimbing arah ke Singosari. Saya mendengar seorang anak kecil menyanyikan sebuah lagu. Entah siapa yang menyanyikan lagu itu, saya juga tidak tahu persis. Apakah dia sudah sekolah atau belum.Apakah dia orang Katolik atau tidak tidak juga tidak tahu. Tetapi yang penting bagi saya lagu itu pasti berarti. Pada saat itu juga saya berhenti sejenak di pinggir rel menikmati lagu itu. Lagu itu kira-kira begini:

Ketika ku hadapi kehidupan ini

jalan mana yang harus ku pilih

ku tahu ku tak sanggup

ku tahu ku tak mampu

hanya Kau TUHAN tempat jawaban ku...

Akupun tahu ku tak pernah sendiri

sebab Kau ALLAH yang menggendong ku

tangan-MU membelai ku

cinta-MU memuaskan ku

Kau mengangkat ku ketempat yang tinggi

Janji-MU sperti fajar pagi hari

dan tiada pernah terlambat bersinar

cinta-MU sperti sungai yang mengalir

dan ku tahu betapa dalam kasih-MU

Tidak sekedar lagu.....

Bisa jadi kita sudah sering mendengarkan lagu ini, tetapi masihkan ada arti dan makna? Kalau boleh jujur: tidak bisa dipungkiri, kita sering mengeluh, meskipun tidak berani terang-terangan. Tuhan kok tidak adil atas kehidupanku? Aku kok hidup dalam penderitaan, sedangkan orang lain tidak. Tuhan kok tidak memberiku otak cemerlang, sedangkan orang lain ada yang diberi otak cemerlang. Aku kok tidak diberi bakat dan talenta kayak orang lain? Tuhan kok tidak adil soal harta atau rejeki? Orang itu kok bisa kaya-raya, sedangkan aku miskin. Orang itu punya ini-itu, sedangkan aku kok tidak. Orang itu bisa mujur bisa gini-gitu (bisa apa saja), sedangkan aku tidak. Mungkin kita perlu merenungkan hal yang paling berharga baru kita sadar akan keadilan Tuhan: "waktu". Setiap orang di dunia diberikan waktu yang sama: 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Persis dalam lagu yang dinyanyikan anak kecil itu; Tuhan adil dan murah hati; betapa dalam kasih-Nya. Sekarang tergantung bagaimana kita menggunakan, mengisi dan memaknai setiap perjalanan waktu dengan aneka pergumulan hidup.

Menggunakan, Mengisi dan Memaknai Waktu....

Tidak bisa dipungkiri dalam hidup kita saat ini, seringkali yang terjadi adalah kita tidak berani menghadapi setiap resiko kehidupan yang butuh waktu. Maunya sich instant (serba cepat), segala-segalanya serba beres, enak, tidak perlu berjuang; tidak perlu membuang banyak waktu, tetapi berhasil dengan baik dan sukses.

Kalau saya boleh merenung dan berbagi (namanya juga merenung dan mengolahnya; bisa diterima, bisa tidak. Kalau bahasanya televisi JTV: ”yo sumonggo”). Setelah melalui suatu pergumulan kehidupan setiap saat, saya semakin yakin bahwa komoditas yang paling bernilai adalah waktu. Segala sesuatu yang hilang bisa kembali, kecuali waktu. Tanpa waktu yang cukup orang tidak berani memaknai dan menjalani kehidupan dengan syukur dan gembira. Mungkin ada contoh sederhana: ketika orang cerita mengenai bunga bank, saham, atau deposito. Orang yang berhasil berinvestasi di sini adalah orang yang berpikir jangka panjang. Orang yang mau sabar, membiarkan waktu yang menumbuhkan uangnya. Atau mungkin kita boleh merenungkan kembali berjalannya waktu kita bertumbuh. Misalnya setelah tiga tahun lulus SMA, terus empat tahun berikutnya kuliah bisa menjadi seorang sarjana. Setelah dia menjadi sarjana, lalu bekerja dapat gaji. Dan ternyata gaji PNS setiap dua tahun naik. Setelah beberapa tahun sempat untuk menabung bisa membuka usaha selain tetap sebagai PNS. Dengan ketekunan menjalani hidup, bisa bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Dalam kisah ini mau diungkapkan apa? Diungkapkan bahwa waktu adalah penting dalam kehidupan. Seorang peternak ayam atau petani di sawah, butuh waktu untuk bisa memanen. Seorang yang ujian butuh waktu untuk mengerjakannya. Seorang yang sakit butuh waktu penyembuhan. Belajar butuh waktu. Latihan apapun sampai berhasil butuh waktu. Orang main sepak bola atau catur juga butuh waktu. Dan tentu saja masih banyak contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yahh...memang penting sekali waktu itu, tetapi jauh lebih penting yakni apa yang kita lakukan dengan waktu. Maka tampak jelas, bahwa persoalannya bukan hanya soalnya waktunya tetapi bagaimana orang menggunakan, mengisi dan memaknai waktu itu. Kalau waktu habis untuk meratapi nasib, yah pasti orang tidak akan bisa tumbuh dan berkembang. Akan tetapi sebaliknya kalau orang berani ambil resiko menggunakan, mengisi dan memaknai waktu dengan baik; buah-buahnya juga akan berlimpah. Ada pepatah: ”Kesuksesan hidup seseorang ditentukan bagaimana dia mengisi dan memanfaatkan waktunya”. Ada juga seorang teman yang kirim SMS komentar: ”Hidup kita, Taking the initiative. Daripada memfokuskan pikiran kita worrying things, lebih baik kita berbicara dan memfokuskan pikiran kita kepada apa yang kita bisa lakukan.Worrying about something that we don't like doesn't change anything, but doing something may be change something”.

Pesan Injil Tuhan hari ini (Matius 20:1-16a) ..

Setelah kita menyadari betapa pentingnya waktu, maka masihkah kita berpikir Tuhan tidak adil dan murah hati dalam kehidupanku? Adalah suatu kenyataan hidup. Kita semua: baik yang berkulit hitam-putih, kaya-miskin, laki-perempuan, pribumi-asing, dengan segala aneka keragaman: kita mendapat anugerah yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, serta mengalami siang-malam. TUHAN sungguh adil dan murah hati.

Yesus dalam Injil hari ini: mengingatkan kepada kita, bahwa dalam hidup kita selalu diberi peluang waktu sesuai dengan kemampuan kita. Tinggal sekarang bagaimana kita mengisi waktu. Entah itu satu jam, dua jam, atau berjam-jam, sesuai kemampuan kita. Segala keberhasilan, kesuksesan, kedamaian, ketenangan tidak tergantung satu-satunya pada uang dan materi (benda). Semua itu akan semakin berarti, ketika kita mau menggunakan, mengisi dan memaknai waktu dengan baik. Tuhan selalu memberi peluang dan kesempatan. Tuhan sangat adil dan murah hati dalam kehidupan kita.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Sudahkah kita menggunakan, mengisi dan memaknai ”waktu” hidup kita; entah dengan orang-orang yang menjadi bagian kehidupan kita: waktu bersama keluarga, waktu dalam pekerjaan kita, waktu untuk istirahat, waktu untuk bersyukur, dan masih banyak waktu dalam kehidupan kita. Bersama Yesus, aku sanggup. Bersama Yesus, aku mampu.

Dominus Vobiscum

(Sumber: RD. @daM Soen, di Buletin Mingguan Paroki St. Albertus de Trapani; Minggu 21 September 2008)

Friday, August 29, 2008

INDONESIA Religious Leaders Sign Communiqué Calling For Harmony, Tolerance

MALANG, Indonesia (UCAN) -- A few days before Indonesia celebrated its Independence Day, six religious leaders in East Java province's Malang city signed a communiqué calling on the nation to promote tolerance and harmony.

ij_malang_east_java.gifThe leaders represent Indonesia's six officially recognized religions: Buddhism, Catholicicm, Confucianism, Hinduism, Islam and Protestantism.

They signed their Joint Communiqué of Religious Leaders on Aug. 14, just ahead of Indonesia's Independence Day on Aug. 17. It states that they "reject all kinds of violence done in the name of religion" and they "ask all the nation's entities to uphold the principles of peace and togetherness."

The signatories are: Chamzawi, adviser to the Malang branch of Nahdlatul Ulama, Indonesia's largest Islamic organization; Father Ignatius Adam Suncoko, head of Malang diocese's Commission for Ecumenical and Interreligious Affairs; Reverend Gunawan Yuli Agung Suprabowo, a Protestant lecturer at Balai Wiyata Institute of Theology in Malang; Ida Bagus Bajra, head of the Malang branch of the Indonesian Council of Hinduism (Parisada Hindu Dharma Indonesia); Malang Hariono, secretary of the Malang branch's Trusteeship Council of Indonesian Buddhists (Walubi); and Bunsu Anton Triyono, a Confucian.

Their communiqué declares: "Indonesia is a nation developed within religious and cultural diversity. Therefore, the Unitary State of the Republic of Indonesia must be maintained as a communal living space by giving priority to tolerance and harmony."

The leaders called on "all religious leaders to be consistent with their role in promoting humanity and morality and to defend those who are weak."

Largely Muslim Indonesia has endured bitter communal conflicts in the past.

About 150 university students and activists from various local NGOs witnessed the signing ceremony. The Center for Cultural Development Study run by Averroes, a local NGO involved in social issues, initiated the ceremony.

The center's director, Riansyah, told UCA News he organized the event because religious leaders are committed to addressing problems that confront the nation, including violence, corruption and poverty. "In this pluralistic nation, we have to resolve these problems together," he stressed.

Chamzawi, one of the signatories who spoke with UCA News about the ceremony, said Indonesia's Independence Day should be an occasion for people to reflect on the state of their country, and the signing ceremony was meant to promote harmony among all religious believers in the pluralistic nation.

"There are differences indeed," he said, "but there is one thing in common: we all are human beings who have goodwill. We do not need to question this."

The Muslim leader suggested that all religious leaders keep urging their followers to promote harmony and develop brotherhood among religions.

Father Suncoko agreed. He told UCA News that the communiqué signing reflects the commitment of the religious leaders to national life, and such commitment must be reiterated every time Independence Day is observed.

Indonesia gained its independence 63 years ago, the diocesan priest noted, but its people still face problems such as corruption and poverty, and "we must resolve them together." Diversity in the nation must be respected, he added, and all believers should promote tolerance and harmony in daily life.

Hariono shares that view. He said Indonesia's ideal of pluralism has existed ever since the nation's struggle for independence, and it must be upheld.

According to Bajra, the country's greatest concern is corruption and it must be stopped. A joint effort by the different groups in Indonesian society is needed to eliminate corruption and poverty in the nation, he said.

Wednesday, August 27, 2008

DOA SEORANG IBU BAGI PUTRANYA

Yesus yang Maharahim,

bentuklah Putraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk

menyadari manakala ia lemah,

Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri

manakala ia takut,

Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan dalam kekalahan,

rendah hati dan jujur dalam kemenangan.

Bentuklah Putraku menjadi seorang yang kuat dan mengerti

bahwa mengetahui serta mengenal dirinya sendiri

adalah dasar dari segala ilmu yang benar.

Yesus Yang Mahabaik,

Janganlah Kau bimbing Putraku pada jalan yang mudah dan lunak

biarlah Kau bawa Putraku ke dalam gelombang

dan desak kesulitan dan tantangan hidup.

Bimbinglah Putraku selalu

supaya ia mampu tegak berdiri di tengah kehidupan,

serta berwelas asih kepada orang tua.

Yesus Yang Maha pemurah,

bentuklah Putraku

menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit

Seorang yang sanggup memimpin dirinya sendiri.

Seorang manusia yang meraih ke hari depan,

tapi tak melupakan masa lampau.

Dan setelah segalanya menjadi miliknya,

semoga ia dilengkapi hati yang ringan

untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh menghadapi kehidupan.

Yesus Yang Mahacinta,

berikanlah kepada Putraku kerendahan hati,

kesederhanaan dan keagungan hakiki,

pikiran cerah dan terbuka

bagi sumber kebijaksanaan dan kelembutan dari kekuatanMu yang sebenarnya

sehingga aku “Ibunya” akan berani berkata:

HIDUPKU TIDAKLAH SIA-SIA.

Tuhan Yesus, Bunda Maria dan Santo Yusup, doakanlah kami. AMIN

Monday, July 28, 2008

The Death of the Globalization Consensus

by Dani Rodrik

CAMBRIDGE – The world economy has seen globalization collapse once already. The gold standard era – with its free capital mobility and open trade – came to an abrupt end in 1914 and could not be resuscitated after World War I. Are we about to witness a similar global economic breakdown?

The question is not fanciful. Although economic globalization has enabled unprecedented levels of prosperity in advanced countries and has been a boon to hundreds of millions of poor workers in China and elsewhere in Asia, it rests on shaky pillars. Unlike national markets, which tend to be supported by domestic regulatory and political institutions, global markets are only “weakly embedded.” There is no global anti-trust authority, no global lender of last resort, no global regulator, no global safety nets, and, of course, no global democracy. In other words, global markets suffer from weak governance, and therefore from weak popular legitimacy.

Recent events have heightened the urgency with which these issues are discussed. The presidential electoral campaign in the United States has highlighted the frailty of the support for open trade in the world’s most powerful nation. The sub-prime mortgage crisis has shown how lack of international coordination and regulation can exacerbate the inherent fragility of financial markets. The rise in food prices has exposed the downside of economic interdependence without global transfer and compensation schemes.

Meanwhile, rising oil prices have increased transport costs, leading analysts to wonder whether the outsourcing era is coming to an end. And there is always the looming disaster of climate change, which may well be the most serious threat the world has ever faced.

So if globalization is in danger, who are its real enemies? There was a time when global elites could comfort themselves with the thought that opposition to the world trading regime consisted of violent anarchists, self-serving protectionists, trade unionists, and ignorant, if idealistic youth. Meanwhile, they regarded themselves as the true progressives, because they understood that safeguarding and advancing globalization was the best remedy against poverty and insecurity.

But that self-assured attitude has all but disappeared, replaced by doubts, questions, and skepticism. Gone also are the violent street protests and mass movements against globalization. What makes news nowadays is the growing list of mainstream economists who are questioning globalization’s supposedly unmitigated virtues.

So we have Paul Samuelson, the author of the postwar era’s landmark economics textbook, reminding his fellow economists that China’s gains in globalization may well come at the expense of the US; Paul Krugman, today’s foremost international trade theorist, arguing that trade with low-income countries is no longer too small to have an effect on inequality; Alan Blinder, a former US Federal Reserve vice chairman, worrying that international outsourcing will cause unprecedented dislocations for the US labor force; Martin Wolf, the Financial Times columnist and one of the most articulate advocates of globalization, writing of his disappointment with how financial globalization has turned out; and Larry Summers, the US Treasury chief and the Clinton administration’s “Mr. Globalization,” musing about the dangers of a race to the bottom in national regulations and the need for international labor standards.

While these worries hardly amount to the full frontal attack mounted by the likes of Joseph Stiglitz, the Nobel-prize winning economist, they still constitute a remarkable turnaround in the intellectual climate. Moreover, even those who have not lost heart often disagree vehemently about the direction in which they would like to see globalization go.

For example, Jagdish Bhagwati, the distinguished free trader, and Fred Bergsten, the director of the pro-globalization Peterson Institute for International Economics, have both been on the frontlines arguing that critics vastly exaggerate globalization’s ills and under-appreciate its benefits. But their debates on the merits of regional trade agreements – Bergsten for, Bhagwati against – are as heated as each one’s disagreements with the authors mentioned above.

None of these intellectuals is against globalization, of course. What they want is not to turn back globalization, but to create new institutions and compensation mechanisms – at home or internationally – that will render globalization more effective, fairer, and more sustainable. Their policy proposals are often vague (when specified at all), and command little consensus. But confrontation over globalization has clearly moved well beyond the streets to the columns of the financial press and the rostrums of mainstream think tanks.

That is an important point for globalization’s cheerleaders to understand, as they often behave as if the “other side” still consists of protectionists and anarchists. Today, the question is no longer, “Are you for or against globalization?” The question is, “What should the rules of globalization be?” The cheerleaders’ true sparring partners today are not rock-throwing youths but their fellow intellectuals.

The first three decades after 1945 were governed by the Bretton Woods consensus – a shallow multilateralism that permitted policymakers to focus on domestic social and employment needs while enabling global trade to recover and flourish. This regime was superseded in the 1980’s and 1990’s by an agenda of deeper liberalization and economic integration.

That model, we have learned, is unsustainable. If globalization is to survive, it will need a new intellectual consensus to underpin it. The world economy desperately awaits its new Keynes.

Dani Rodrik, Professor of Political Economy at Harvard University’s John F. Kennedy School of Government, is the first recipient of the Social Science Research Council’s Albert O. Hirschman Prize. His latest book is One Economics, Many Recipes: Globalization, Institutions, and Economic Growth.


(Sumber: kiriman teman)

Friday, July 11, 2008

KEBEBASAN


Kebebasan….

Engkau ada saatnya begitu indah…

Engkau membawa aku pada suatu mimpi…

Aku mimpi akan duniaku sendiri.

Kebebasan…

Engkau ada saatnya begitu suram…

Engkau membawa aku pada nestapa…

Aku mengalami nestapa tak berharga..

Kebebasan…

Engkau begitu indah dan suram…

Engkau membawa aku pada kenyataan hidup

Kenyataan hidup yang harus kualami…

Kenyataan hidup yang harus kurasakan…

Kenyataan hidup yang harus kuhadapi…

Trima kasih Yesus Sahabatku….

Aku boleh menikmati kebebasanMu.


Saat aku persiapan renungan malam minggu, 26 juni 04

Pkl. 22.00 WIB

(Sumber: @d@m SoEn, buku harian Juni 2004)

SEKOLAH ….SEKEDAR…..SEKOLAH???

Beberapa kisah nyata…..

Liburan sekolah sudah hampir habis, anak-anak kita masuk sekolah lagi. Apakah ada yang perlu dimaknai? Jangan-jangan libur sekedar libur? Tamasya? Belanja? Shopping? Main-main? Atau bisa jadi selama ini anak-anak ”sekolah sekedar sekolah ?” Mari kita renungkan beberapa kisah nyata ini. Kalau anak-anak muda senang mempertanyakan ”Ada apa dengan Cinta ?” Sekarang kita bertanya ”Ada apa dengan Pendidikan?”

Kisah pertama, beberapa hari yang lalu saya ikut mengantar teman-teman misdinar wisata rohani ke Jogya sekitarnya. Kebetulan ada acara jalan-jalan ke Malioboro. Dalam perjalanan saya memperhatikan ada seorang anak yang baru saja pulang dari luar negeri, diajak jalan-jalan orang tuanya. Ketika bertemu teman-temannya, dia begitu semangat pamer dengan teman-temannya. Ada hal yang menarik, selain pamer dia juga mengolok-olok teman-temannya: ”Yahh kamu sichh anak tidak mampu, tidak punya duit, papa-mama kamu punya toko kecil....kasian dech elo gak bisa jalan-jalan keluar negeri”(Kira-kira begitulah yang sempat saya dengar sambil jalan menemani teman-teman misdinar di Malioboro).

Kisah kedua, saya pernah bertanya pada seorang anak. Kenapa pingin sekolah? Anak itu menjawab sekolah supaya dapat ilmu, supaya bisa belajar, menambah pengetahuan, banyak teman. Tetapi ada suatu jawaban yang mengejutkan: ”Aku sekolah supaya tidak berlama-lama di rumah dengan papa-mama”.

Kisah ketiga, ketika dalam perjumpaan dengan seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Saya bertanya: ”Kenapa sich orang tua menyekolahkan anak?”. Dia menjawab: ”Untuk anak playgroup dan TK, biar anak di rumah tidak hanya main-main, biar cepat pandai, dan yang jelas saya malas momong di rumah. Untuk SD-PT (Perguruan tinggi) biar mempersiapkan masa depan, biar pinter, biar bisa sosialisasi, mandiri, banyak teman, dsb”.

Memaknai Pendidikan ....

Dari ketiga kisah diatas, nampaknya indah tetapi ada sisi lain yang perlu kita lihat dan kita renungkan bersama. Yahh . . . itulah kenyataan yang memang benar-benar terjadi dalam kehidupan keseharian meskipun sama-sama sekolah (menikmati pendidikan), tetapi buah-buahnya sangat lain. Kisah pertama anak bisa pamer, sombong, sok gengsi, bahkan merendahkan orang lain; ketika perjalanan keluar negeri bersama orang tuanya tidak dimaknai kembali. Apakah orangtua pernah memberikan makna tersendiri tentang liburan dan perjalanan? Yahh. . . mungkin yang memperkaya hati dan pikiran anaknya bukan membesarkan ego dan sok gengsi anak dengan kebanggaan yang tak berguna. Bukan berarti orangtua tidak boleh memberi yang terbaik. Tetapi bagaimana orang tua diajak untuk membantu anak memaknai perjalanan itu dalam banyak hal...bukan hanya untuk dibanggakan "Aku kan baru jalan-jalan keluar negeri!” Atau justru mengajak dan melibatkan anak ke tempat yang membuat dia lebih mengerti tentang hidup dan membuat dia terlibat didalamnya... yang membuat hidup ini jauh lebih indah dan bermakna. Kisah kedua juga nampaknya baik. Tetapi sebenarnya bagaimana hubungan anak dengan orangtua? Kisah ketiga juga bagus, akan tetapi perlu kita cermati jangan-jangan apa yang diungkapkan seorang ibu itu benar. Memang zaman sekarang ada trend seorang ibu malas ”momong” (mengasuh) anaknya. Pokoknya tahu beres dech !!!

Hak semua orang atas pendidikan....

Dalam Dokumen Konsili Vatikah II: ”GRAVISSIMUM EDUCATIONIS tentang pendidikan Kristiani” ditegaskan bagaimana umat Katolik memaknai kembali pendidikan bahwa semua orang berdasarkan martabatnya selaku pribadi mempunyai hak yang tak dapat diganggu gugat atas pendidikan yang cocok dengan tujuan maupun sifat perangainya, mengindahkan perbedaan jenis, serasi dengan tradisi-tradisi kebudayaan serta para leluhur, sekaligus juga terbuka bagi persekutuan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain, untuk menumbuhkan kesatuan dan damai yang sejati di dunia.

Dikatakan juga mengenai tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah: mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya. Maka dengan memanfaatkan kemajuan ilmu-pengetahuan psikologi, pedagogi dan didaktik, perlulah anak-anak dan kaum remaja dibantu untuk menumbuhkan secara selaras serasi bakat pembawaan fisik, moral dan intelektualnya. Dengan demikian umat kristiani tahap demi tahap akan mencapai kesadaran atas tanggungjawab mengembangkan hidupnya. Sambil mengatasi hambatan-hambatan dalam dirinya dengan kebesaran jiwa dan ketabahan hati, umat kristiani akan mencapai kebebasan yang sejati. Hendaklah seiring dengan bertambahnya umur anak-anak menerima pendidikan seksualitas yang bijaksana. Selain itu hendaknya anak-anak dibina untuk melibatkan diri dalam kehidupan sosial sedemikian rupa, sehingga memperoleh bekal yang menunjang anak berintegrasi secara aktif dalam pelbagai kelompok kebersamaan manusiawi. Bahkan anak-anak dan kaum remaja berhak didukung, untuk belajar menghargai dengan suara hati yang didasari nilai-nilai moral, serta dengan tulus menghayatinya secara pribadi, untuk makin sempurna mengenal serta mengasihi Allah dan sesama.

Orangtua bertanggung jawab atas pendidikan....

Bagaimanapun juga orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak dan dengan demikian terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak-anak. Maka orang tua harus diakui sebagai pendidik anak yang pertama dan utama. Begitu pentinglah tugas mendidik itu, sehingga tidak mungkin diabaikan. Sebab merupakan kewajiban orang tua: menciptakan lingkungan keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang terhadap sesama sedemikian rupa, sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan sosial anak-anak. Maka keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh setiap masyarakat. Terutama dalam keluarga kristiani, yang diperkaya dengan rahmat serta kewajiban Sakramen Perkawinan, bahwa anak-anak sejak dini harus diajar mengenal Allah serta berbakti kepada-Nya dan mengasihi sesama, seturut iman yang telah mereka terima dalam Sakramen Baptis. Disitulah anak-anak menemukan pengalaman pertama sebagai anggota masyarakat yang sehat serta warga gereja yang baik. Melalui keluargalah anak-anak lambat-laun diajak berintegrasi dalam hidup menggereja dan bermasyarakat. Maka hendaklah para orang tua menyadari, betapa pentinglah keluarga yang sungguh kristiani untuk kehidupan dan kemajuan umat Allah sendiri. Tugas menyelenggarakan pendidikan, yang pertama-tama menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi masih memerlukan bantuan seluruh masyarakat.

Pentingnya Pendidikan ......

Dalam dunia yang sarat dengan berbagai perubahan ini, pendidikan mempunyai makna yang istimewa. Selain pendidikan mengembangkan kemampuan akalbudi, juga menumbuhkan kemampuan memberi penilaian yang cermat atas kehidupan, memperkenalkan harta warisan budaya yang telah dihimpun oleh generasi-generasi masa silam, meningkatkan kesadaran akan tata nilai, menyiapkan siswa untuk menghidupi kejujuran, memupuk persahabatan antara para siswa yang beraneka watak-perangai maupun situasi kondisi hidupnya, serta mengembangkan sikap saling memahami.

Tidak bisa dipungkiri, pendidikan merupakan pusat kegiatan kehidupan. Ada suatu komentar dari seorang ahli pendidikan yang menurut saya baik untuk dikaji dan direnungkan: ”Sekolah untuk hidup. Sekolah bukan sekedar menumpuk piala penghargaan, gedungnya megah, nama sekolah ditambahi dengan plus atau embel-embel internasional. Apalagi kalau sekolah sekedar canggih matematika, fisika serta fasih berbahasa Inggris, Mandarin dll.”

Pendidikan yang hanya mengejar prestasi akan menjadi pendidikan semu. Untuk tidak mengatakan sebuah pengkhianatan terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan akan menghasilkan manusia yang rapuh dan jiwa yang hampa dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata jika pendidikan hanya menciptakan kemampuan intelektual tanpa membangkitkan hati nurani. Pendidikan harus memiliki "semangat" yang mengembangkan nilai-nilai bijak, dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual/ akademik atau Intelegence Quotient (IQ), kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (IQ), dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quetient (SQ).” Masih menurut ahli pendidikan, sejauh saya tangkap dari suatu seminar; bahwa EQ dan SQ sangat berperan dalam menunjang keberhasilan seseorang dalam perjuangan hidupnya. Kearifan untuk mengendalikan emosi justru akan menunjang bekerjanya nalar dan intelektual. EQ akan membangun motivasi, empati, kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, sifat simpatik, solidaritas, dan interaksi sosial yang tinggi. Sementara SQ akan membimbing suara hati yang jernih mengarahkan kita kepada kebijaksanaan: berani menghadapi hidup dengan optimis, kreatif, fleksibel, dan visioner, serta memberikan kekuatan moral, memberikan kepastian jawaban tentang sesuatu yang baik dan yang buruk, serta bertanggung jawab atas hidup dan lingkungannya. Semua itu akan mewujudkan kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang dan ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup.

Semoga anak-anak dan kita semua tidak sekedar sekolah, tetapi sekolah untuk belajar kehidupan (bdk. Amsal 1:1-7).

Dominus Vobiscum.


(Sumber: RD. @d@m SoeN di Buletin Paroki Nuansa Kasih, Minggu 13 Juli 2008)


Friday, July 4, 2008

Just Joke

MILIK KITA

Di rumah pastoran biasanya ada karyawan/ti yang mengurus dapur dan peralatan rumah tangga pastoran. Suatu sore seorang karyawati datang bertemu dan melapor keadaan rumah pastoran kepada Pastor Paroki.
Karyawan : Pastor, rumah Pastor ini sudah banyak yang bocor. Saluran air juga tersumbat
Pastor : Mbak, rumah pastoran ini bukan milik pribadi saya
Karyawan : Kalau bukan milik pastor, sebenarnya rumah ini milik siapa?
Pastor : Rumah ini milik umat, jadi sebut saja milik kita.
Dan panggil saya, Bapa dan jangan panggil pastor.
( hari berikutnya, Pastor sedang terima tamu dan karyawati itu datang melapor lagi ttg keadaan rumah )
karyawati : Bapa, semalam tadi hujan di rumah kita masih bocor lagi. Tempat tidur kita, lemari kita, tempat tidur kita,baju tidur dan kasur kita basah semua.......!
Pastor : .....!!!!!????
Tamu : Apa-apaan ini....Geger.r....r.r !


UTUSAN MASUK SURGA

Lantaran sudah sering melihat orang tuannya tidak ke Gereja, seorang anak mengajak orang tuanya pergi bersama-sama beribadah. Namun kedua orang tuannya selalu punya alasan sibuk. Ayahnya beralasan mau pergi ke laut untuk memancing, sedangkan ibunya sibuk mengurus arisan. Setiap kali mereka punya alasan yang sama. Bahkan ayahnya berkata :
" Nak, engkau sendiri pergi ke gereja untuk menwakili ayah dan ibumu....."
Akhirnya pada suatu hari, dalam sebuah kecelakaan lalu lintas orang tua bersama anaknya itu tewas seketika. Mereka mulai memasuki tahta pengadilan Ilahi. Di hadapan Yesus, Sang Hakim Sorgawi, mereka ditanya, apakah ingin masuk surga? jawab mereka serempak : " Ya... kami ingin masuk surga " Tetapi apa kata Yesus pada orang tua anak itu.... Yesus dengan tegas berkata :
" Selama kamu masih hidup di dunia, kamu selalu mengutus anakmu ini mewakili kamu untuk pergi ke gereja, jadi saat ini pula anakmu mewakili kamu untuk masuk Sorga....!"

(Sumber: kiriman from emili@)

RENDAH HATI??? GITU AJA KOK REPOT!!!

Suatu Realitas Zaman saat ini ….

Rendah hati??? Gitu aja kok repot!!! Suatu ungkapan pendek yang pernah saya dengar. Tetapi entah … saya menjadi terusik dengan kata-kata itu. Ketika kita disibukkan dengan berbagai hal dalam kehidupan kita, “Rendah hati” mungkin adalah sebuah kata yang hampir hilang dari perbendaharaan bahasa sehari-hari. Hampir setiap hari kita mendengar atau menyaksikan berita-berita atau nonton teve betapa para pemimpin kita, para elite politik dan pejabat publik menunjukkan arogansi kekuasaan atau jabatannya. Pertikaian politik di antara para pemimpin juga telah memberi gambaran yang jelas tentang betapa mereka sungguh merasa dirinya paling benar, paling mewakili rakyat, dan paling mengerti persoalan. Demikian halnya dengan para pakar dan pengamat politik, ekonomi dan sosial. Semuanya berlomba-lomba untuk memberikan komentarnya kepada publik dengan merasa diri paling benar dan orang lain paling salah. Kita memang tidak perlu mengatakan bahwa saudara kita itu tinggi hati, sombong, high profile, arogan, selalu ingin dihormati dan diistimewakan, tidak mau mendengar, tidak mau melayani, karena hal itu sama dengan kita juga tidak memiliki kerendahan hati (maaf ...seribu maaf ini hanya suatu pengamatan lho.....sejauh saya lihat di teve dan baca-baca berita. Woww..ha ...ha...siapa tahu sebenarnya kita juga belum rendah hati di lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, dll).

Pernah dalam suatu seminar dan dalam buku dikatakan bahwa kerendahan hati merupakan salah satu indikator dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seorang yang tidak bisa menunjukkan sikap atau karakter rendah hati, berarti belum mencapai kedamaian dengan dirinya. Dari hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick, PhD dan Kate Ludeman, PhD terhadap 800-an manajer perusahaan yang mereka tangani selama 25 tahun, salah satu kesimpulannya adalah bahwa para pemimpin yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan biasanya adalah orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Para pemimpin yang sukses ini ternyata memiliki kecerdasan spiritual yang jauh lebih tinggi dari manusia rata-rata. Mereka justru adalah manusia yang rendah hati.

Berikut ini adalah sejumlah karakteristik atau ciri-ciri dari seseorang yang memiliki sifat rendah hati. Jika kita memiliki salah satu saja dari ciri-ciri ini, berarti kita memiliki kecerdasan spiritual yang lebih baik dibanding kita tidak memilikinya.

Memandang Setiap Individu Unik, Istimewa dan Penting....

Pribadi yang rendah hati biasanya justru memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan memiliki keunikan dan keistimewaan, sehingga dia senantiasa membuat orang lain merasa penting. Karena sesungguhnya setiap pribadi adalah istimewa. Setiap orang adalah spesial, unik, dan berhak untuk dihargai. Manusia adalah pribadi yang harus diperlakukan khusus. Manusia adalah makhluk yang sangat sensitif. Jika kita meragukan hal ini, lihat diri kita sendiri dan perhatikan betapa mudahnya kita merasa disakiti atau tersinggung. Jika apa yang Anda pikirkan mengenai orang lain berubah, maka sikap dan tindakan mereka terhadap Anda juga akan berubah. Karena manusia sangat sensitif satu sama lain dalam banyak hal, kita biasanya sangat peka terhadap apa yang dipikirkan oleh satu sama lainnya. Jika hubungan kita dengan isteri/suami, kekasih, teman, rekan bisnis, rekan kerja atau orang tua kita tidak sebagaimana yang kita harapkan, cobalah lihat lebih jauh ke dalam alam pikiran kita. Apa yang sesungguhnya kita pikirkan saat ini tentang orang tersebut? Orang seperti apa (suami/isteri, kekasih, sahabat, rekan) yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Kita pasti memiliki hal-hal atau gambaran yang negatif atau jelek tentang orang tersebut.

Mau Mendengar dan Menerima Kritik ....

Salah satu ciri kerendahan hati adalah mau mendengar pendapat, saran dan menerima kritik dari orang lain. Sering dikatakan bahwa Tuhan memberi kita dua buah telinga dan satu mulut, yang dimaksudkan agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kadang-kadang hanya dengan mendengarkan saja kita dapat menguatkan orang lain yang sedang dilanda kesedihan atau kesulitan. Dengan hanya mendengar, kita dapat memecahkan sebagian besar masalah yang kita hadapi. Mendengar juga berarti mau membuka diri dan menerima, suatu sifat yang menggambarkan kerelaan untuk menerima kelebihan dan kekurangan orang lain maupun diri kita sendiri.

Demikian halnya dengan kritik, harus senantiasa dipandang sebagai sarana untuk kita belajar dan bertumbuh. Kritik harus kita pandang sebagai bahan baku kita untuk mengembangkan diri, bukan untuk menunjukkan kita salah atau benar. Apapun bentuk dan cara penyampaian kritik harus senantiasa kita pandang positif dalam proses pembelajaran yang berlangsung terus menerus dalam hidup kita. Banyak sekali dari kita yang memandang kritik sebagai hal pribadi, yang menunjukkan kelemahan dan kegagalan kita. Padahal sebaliknya kritik justru menunjukkan kemenangan dan kedewasaan kita dalam menghadapi setiap tantangan dan kesulitan.

Mau Melayani ....

Memang tidak bisa dielakkan manusia lebih cenderung ingin dilayani, diberi hak-hak istimewa, diutamakan dan dihormati. Bahkan menurut Dale Carnegie, salah satu prinsip dasar dalam menangani manusia adalah membuat orang lain merasa penting. Karena pada dasarnya setiap individu ingin merasa dirinya penting, diutamakan dan dihormati. Maka tidak heran kalau ada yang mengatakan ”Kepemimpinan justru sering diartikan dengan jabatan formal, yang justru menuntut untuk mendapat fasilitas dari orang seharusnya dilayani. Bahkan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh-sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani”. Sifat mau melayani dimulai dari dalam diri kita. Mau melayani menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Hal tersebut dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani orang lain. Kembali kita diingatkan bahwa sifat mau melayani berarti memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dilayani. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari orang lain yang membutuhkan pelayanannya.

Menang Tanpa Ngasorake, Ngalah Tapi Ora Kalah ....

Mungkin kita masih ingat Nuansa Kasih edisi Minggu, 15 Juni 2008. Ada peribahasa Jawa yang mengatakan : ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, lan sugih tanpa bondo. Artinya menyerang tanpa pasukan, menang tanpa harus menindas dan kaya tanpa harta. Filosofi yang terkandung di dalamnya menunjukkan kerendahan hati yang sangat dalam. Dalam mengkritik atau memenangkan suatu persaingan kita tidak perlu menunjukkan kehebatan maupun memamerkan apa yang kita miliki, bahkan ketika kita menang sekalipun tidak ada rasa pamer atau kesombongan yang terlihat. Falsafah ini sungguh merupakan gambaran yang sangat jelas tentang arti rendah hati. Sebaliknya, jika kita harus mengalah demi kebaikan ataupun jika kita kalah dalam suatu pertandingan atau persaingan kita tidak boleh merasa gagal atau dikalahkan. Kekalahan atau kegagalan adalah bagian dari proses menuju kesuksesan atau kemenangan. Jangan hanya melihat hasil pada satu dimensi waktu tertentu, tetapi kita harus menikmati proses, karena orang bijak mengatakan ”success is a journey not a destination”.

Berani Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf

Salah satu ciri manusia rendah hati adalah senantiasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan orang lain. Manusia rendah hati adalah manusia yang sangat peduli dengan perasaan orang lain. Bedakan dengan mereka yang senantiasa peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Orang seperti ini bukan rendah hati, tetapi rendah diri atau tidak memiliki rasa percaya diri, sehingga dia selalu khawatir dengan apa yang akan dipikirkan atau dikatakan orang lain tentang dirinya.

Rela Memaafkan .....

Rela memaafkan juga merupakan ciri seseorang yang rendah hati. Bahkan dalam setiap agama dikatakan bahwa kita harus mau mengampuni kesalahan sesama kita, karena Tuhan juga mau mengampuni dosa-dosa kita. Sifat ini justru tidak kita temui dalam keseharian kita. Masih banyak dari kita yang tidak dapat memaafkan orang lain dan senantiasa hidup dalam dendam dan sakit hati. Maka kita diingatkan bahwa dengan tidak rela memaafkan, kita justru membiarkan diri kita digerogoti oleh perasaan dendam dan sakit hati yang menimbulkan berbagai penyakit baik fisik maupun kejiwaan. Rela memaafkan justru lebih ditujukan kepada kepentingan diri kita sendiri, untuk menghindarkan kita dari penyakit dan tekanan dalam kehidupan kita.

Lemah Lembut dan Penuh Pengendalian Diri ....

Ciri yang jelas dari orang yang rendah hati adalah sikapnya yang lemah lembut (gentle) dan penuh pengendalian diri (self control). Kita tidak pernah membiarkan emosi lepas kontrol. Kita tidak menunjukkan kemarahan dengan sikap kasar, kata-kata yang tidak baik, atau melakukan tindakan fisik. Kemarahan atau kekecewaan yang dirasakan senantiasa dapat kita kendalikan sepenuhnya, dalam arti bukan diluapkan (expressed), bukan pula dilupakan, diacuhkan atau ditahan (supressed), tetapi dilepaskan dengan pasrah (released). Sekalipun sulit, tetapi yakinlah kita bisa.

Mengutamakan Kepentingan Yang Lebih Besar ...

Kita diingatkan kembali mengenai orientasi hidup kita. Orientasi hidup kita ternyata tidak hanya untuk kepentingan diri pribadi maupun golongan tetapi justru kepentingan bersama. Seorang yang rendah hati justru senantiasa mengutamakan kepentingan dan nilai yang lebih besar dibandingkan kepentingan pribadi ataupun golongannya. Sedangkan yang sering kita amati, justru para pemimpin, wakil rakyat dan politisi lebih menonjolkan kepentingan pribadi dan golongannya. (atau bisa jadi kita sendiri seperti itu.... ha... ha..tidak boleh sakit hati lho....).

Hari ini kita diundang oleh Sabda Tuhan merenungkan hidup kita. Bagaimana kita berjuang hidup rendah hati di keluarga, lingkungan, tempat kerja, masyarakat, dan dimana aja kita berada sebagai pengikut Kristus. Mari kita renungkan ayat-ayat cantik ini (tidak hanya nomor handphone yang cantik lhooo!! Tetapi Sabda Tuhan juga cantik membimbing hidup kita): I Petrus 5:5: "Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Ulangan 8:2 "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak". Matius 11:29: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan". 1 Timotius 4:12: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu".

Dominus Vobiscum.

(Sumber: RD. @d@m Soen di Buletin Paroki Nuansa Kasih, Minggu 6 Juli 2008)