Friday, January 18, 2008

Uji Kelayakan Lembaga Fatwa

Oleh: Mohamad Guntur Romli

Apa kriteria sebuah lembaga fatwa (dârul iftâ’) agar bisa dipercaya? Dalam kitab Lisan al-Arab karya Ibn Mandzur, fatwa memiliki beberapa makna. Yang terpenting: fatwa berarti penjelasan atas persoalan yang musykil dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan.

Selanjutnya, ulama fikih membangun terminologi fatwa, yang saya sarikan dari pendapat Ibn Hamadan dalam kitab Al-Furuq, bahwa fatwa adalah penjelasan dan pemberitahuan tentang hukum syariat tanpa ikatan kemestian–tabyî n al-hukm al-syar’i wal ikhbar bihi duna ilzâm. Dari terminologi ini, fatwa adalah penjelasan dan pemahaman, maqam-nya bukan maqam syariat, dan perlu batas yang tegas antara fatwa dan hukum syariat.


Yang lebih penting lagi dari penjelasan tentang fatwa tersebut bahwa fatwa dari seseorang atau lembaga tidak mesti diikuti, tak ada keharusan untuk menjalankan sebuah fatwa. Kesimpulan yang bisa ditarik: sifat fatwa tidak mengikat, karena ia hanyalah penjelasan, kadarnya jauh di bawah hukum syariat. Hukum fatwa tidak mutlak sebagaimana hukum syariat.

Jarak antara syariat dan pendapat ini sangat disadari oleh para imam pendiri empat mazhab yang terkenal dalam fikih: Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali. Menurut Imam Hanafi, “Tak seorang pun boleh mengambil pendapat kami, tanpa mengetahui asal-usul pendapat kami.” Imam Maliki berujar, “Aku manusia biasa, bisa benar dan salah, maka telaahlah pendapatku.” Imam Syafi’i menegaskan, “Jika Anda menemukan dalam kitabku yang bertentangan dengan sunah, ikutilah sunah dan tanggalkan pendapatku.” Imam Hanbali menyimpulkan, “Jangan bertaklid padaku atau pada Maliki, Syafi’i, Awza’i, atau Tsauri, ambillah asal-usul pendapat mereka.”

Para “imam-mazhab” itu sangat menyadari keterbatasan ijtihad manusiawi dan adanya batas di antara dua wilayah: syariat dan pendapat, serta iktikad untuk menggerus kerak fanatisme yang acap kali menutupi akal sehat umat.

Fatwa juga tidak bisa menjadi hukum publik. Dikisahkan dalam kitab Siyar A’lâm Nubalâ’(Biografi Para Tokoh yang Mulia), ketika seorang khalifah Bani Abbasiyah meminta Imam Malik menjadikan kitabnya, Al-Muwaththa’ , menjadi hukum negara, dan menggantungkannya di Ka’bah, dengan tegas Imam Malik menolak.

Pun sebuah fatwa harus dikeluarkan dengan penuh hati-hati. Fatwa tak bisa dilontarkan secara amat mudah (al-tasâhul): tak semua pertanyaan dibutuhkan fatwa, tak harus menjawab seluruh pertanyaan gara-gara menjaga gengsi.

Menjawab semua pertanyaan adalah kegilaan. Dari hadis riwayat Al-Baihaqi, “Barang siapa yang menjawab seluruh pertanyaan dari manusia, berarti dia majnun. Singkatnya, mudah berfatwa hanya dilakukan oleh orang gila.”

Dengan demikian, para ulama fikih klasik yang memperbincangkan tema ini tidak memisahkan antara pentingnya fatwa sekaligus risiko dan dampak dari fatwa. Bagi mereka, ulama sebagai ahli waris para nabi (waratsatul anbiyâ’) memiliki posisi yang penting untuk melayani permintaan dan menjawab pertanyaan umat.

Namun, risikonya jauh lebih besar. Dari hadis yang diriwayatkan oleh Al-Darami, misalnya, “Orang yang paling berani berfatwa di antara kalian berarti ia paling berani masuk neraka.” Karena itulah, fatwa hanya berasal dari mereka yang memiliki bekal ilmu pengetahuan yang lebih. Bagi mereka yang berfatwa–dalam beberapa riwayat hadis disebutkan “tanpa ilmu”–diancam hukuman berlapis-lapis: “dilaknat malaikat langit dan bumi”, “didudukkan di atas api neraka”, dan “menanggung dosa dari manusia yang mengikuti fatwanya”.

Namun, yang terjadi saat ini bertolak belakang. Dalam konteks politik, fatwa kekinian yang sering dimunculkan hanyalah doktrin bahwa ulama ahli waris nabi, sedangkan kewajiban dan kriterianya dibenamkan dalam-dalam.

Padahal Nabi Muhammad diakui sebagai nabi karena memiliki kriteria kenabian, yang membedakan dia dengan mereka yang hanya mengaku-ngaku nabi. Secara otomatis, bagi mereka yang ingin dianggap sebagai ahli waris nabi, tentu saja harus memiliki kriteria. Bila tidak, mereka hanya mengaku-ngaku ahli waris nabi.

Percakapan tentang kriteria ulama yang mampu berfatwa inilah yang raib dari percakapan publik. Maka tak mengherankan bila fatwa malah menimbulkan kekacauan. Dalam kondisi ini, perlu ada pembenahan yang harus dilakukan dimulai dari pemerintah. Dalam sepanjang sejarah, sebuah majelis fatwa tak terpisah dari kekuasaan.

Dalam pengantar kitab Al-Majmû’ karya Imam Al-Nawawi, ditegaskan: pemerintah memiliki kewajiban menyeleksi para mufti, bila layak, ditetapkan, bila tidak, mesti diturunkan. Dalam istilah sekarang, seorang mufti harus melewati uji kelayakan. Sayangnya, hal ini tidak terjadi di negeri ini. Dalam kitab ini juga diceritakan bahwa Imam Malik tidak pernah berani berfatwa kecuali setelah ada 70 orang yang memberi kesaksian bahwa ia layak berfatwa.

Semestinya uji kelayakan ini diterapkan pada sebuah lembaga fatwa di mana pun, termasuk di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia perlu melewati uji kelayakan, karena MUI hasil bentukan pemerintah sebagai alat kepentingan Orde Baru, sehingga memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan pemerintah, baik dari sisi sejarah maupun donor dana. Dan uji kelayakan terhadap MUI ini juga bertujuan menjaga martabat dan integritas organisasi itu.

Prediksi ke depan, menurut saya, akan sangat mudah kalau hanya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa fatwa adalah pendapat tentang hukum syariat, bukan syariat itu sendiri. Sifat fatwa tidak mutlak dan tak mesti dituruti, mengingat masyarakat di negeri kita pun sangat mengenal keragaman fatwa. Karena itu, tak layak apabila fatwa dijadikan penghakiman berlebihan terhadap orang lain atau fatwa dipandang dengan penuh fanatik, apalagi dijadikan dalih sebagai kekerasan terhadap pihak lain.

Para penegak hukum di negeri ini semestinya berpegang teguh pada konstitusi negeri ini, bukan pada fatwa-fatwa keagamaan itu, yang sifatnya sama sekali tidak mengikat. Konstitusi kita menjamin kebebasan dan keragaman beragama di negeri ini. Maka jangan pedulikan, bahkan lemparkan jauh-jauh, fatwa yang menolak keragaman itu.

Namun, langkah yang terberat, dan mungkin sebuah misi yang mustahil, melakukan pembenahan dalam organisasi fatwa, terutama menggelar ujian kelayakan bagi para mufti itu. Sebab, ketika fatwa mereka dikritik dan dipertanyakan kelayakannya karena lebih banyak menimbulkan mafsadah daripada maslahah– dengan munculnya kekacauan di mana-mana–mereka akan balik mendamprat, “Kami ahli waris para nabi.”

Sumber: Koran Tempo, Jumat 18 Januari 2008

Monday, January 14, 2008

“Roh jahat pun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya."

“Roh jahat pun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya."

(1Sam 1:9-20; Mrk 1:21b-28)

“Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu menggoncang- goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya , katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea” (Mrk 1:21b-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Maling berteriak maling” (=Pencuri berteriak pencuri), demikian rumor yang sering terjadi di antara para penjahat untuk melindungi diri. Begitulah pada umumnya yang terjadi: para penjahat atau koruptor berusaha pasang kuda-kuda untuk melindungi diri dengan teriakan keras atau gertakan dengan mengandalkan kekekaran tubuh, kuasa atau kedudukannya, sebagaimana diwartakan oleh Injil hari ini. “Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret”, begitulah reaksi cepat dan keras dari roh jahat ketika melihat Yesus. Namun dengan sabdaNya akhirnya roh jat tersebut diusir dan pergi, sabdaNya sungguh kuat kuasa, penuh wibawa. Kita semua kiranya dapat meneladan Yesus, yaitu ketika menghadapi gertak sambal dari para penjahat atau orang jahat di sekitar kita hendaknya tetap tenang, sabar dan rendah hati serta kemudian tanggapilah dengan kata-kata yang bijak dan wibawa, tepat pada sasaran. Jika kita senantiasa bersatu dan bersama dengan Tuhan, kami yakin kita dapat mengalahkan berbagai macam rayuan dan gertakan penjahat di sekitar kita. Kehadiran atau kedatangan orang baik, cerdas beriman di sana-sini pada umumnya menggetarkan para penjahat, orang-orang jahat dan mereka langsung berreaksi keras untuk melindungi diri. Marilah kita senantiasa dalam keadaan baik, cerdas beriman, agar kehadiran dan kedatangan kita di manapun dan kapanpun menjadi kabar baik di mana-mana dan kita dapat mengusir roh-roh jahat yang bercokol dalam diri sesama dan saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup kita. Hadapilah dan sikapilah aneka gertakan sambal dengan lemah-lembut, rendah hati dan kasih, maka ia akan diam dan taat kepada kita. Maka seperti doa dari St.Fransiskus Asisi, marilah kita bawa cintakasih dimana ada kebencian, pengampunan dimana ada penghinaan, kerukunan dimana ada perselisihan, kepastian dimana ada kebimbangan, kebenaran dimana ada kesesatan, harapan dimana ada kecemasan, kegembiraan dimana ada kesedihan dan terang dimana ada kegelapan.

· "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”(1Sam 1:11), demikian doa Hana kepada Tuhan. Doa yang sungguh keluar dari lubuk hati terdalam dengan penuh penyerahan diri itupun akhirnya dikabulkan oleh Tuhan, Hana dianugerahi seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Samuel. “Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN.". Anak yang dianugerahkan oleh Tuhan itupun akhirnya dipersembahkan kembali kepada Tuhan, menjadi hamba Tuhan. Maka bercermin dari pengalaman Hana ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua/suami- isteri, khususnya para ibu/isteri untuk rela sepenuh hati berani mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan. Kita berharap anak-anak kelak kemudian hari tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, syukur di antara anak-anak ada yang terpanggil secara khusus menjadi imam, bruder atau suster. Dan sekiranya anak-anak kita kelak membangun keluarga, kita berharap mereka juga akan menjadi suami-isteri yang sungguh berbakti kepada Tuhan. Marilah kita semua menyadari dan menghayati bahwa masing-masing kita berasal dari Tuhan, diciptakan oleh Tuhan dan harus kembali kepada Tuhan, meninggal dunia dalam Tuhan. Agar kita dapat kembali kepada Tuhan dengan baik, bahagia dan selamat kiranya selama dalam perjalanan hidup di dunia ini kita senantiasa hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, berbuat baik kepada sesama dan saudara –saudari kita.

“TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga” (1Sam 2:6-7)

Jakarta, 15 Januari 2008

ROH JAHAT SAJA DIPERINTAHNYA, DAN MENTAATINYA,

NAMUN MESKI SUDAH DIPERINTAH BERKALI-KALI,

BANYAK NABI, RASUL DAN SAKSI DIKIRIM UNTUK MENGINGATKAN,

PERISTIWA ALAM TERJADI BERTUBI-TUBI,

TETAP SAJA MANUSIA KERAS KEPALA

TAK SUDI MENGAKUI KESALAHANNYA, TETAPI MINTA DIAMPUNI

TETAP MINTA DIPERHATIKAN, MESKI

MENIKMATI PERMAINAN MEDIA MASSA


(Sumber: Kiriman dari Rm. Adi W, SJ)

Baptisan 13 bayi, cincin Paus, Pesta Kana



Hari Minggu 13 Jan kemarin, dalam liturgi ekaristi hari raya Pembaptisan Tuhan, Paus Benediktus XVI membaptis 13 bayi (6 perempuan, 7 lelaki) di Kapel Sistina. Baptisan di Vatikan oleh Paus pada hari raya itu ini mulai mentradisi pada zaman Paus Yohanes Paulus II. Suasana di kapel itu lain dari biasanya. Tempat yang sehari-harian padat dikunjungi turis, atau dipenuhi para kardinal selama konklaf, tiba-tiba berubah jadi seperti gedung gereja paroki di Jawa, penuh dengan keluarga bayi yang mau dibaptiskan, lengkap dengan bapak & ibu permandian. Para bayi baptisan itu ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang tersenyum-senyum, ada yang tertidur nyenyak.

Diberitakan di pelbagai media bahwa di kapel Sistine itu Paus merayakan misa membelakangi umat. Memang demikian. Tetapi bisa pula dikatakan, beliau memimpin umat bersama-sama menghadap altar dan salib. Homilinya menyemangati kaum beriman untuk membina keluarga sebagai wahana untuk memupuk kehidupan sambil menjauhi budaya kekerasan yang merajalela dewasa ini dalam bentuk "jingklak-jingklak kesetanan" yang melawan keberadaban. (Istilah Latin yang dipakai Paus kemarin bunyinya bagai halilintar di telinga kaum beriman abad 3 dulu, yakni "pompa diaboli", jingklak-jingklak (= pompa) si setan (diabolos), istilah yang pernah dipakai Tertullianus ketika mengecam habis-habisan orang beriman yang kecanduan nonton gladiatores saling bunuh dulu.) Tetapi homilinya juga berisi katekese yang mendalam namun sederhana mengenai sakramen baptis dan lambang-lambangnya.

Pada akhir liturgi ini entah kenapa tiba-tiba Paus heran memandang ke sebelah. Ternyata cincin beliau lepas dan jatuh. Liturgos yang yang anggun memakai superpli berenda-renda dan tampak puas dengan jalannya upacara hingga saat itu sertamerta kedodoran mengejar cincin, menangkapnya, lalu munduk-munduk menyampaikannya kembali kepada Paus yang dengan wajar dan kalem mengenakannya kembali. Cincin paus kok lepas justru pada saat itu? Boleh jadi karena tarikan sentrifugal ketika beliau mengayunkan lengan ke bawah sehabis menyentuh altar. Nah, ikuti saja gosip pers mengenai pertanda cincin lepas ini.

Teringat kejadian di Biblicum beberapa tahun lalu yang pernah saya ceritakan dalam konteks lain. Seorang romo Biblicum (sekarang sudah emeritus dan pulang ke provinsinya) , kesukaaannya ialah mencium cincin para prelat. Satu ketika ada uskup datang dan cincinya dicium keras-keras oleh romo itu sampai copot akiknya dan terkulum, untung tak tertelan. Memang dudukan akik itu sudah rada ogak agik karena katanya cincin itu pernah jatuh. Tapi uskup ybs. penuh humor dan bilang ini pertanda baik bakal ganti cincin. Benar juga, tahun berikutnya beliau jadi Kardinal dan cincinnya lain, lebih lebar dan tak pakai akik. Jadi bisa dicium tanpa kawatir tesisil permatanya. Satu hari beliau datang lagi ke Biblicum dan kali ini juga cincin kardinalatnya dicium keras-keras oleh sang romo yang berkelekatan tak teratur yang belum bisa lepasbebas itu. Saya khawatir jangan-jangan kali ini jari bapak Kardinal ybs. prothol terhisap cium dan kami disuruh nempuhi. Untung semuanya berjalan baik-baik dan Kardinal ybs. malah memberkati romo tadi dan seisi rumah lalu menyemangati kami agar baik-baik menjaga keutuhan akademik Biblicum dan setia dengan gereja, dst. Kami lega karena jari dan cincinnya masih utuh.

Tentang cincin juga ada pengalaman pribadi. Di Hongkong empat tahun lalu saya tergiur beli cincin batu giok hijau yang katanya bisa bikin ayem dan kurugan rezeki, dst. Tetapi ketika pakai cincin itu saya beberapa kali diprimpeni Sun Wukong, yakni kera sakti yang mau mengajak saya ikut berkelana bersama rahib Sanzhang ke India lewat gurun Gobi mencari kitab-kitab ilmu prana diiringi mahluk-mahluk aneh lain. Syaratnya saya dijadikan seekor kutu di bulu-bulu Sun Wukong yang sik-sikan sepanjang jalan. Pergi ke India lewat Kunlun memang keinginan saya, tapi jadi kutu ngisap darah kera lain perkara. Sejak itu saya kapok cincin-cincinan. Sudah saya ikhlaskan batu giok tadi dan buang ke laut, biar ditelan naga.

Kemarin pulang dari Vatikan saya lewat gedung parlemen dekat sini (Palazzo Monteciterio) . Ternyata gedung itu tiap Minggu pertama dalam bulan boleh dikunjungi umum. Lalu saya ikut masuk rombongan yang dipandu staf gedung itu.. Hebat juga, dulu gedung itu mulai dibangun oleh arsitek Bernini atas suruhan Paus Innocentius X dan baru selesai dalam masa Paus selanjutnya dan oleh arsitek lain yaitu Carlo Fontana. Sejak selesai menjelang akhir abad 17 hingga tahun 1870 gedung Monteciterio itu dipakai untuk menerima kunjungan resmi kepada Paus dan pelbagai urusan administrasi kepausan lainnya. Banyak karya seni mengisi gedung itu. Dalam salah satu ruang ("ruang kuning") ada lukisan besar, kira-kira 5 x 7 meter, yang menggambarkan adegan pesta di Kana yang dilukis oleh kakak beradik Paolo dan Benedetto Veronese. Di sana Yesus duduk di tengah, di kelilingi tetamu, dan tentu saja Ibu Maria. Busana orang-orang dalam lukisan itu mencerminkan mode abad 16. Yang menarik, duduk di hadapan Yesus seorang suster. Ia membelangi kami, tetapi menoleh ke belakang, ke kami yang di luar lukisan, dengan pandangan dingin tajam berwibawa khas suster superior yang amat disegani. Kiranya dulu lukisan itu ada di sebuah biara susteran yang superiornya lazimnya dari kalangan bangsawan tinggi. Jelas lukisan itu pesanan suster superior yang dilukis di situ. Ini bukan kebiasaan langka pada zaman itu.


Salam,
Gianto

(Sumber: kiriman dari Mbah Adi W)

Sunday, January 13, 2008

Ideologi Islam Transnasional sukses, Indonesia berubah total


Top of Form

Bottom of Form

Keberadaan ideologi transnasional belakangan ini menjadi perbincangan yang cukup mengemuka, khususnya di kalangan umat Islam akibat gerakan-gerakan yang mereka lakukan dan kaum nasionalis yang merasa terancam akan kelangsungan NKRI terkait dengan upaya formalisasi syariah di Indonesia.

Sebenarnya apa dan bagaimanakah ideologi transnasional ini. Bagaimana sejarah dan apa akibatnya jika ideologi ini terus berkembang di Indonesia, berikut ini pandangan Dr. KH Ghozalie Said, penulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir," dengan NU Online saat berkunjung di kantor PBNU pertengahan Juni lalu.

Islam transnasional ini sebenarnya apa?

Saya memang menulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir," itu istilah. Tapi akhir-akhir ini, ini sebetulnya istilah badan intelejen dan rupanya berdasarkan laporan-laporan anggota BIN, yang dimaksud adalah gerakan Islam yang berada di tanah air tapi yang mengendalikan dari luar, misalnya Ikhwanul Muslimin, suatu contoh, ini pengendali utamanya dari Mesir. Jadi kedudukan al Mursyidul Aam di Mesir.

Kemudian menuju ke Indonesia dalam sejarah penjangnya menjadi dua faksi. Faksi pertama faksi resmi, namanya ikhwan juga. Di masing-masing negara lain, namanya lain-lain. Di Sudan namanya Jamaah Islamiyah, menjadi partai politik karena menerima negera demokrasi dan menerima negara nasional, tetapi penerimaan ini sebagai sarana membentuk pemerintahan Islam dengan syariah. Namanya macem-macem, di Aljazair menjadi FIS, di Syiria dulu ada partai sendiri, di Palestina menjadi Hamas dan kemudian di Indonesia menjadi PKS. Ini jalur resmi dan musryidul amnya ada di Mesir.

Kemudian ada faksi jihad, istilah BIN-nya itu Hudaibiyah. Yang saya tahu itu Hadibi karena musryid aamnya yang kedua itu Hassan Hadibi. Nah ketika Hassan Hadibi menjadi mursyid aam, ada faksi tandimul khosnya, walaupun sudah ada sejak zaman Hassan al Banna, tetapi lebih radikal ketika tokoh tandimul khosnya itu dipegang oleh Sayyid Qutb. Tandimul khos itu kalau bahasa NU-nya Banser, para militer. Kalau Bansernya sini kan tidak punya senjata, disana punya senjata.

Doktrinnya itu dari Sayyid Qutb. Bukunya yang sangat terkenal itu Maali fit Thorieq atau Pelita Jalan yang menyatakan diantaranya, suatu negara yang tidak memberlakukan syariah, berarti negera itu jahiliyah. Maka musuh utamanya adalah pemimpin negera itu. Sebelum memusuhi Israel, memusuhi negaranya sendiri saja. Kedua, negara yang tidak memberlakukan syariat Islam ya negara jahiliyah, karena negara jahiliyah, fikih menjadi tidak penting. Itu nanti berbeda dengan Wahbah Zuhaili, yang waktu itu masih muda.

Faksinya Sayyid Qutb ini membentuk Islam radikal yang non negara, non resmi dan keras yang melahirkan di Mesir Jamaah Islamiyah, Al Jamaat al Islamiyyah. Itu anti negara, ini juga trans ke seluruh negara yang kemudian ketemu, ketika Soviet menduduki Afganistan, dibantu oleh kaum Salafy Saudi, yang tokohnya Osama bin Laden, ketemulah faksi ikhwan dengan faksi yang Wahabi, di Afganistan. Dari Afganistan, ada yang mengirim kelompok-kelompok sukarelawan dari Indonesia, ada Amrozi, masih anak-anak ketika disana, tapi sudah latihan perang. Akhirnya Jamaah Islamiyah yang muncul disana itu. Ini yang suka ngebom-ngebom.

Kalau faksi yang resmi itu ya ikhwan yang menganggap sebagai haraqah ustadziyah atau gerakan guru. Guru gerakan Islamiyah, jadi harus ditiru. Lha ketemu juga dengan kelompok lain yang mungkin non ikhwan sama-sama anti negera.

Gerakan model kedua dulu juga ikhwan yaitu Hizbut Tahrir (HT). Dulu Syeikh Taqiyuddin an Nabhani bergabung dengan ikhwan ketika perang melawan Israel tahun 1948. Karena kalah, kemudian ia mendirikan sendiri gerakan Islam karena setelah dievaluasi tidak memiliki khilafah Islamiyah sehingga membuat umat Islam kalah. Maka ia mendirikan ini. Dan ini pengendalinya juga dari Yordania. Baik Ikhwanul Muslimin di Mesir dilarang, HT di Yordania juga dilarang. Di tiga negara kan, di Lebanon, Syiria dan Jordania kan dilarang. Itu dirahasiakan, pemimpin sekarang namanya Abu Rosta. Di Indonesia itu kan nggak pernah muncul itu ketua HTI itu namanya Habib Abdurarahman, yang muncul kan Ismail Yusanto, itu sebenarnya kan krucuknya sebetulnya. Terus di Surabaya ada dokter Usman. Pokoknya Jubirnya. Nah, HT ini ciri khasnya itu taat pada kebijakan internasional ini, itu tidak mau menerima negera. Jadi dia tidak akan mau menjadi partai politik, tidak akan mau karena negara itu sistem yang kufur, demokrasi itu sistem yang kufur.

Konsekuensinya, ia bisa mentaksir pada orang lain, walaupun disembunyikan. Karena sudah kufur, berarti ini ini ini. Ada tahapan-tahapannya. Ini yang HT. Kemudian, ada gerakan nasional juga, transnasional juga tapi dikendalikan juga, ada Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di Jepang, di Inggris dan lainnya, tapi itu semuanya bangsa Indonesia. Di Amerika ada, di Australia ada, semuanya Indonesia. Itu bedanya. Konflik itu timbul ketika gerakan transnasional ini menggerogoti asset-aset milik NU atau Muhammadiyah atau organisasi lainnya.

Kayak NU atau Muhammadiyah kan ikut ambil bagian dalam mendirikan negera ini. Jadi antara Islam dan nasionalisme orang Indonesia yang menjadi the founding father adalah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Seperti orang Melayu pasti Islam, Islam adalah orang Melayu, sudah menyatu seperti itulah, otomatis merekalah yang membuat budaya, diantaranya budaya masjid, tradisinya, yang sudah terbentuk karena sudah lama. Nah gerakan-gerakan baru ini kan belum punya tradisi, nah paling cepat ngambilin masjid yang tak terawat, mereka masuk. Tapi saya kira kita ambil manfaatnya saja. Kalau tidak gitu, NU kan tidur terus. Menurut saya begitu. Memang programnya masjid-masjid di tingkat kabupaten akan dikuasai, terutama HTI. Kalau Ikhwanul Muslimin, kalau partai politiknya jadi PKS yang berasal dari usroh, tarbiyah Islamiyah itu di kampus-kampus itu yang digerogoti kan Muhammadiyah karena banyak kader Muhammdiyah- nya. Tapi banyak juga yang membuat masjid. Tapi kalau HTI tidak, nggak buat masjid, kalau PKS membuat masjid yang memang disediakan untuk kegiatan mereka.

HTI kan juga berusaha masuk ke pesantren-pesantren ?

Oh ya, mereka aktif, jam lima pagi itu sudah datang ke mana-mana dan mereka umumnya tidak faham, hanya didoktrin saja, khilafah Islamiyah, wong saya diparani tak bilangin, kapan sih khilafah Islamiyah ini berdiri. Kan Syeikh Taqiuddin an Nabhani kan bilang 30 tahun, mulai tahun 1952. Sekarang kan sudah 50 tahun lebih, mana yang ada khalifahnya. Saya kira itu romantisme masa silam, bukan masa depan. Kalau NU Muhammadiyah kan masa depan, mereka kan ingin kembali ke masa silam.

Ketika gerakan-gerakan ini pemimpin pusatnya berada di luar negeri, apakah ini akan mengancam integritas Indonesia?

Saya kira kalau ini sukses, ya otomatis diubah negara ini, menjadi negera Islam, otomatis tidak negera kesatuan, tidak UUD 1945, mesti diubah karena memang sudah begitu programnya. Saya kira pemerintah itu mestinya jelas ada kebijakan, tidak dibiarkan begitu saja. Atau memang disengaja oleh pemerintah disamping ada gerakan Islam, ada gerakan kiri sebagai pengimbang. Katanya pada 27 Juni ini ada Kongres Khilafah di Senayan. Dan bukan main mereka, suplai dananya, disamping dari anggota disini, itu dari orang-orang kaya Saudi. Itu kan kelompok ahlusunnah yang seperti itu, ahlusunnah sendiri kan macem-macem. Lain pula yang syiah. Ada dua syiah di Indonesia, ada Ijabi, itu moderat, plural, ada pula Elkap, koordinasi ahlul bait pokoknya, ya itu yang agak fundamentalis.

Kalau dilihat dari aspek ajaran, itu sebenarnya ada ajaran yang signifikan tidak, atau sekedar ideologi politiknya?

Sebenarnya kalau dalam bidang peribadatan, hampir rata, Wahabi semua. Mereka tidak seneng tahlil, paling moderat, tidak anti tetapi tidak melaksanakan. Lha yang paling ekstrim itu anti, itu di bidang tradisi keagamaan. Tradisi pemahaman politiknya adalah hadist nabi "man maata, walaisa biunukhihi baiah mata mitaatan jahiliyyah" barangsiapa yang meninggal dan tidak pernah berbaiat khalifah, maka ia mati jahiliyyah, dianggap mati kafir. Ini kan berat secara teologis. Kita ini dianggap tidak Islam lagi karena tidak ikut faham mereka. Itu hampir sama.

Jadi kalau Ikhwanul Muslimin, wama la yahkum bima anzalallah, faulaaika humul kaafiruun. Itu dalilnya dan saya lihat khutbah-khutbahnya begitu, saya denger begitu. ya otomatis berbeda dengan NU. Lha NU itu harus membuat cara berfikir tandingan yang mengimbangi cara fikir.
Ini harus diputuskan dalam forum tertinggi. Jadi kalau di HTI itu ada namanya taqwim assaqsayah islamiyyah atau pembentukan kepribadian Islam, itu perlu perbedaan. Kalau di HTI itu bagaimana mengamalkan syariah, tapi yang tak ada tahlilannya, kan beda dengan NU. Kemudian kedua, tafkih, intelektualitasi, beda itu. Kalau NU kan tak suka berdebat, kalau mereka, masalah harus diperdebatkan, namanya syiroul fikr atau pertarungan pemikiran. Kedua itu ada taamul maklumah atau gerakan sosial. Jadi ada dua tangga, satu namanya syiraul fikr. Kedua taamul maklumah, dan yang terakhir istilamul hukm atau merebut kekuasaan. Lha di NU supaya begitu gimana, kan jelas. Makanya harus ada fikrah nahdliyyah harus jelas apa yang harus dituju.

Mereka berhasil menarik kalangan muda dan intelektual kampus sehingga dalam pemilu berhasil menarik suara yang cukup besar, apa yang menjadi kunci keberhasilannya?

Karena kecenderungan masyarakat sekarang cenderung berfikir istidlali. Itulah yang paling benar, berfikir normatif, dari Qur'an, Hadist, kalau nga ada ya salah lah. Lha ini paling gampang, sementara kelompok lain terbiasa cara berfikir istiqroi. Ini sebenarnya applied, eksperimen. Lha cara berfikir seperti ini lamban, butuh intelektualitas yang tinggi, sedangkan yang satunya tidak butuh. Lho ngga ada di Qur'an, bid'ah, lha gitu kan gampang. Tapi kalau ini kan butuh penalaran yang dalam.

Sebab kedua, orang Islam yang lama itu kayak NU dan Muhammadiyah cenderung korup menurut saya, sudah menikmati singgasananya, nggak bisa melakukan mobilisasi ekonomi yang baik. NU kan sudah berumur 80 tahun lebih, tapi kan kalau lihat proposalnya, 90 persen kan permohonan bantuan. Lha kok begini, melihat pemimpinnya kok tengkar, korup, lha otomatis ini kan tidak menarik bagi kalangan muda, tidak ideal.

Sebab ketiga, konstitusi kita itu dianggap dalam perjalanannya tidak pernah stabil, tergantung yang mimpin.
Waktu dipimpin Soekarno, ya presiden seumur hidup. Setelah Soeharto ya P4. Reformasi ya ganti lagi, kan ruwet ini, ganti lagi. Nah ini menimbulkan kekecewaan pada generasi muda, apa tidak lebih baik Islam sebagai solusi. Dimana-mana ya begitu kampanyenya, disamping tekanan internasional seperti Islam selalau dirugikan yang memunculkan perlawanan.

Ke depan bagaimana? Apa bisa berkembang semakin besar, stagnan atau malah mengalami penyusutan?



Tergantung pada sparing partnernya. Kalau NU masih seperti sekarang dan tidak ada peningkatan, baik dari sisi kegiatan, pengaturan organisasi, mereka akan berkembang. Tetapi kalau ada semangat melakukan perbaikan ke dalam, pemimpinnya menjadi bersih, saya kira tidak bisa itu.
Tapi kita lihat saja karena programnya ini, tahun 2009, yang partai politik targetnya merebut RI 2, tahun 2014 RI 1. Kita lihat dan ini test casenya pemilu DKI. Kemarin di Banten kalah pemimpinnya, sekarang DKI bagaimana, kalau menang ya tambah dekat. Harus siap-siap konstitusi ini diganti. Saya kira itu.

Disitu bedanya, karena NU dan Muhammadiyah sebagai founding fathers yang ikut meletakkan Pancasila. Artinya ada suasana keterikatan secara kebatinan dalam kontinyuitas negera. Jadi history continuity. Kita punya beban moral. Tapi kalau istilahnya Anis Matta ketika kampanye waktu saya datang "Kami akan datang sebagai partai yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang pendahulu kita" dia menyitir sebuah syair. Jadi kalau PKB kan masih terbayang- bayang kebesaran NU, PAN masih terbayang-bayang kebesaran orang Muhammadiyah. Kalau PKS datang tanpa bayang-bayang orang tua. "Kami orang muda dan tak mengatakan siapa pendahulu kita. Pendahulu kita adalah kita sendiri." He he he.... (mkf)


Sumber: NU ONLINE - 02/07/2007

Friday, January 11, 2008

"You say/God says."

 
You say, "It's impossible."
God says, "What's impossible for human beings is possible for me." (Luke 18: 27)

You say, "I'm too tired."
God says, "I will give you rest." (Matthew 11: 28)

You say, "I can't do it."
God says, "You can do all things through Christ."
(Philippians 4: 13)

You say, "I'm always worried and frustrated."
God says, "Cast all your cares on me." (1 Peter 5: 7)

You say, "I feel all alone."
God says, "I will never forsake you or abandon you." (Hebrews 13: 5)

You say, "I'm not smart enough."
God says, "I . . . shall give you a wisdom in speaking that all your adversaries will be powerless to resist
or refute." (Luke 21: 15)

You say, "I'm afraid."
God says, "I have not given you a spirit of cowardice, but rather a spirit of power and love and
self-control." (2 Timothy 1: 7)

You say, "I can't figure things out."
God says, "I will direct your steps if you trust me." (Proverbs 3: 5-6)

You say, "I can't go on."
God says, "My grace is sufficient for you." (2 Corinthians 12: 9)

You say, "Nobody loves me."
God says, "I have loved you with an everlasting love." (Jeremiah 31: 3)

You say, "I don't have enough faith."
God says, "If you have faith the size of a mustard seed you can move mountains." (Matthew 17: 20)

You say, "I can't be forgiven."
God says, "Though your sins be like scarlet, they may become white as snow; though they be crimson red, they
may become white as wool." (Isaiah 1: 18)

And finally:

You say, "Nothing good can possibly come out of my trials and sufferings and mistakes."
God says, "If you truly love me, everything in your life will work together for good, and that includes
your trials, sufferings and mistakes." (Romans 8: 28)

To accent the importance of his message, Jesus often ended his sermons by saying, "Whoever has ears ought
to hear." (Cf. Matthew 13: 9)
Today I end my homily with similar words: "Whoever has problems (and who

doesn't?!) ought to read the Bible every day, to find out what God says."

*** k2, tks fr ur meditation ye..***

10 KUALITAS PRIBADI

1. Ketulusan

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang.
Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.

Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak".
Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Rendah Hati

Beda dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Bersikap Positif

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Keceriaan

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Bertanggung Jawab

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan.

Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Kepercayaan Diri

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Easy Going

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. Empaty

Empati adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

(kIRIMan dari Virly)

LaGU AnAK-AnaK (HuMor)

Buat yang sudah pernah baca cerita di bawah, silakan baca lagi ya..
Gpp kan, 'share' lagi ke teman2..

** BALONKU ADA 5 .... **
"Balonku ada 5... rupa-rupa warnanya... merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru... meletus balon hijau, dorrrr!!!"
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !

** AKU SEORANG KAPITAN ... **
"Aku seorang kapiten... mempunyai pedang panjang...kalo berjalan prok..prok.. prok... aku seorang kapiten!"
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi). Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : "mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)... kalo berjalan prok..prok.. prok.." nah, itu baru klop !
jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : "mempunyai pedang panjang... kalo ber-jalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek.." itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!

** BANGUN TIDUR .. **
"Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku.."
Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang !


** NAIK-NAIK KE PUNCAK GUNUNG... ***
"Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali..
kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X"
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2 !

** NAIK KERETA API... ***
"Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung.. Sby.. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama"
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!

** DI PUCUK POHON CEMPAKA ... ***
"Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li.."
Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!

** POK AME-AME.... ***
"Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu.."
Ini jelas lagu dewasa dan bukan untuk konsumsi anak2 !
karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!

HANYA WAKTU....


Para saudara sudah lama saya dapat kiriman sharing dari seorang Sahabat. Sharing itu mungkin tidak terlalu intelektual, tetapi toh punya rasa dan makna. Mari coba kita simak, baca pelan-pelan dan renungkan. Masihkah aku punya rasa dan makna? Ketika kesibukkan bertubi-tubi tiada henti? Ketika pekerjaan memperbudak kita? Ketika persoalan hidup menggunung? Ketika wajah-wajah kusut menghampiri kehidupan kita? Ketika....ketika... ....???

Seperti biasa Richard, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Chyntia, putri pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur?" sapa Richard sambil mencium anaknya. Biasanya, Chyntia memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Chyntia menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"Ah, enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,- Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?" Chyntia berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Richard beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Chyntia berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Richard. Tetapi Chyntia tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Chyntia kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek.Dan mau mandi dulu. Tidurlah." "Tapi, Ayah..."
Kesabaran Richard habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Chyntia. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Richard nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Chyntia di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Chyntia didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Richard berkata,"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Chyntia. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5000,- lebih dari itu pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Richard lembut.
"Aku menunggu Ayah sampai pulang. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah," kata Chyntia polos.
Richard terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat...

Apa yang bisa kita renungkan?
Para saudara mengalami perjumpaan yang berasa dan bermakna dengan orang yang kita cintai membutuhkan waktu. Orang majus dari Timur telah meluangkan waktu untuk seseorang yang dicintai yakni Yesus. Mereka butuh waktu untuk mencari dan menemukannya. Dan mereka tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan khusus berjumpa Yesus. Setelah mereka menemukan orang yang dicintainya, mereka mempersembahkan apa yang mereka miliki.

Apakah kita juga sudah mau mempersembahkan hidup dan waktu kita tatkala menemukan atau bahkan mengalami kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai? Sudahkah kita memberikan waktu secara istimewa kepada orang-orang yang kita cintai (orang tua, anak-anak, sanak-kerabat, sahabat, dll.)? Wow apalagi yang ini “ketika kita menemukan Yesus sebagai penyelamat, sumber kedamaian, sumber terang”. Sudahkah kita juga meluangkan waktu untuk Dia?

“Tuhan Yesus jadikanlah aku menjadi orang yang berani memberi kesempatan dan waktu untuk Dikau dan orang-orang yang aku cintai dalam hidupku. Jangan biarkan kesibukkan-kesibukkan memperbudak aku, jangan biarkan persoalan-persoalan hidup membutakan aku, jangan biarkan pula aku menjauhkan orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupanku. Yesus, aku menyayangiMu. Yesus, aku menyayangi orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupanku. AMIN”

Blimbing, Jan 2007

@d@M SoEN, Pr.

PERATURAN BERSAMA MENTERI AGAMA DAN MENTERI DALAM NEGERI


Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri tentang Pedoman Pelaksanaan tugas Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat sudah ditanda tangani dan berlaku mulai tanggal 21 Maret 2006.

Bagaimana Gereja Katolik menyikapinya?
Bagi Gereja Katolik dengan berlakunya Peraturan Bersama Menteri (PBM) sebagai pengganti SKB Dua Menteri 1969, bagaimanapun juga menerima dan menanggapi secara positif. Akan tetapi, Gereja Katolik juga harus cermat melihat situasi daerah masing-masing, bahwa ada konsekuensi peluang dan tantangan. Gereja Katolik (Umat Katolik) tidak boleh tinggal diam begitu saja dengan keadaan masyarakat dan pemerintahan setempat. Selama ini, Gereja Katolik memang sudah berusaha dalam kebersamaan hidup kemasyarakatan dan birokrasi, tetapi sering-kali yang terjadi macet di birokrasi pemerintahan. Secara hukum dengan hadirnya PBM, Gereja Katolik mempunyai kesempatan untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dengan enak, tenang, dan damai; apabila pemerintah mau konsisten dengan peraturan yang berlaku. Maka, Gereja Katolik perlu mengkritisi juga Perda-perda (Peraturan Daerah) Kota/ Kabupaten yang tidak seiring dengan Peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri yang berlaku saat ini.

Peluang dan tantangan
Peraturan bersama Menteri ini mengandung konsekuensi bagi Gereja Katolik (Umat Katolik) bebas untuk menjalankan agama dan kepercayaannya; termasuk juga perijinan sarana tempat ibadat. Hal ini merupakan peluang, bahwa Umat Katolik yang sudah lama mendambakan tempat ibadat sesuai dengan kebutuhan bisa diusahakan secara hukum. Baiklah kalau dalam segala urusan mengikuti prosedur yang berlaku tanpa mengesampingkan dengan kehidupan kemasyarakatan dan pemerintahan setempat sebagai suatu lembaga yang berkewajiban sebagai mitra kerjasama untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Disisi lain, hadirnya PBM baru ini Umat Katolik dihadapkan pada tantangan dipanggil untuk mau ramah dengan lingkungan masyarakat sekitar dan pemerintahan setempat. Sekalipun dari berbagai pengalaman paroki-paroki di Keuskupan Malang sudah banyak yang peduli, ramah dan kerjasama baik dengan lingkungan masyarakat dan pemerintahan. Akan tetapi alangkah baiknya, apabila sebanyak mungkin umat yang peduli dan ramah dengan lingkungan masyarakat setempat. Suatu hal yang positif bahwa paroki-paroki telah memiliki kelompok-kelompok atau perorangan yang membangun untuk hidup dalam kebersamaan dengan masyarakat lintas batas. Jaman sekarang sudah saatnya, Umat Katolik tidak merasa lagi sebagai kelompok yang minoritas dan eksklusif, tetapi menjadikan gereja yang inklusif memasyarakat dengan nilai-nilai persaudaraan sejati dan kebersamaan. Hal ini sepertinya akan menjadi ”secercah terang” dan ”rasa garam” yang akan semakin dirasakan dan dialami masyarakat dimanapun Umat Katolik hadir dan ikut terlibat. Dengan demikian, apa yang menjadi visi-misi Keuskupan Malang hidup memasyarakat menjadi suatu keharusan.

Apa yang bisa dibuat di Paroki-paroki, Dekenat, Regio, Keuskupan?
Pertama, bagaimanapun juga dari pihak Umat Katolik tingkat Paroki, Dekenat, Regio, Keuskupan harus ikut serta mengawasi gerakan peduli hukum bagaimana komitmen pemerintah setempat menjalankan PBM sesuai dengan hukum yang berlaku.
Kedua, banyak hal bisa dilakukan di Paroki, Dekenat, Regio, Keuskupan berkaitan dengan hidup beriman, berbangsa dan bernegara yang membumi (tidak hanya sekedar wacana, tetapi ada aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari dilandasi persaudaraan sejati dan kebersamaan lintas batas). Salah satunya ialah memberdayakan Komisi HAK Keuskupan dan Seksi HAK Paroki dalam jaringan kebersamaan antar Paroki, Dekenat, Regio dengan Masyarakat dan Pemerintahan setempat. Selain itu, perlu membangun dan memberdayakan kelompok-kelompok atau perorangan yang punya kepedulian dengan kebersamaan Lintas Agama dan kepercayaan di tingkat paroki, dekenat dan regio. Dari pengalaman paroki-paroki di Keuskupan Malang sudah ada kelompok-kelompok atau perorangan membangun kerjasama dalam kebersamaan Lintas Agama dan Kepercayaan. Misalnya: FDK (Forum Diskusi Kebangsaan), FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), PLB (Paguyuban Lintas Batas), PAUB (Perempuan Antar Umat Beragama), GPAUB (Gerakan Pemuda Antar Umat Beragama), KDLB (Kelompok Diskusi Lintas Batas), KLA (Komite Lintas Agama), ALA (Anjangsana Lintas Agama), dsb. Rasanya akan menjadi sangat baik, apabila semakin banyak umat yang ikut terlibat dalam kelompok-kelompok tersebut atau dalam aksi-aksi sosial kemanusiaan Lintas Agama dan Kepercayaan.

Rm. Ign. Adam Suncoko, Pr.
Ketua Komisi HAK Keuskupan Malang

Ramalan Simbah Joyoboyo


Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Tanah Jawa kalungan wesi.
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Kali ilang kedhunge.
Pasar ilang kumandhang
Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak
Bumi saya suwe saya mengkeret

Sekilan bumi dipajeki
Jaran doyan mangan sambel
Wong wadon nganggo pakaian lanang
Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman
Akeh janji ora ditetepi
Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe

Manungsa pada seneng nyalah
Ora ngindahake hukum Allah
Barang jahat diangkat-angkat
Barang suci dibenci
Akeh manungsa mung ngutamake duwit
Lali kamanungsan
Lali kabecikan
Lali sanak lali kadang

Akeh Bapa lali anak
Akeh anak wani nglawan ibu
Nantang bapa
Sedulur pada cidra
Kulawarga pada curiga
Kanca dadi mungsuh
Akeh manungsa lali asale
Ukuman Ratu ora adil
Akeh pangkat sing jahat lan ganjil
Akeh kelakuan sing ganjil

Wong apik-apik pada kepencil
Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin
Luwih utama ngapusi
Wegah nyambut gawe
Kepingin urip mewah
Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka
Wong bener thenger-thenger
Wong salah bungah
Wong apik ditampik-tampik
Wong jahat munggah pangkat

-----------------------------
Terjemahan ke bahasa inggris :
-----------------------------

One day there will be a cart without a horse
The island of Java will be circled by an iron necklace
There will be a boat flying in the sky
They will ignore God's law
The river will loose its current
There will be markets without crowds
These are the signs that the Jayabaya era is coming.
The earth will shrink
Every inch of land will be taxed

Horses will devour chili sauce
Women will dress in men's clothes
These are the signs that the people and their civilization
...... have been turned upside down
Many promises unkept
Many break their oath
People will tend to blame on each other
They will ignore God's law
Evil things will be lifted up
Holy things will be despised
Many people will become fixated on money

Ignoring humanity
Forgetting kindness
Abandoning their families
Fathers will abandon their children
Children will be disrespectful to their mothers
And battle against their fathers
Siblings will collide violently
Family members will become suspicious of each other
Friends become enemies
People will forget their roots
The queen's judgements will be unjust
There will be many peculiar and evil leaders

Many will behave strangely
Good people will be isolated
Many people will be too embarrassed to do the right thing
Choosing falsehood instead
Many will be lazy to work
Seduced by luxury
They will take the easy path of crime and deceit
The honest will be confused
The dishonest will be joyful
The good will be rejected